Awal untuk Segala Pelayanan seharusnya…

Sebagai orang Kristen, kita pasti sudah sangat sering mendengar tentang Hukum yang Terutama. Ya… hukum yang terutama dan yang pertama adalah ini:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Markus 12:30)

Pertanyaannya, bagaimanakah kita bisa mengasihi Tuhan? Bagaimana bisa manusia berdosa memenuhi permintaan Allah yang kudus. Bagaimana mungkin kita mempersembahkan kasih kepada-Nya sedangkan kasih kita itu seperti bau busuk di hadapan-Nya (baca Yesaya 1:10-20)?

Oke, saya sadar bahwa apa yang akan saya eksposisikan berikut ini tidaklah mutlak benar secara menyeluruh. Saya hanya mencoba memetik sepenggal realita, dari satu sudut pandang, dan mencoba membagikannya. Namun, sangat besar harapan saya, bahwa dari sepenggal realita dan sudut pandang yang sempit ini, dapat membuka pemikiran kita lebar-lebar.

Sudut pandang yang saya maksud adalah bagaimana kita belajar dari sepenggal kehidupan kedua murid Yesus, yakni Petrus dan Yohanes. Kedua rasul inilah yang dianggap sebagai dua rasul yang paling populer di antara kedua belas murid Yesus yang lain. Petrus sebagai “mesin penginjilan” kepada bangsa Yahudi sedangkan Yohanes sebagai penatua jemaat yang juga dilayakkan untuk menerima Wahyu tentang akhir zaman. Melalui sebagian kecil dari kehidupan 2 rasul ini, kita bisa mengetahui apa rahasia mengasihi Tuhan.

Pertama, mari kita melihat Petrus. Dari keempat Injil, kita dapat melihat bahwa Petrus adalah seorang murid yang energik, bersemangat, sangat ingin tahu, dan terkadang ceplas-ceplos. Inilah sepenggal ayat yang mencerminkan “kasih” Petrus…

Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” (Matius 26:33) –> peristiwa perjamuan akhir

Berikutnya, mari kita melihat rasul Yohanes. Bagaimanakah kepribadian dari Yohanes? Teman-teman pasti pernah menemukan frase “murid yang dikasihi” di Alkitab, dan jika teman-teman menyelidiki dengan lebih teliti, maka teman-teman akan sadar bahwa frase itu hanya dapat ditemukan di kitab Injil Yohanes. Ya, Yohanes menyebut dirinya sendiri sebagai murid yang dikasihi Yesus.

Beberapa penafsir mengganggap bahwa Yohaneslah rasul yang paling Yesus kasihi. Tapi yang saya yakini adalah Yesus mengasihi semua rasul, bahkan seluruh isi dunia, dengan kasih yang sama, kasih Agape. Dan saya yakin bahwa Yohanespun tahu akan hal ini. Dia tidak sedang menyombongkan diri ketika dia menyebut dirinya sebagai murid yang dikasihi, lagipula dia memang tidak menyebut dirinya murid yang PALINGdikasihi. Dan juga tidaklah benar jika kita menyimpulkan “berarti, cuma Yohanes saja yang sadar kalau dirinya dikasihi, murid yang lain tidak sadar dong”. TIDAK. Murid yang lainpun pastinya tahu bahwa mereka dikasihi Yesus. Lalu apa bedanya? Bedanya adalah Yohanes tidak sekadar tahu tetapi dia SELALUmendengangdengungkan itu di hati dan jiwanya.

Oke… Dari sudut pandang ini, tanpa bermaksud mencari-cari kesalahan Petrus dan memuji-muji Yohanes, mari kita membuat suatu kesimpulan. Petrus secara tidak langsung menyatakan bahwa “AKU MENGASIHI YESUS” dan “KASIHKU LEBIH BESAR DARI MEREKA”, terdengar kurang rendah hati, sedangkan Yohanes mengatakan bahwa “YESUS MENGASIHIKU”.

Lalu, apakah yang terjadi kepada kedua rasul ini ketika pencobaan itu datang? Apa yang mereka lakukan ketika tentara Romawi, orang-orang Yahudi, dan Imam-Imam kepala menangkap, menyiksa, menghakimi, bahkan menyalibkan Yesus?

Kita tahu bersama bahwa Petrus, ketika orang-orang menanyakan hubungannya dengan Yesus, Petrus menyangkal Yesus. Bukan cuma itu teman-teman, dia mengutuk dan mengucapkan sumpah serapah/caci maki kepada Yesus untuk menunjukkan bahwa dia tidak mengenal bahkan membenci Yesus. Cukup mengagetkan, seorang yang energik, pemberani, dan yang katanya mengasihi Yesus ternyata gagal dalam ujian iman ini dan bahkan keluar sebagai seorang pengecut.

Lalu, bagaimana dengan Yohanes? Teman-teman, Yohanes terus setia mengikuti Yesus. Bahkan ketika Yesus telah tergantung di kayu salib, Yohanes adalah satu-satunya murid Yesus yang menunggui-Nya di kaki salib Yesus (Yohanes 19:26). Mengenai risiko keselamatan, bayangkan teman-teman, jika ada orang yang menyadari keberadaan Yohanes di sana, diapun pasti akan disiksa dan disalib seperti Yesus. Yohanes tahu nyawanya sangat terancam (imam-imam melihat dia di Getsemani), tapi dia tidak takut, kasih Yesus yang nyata di hatinya membuat dia tetap setia dan memberikan dia kehormatan untuk menyaksikan peristiwa pengorbanan terbesar sepanjang sejarah dunia itu. Sayang sekali, murid-murid yang lain tidak berkesempatan melihat karya terbesar Yesus selama Dia hidup, karena mereka takut.

Yohanes sadar dan terus-menerus mengimani bahwa Yesus mengasihi dirinya, kasih karunia itulah yang memampukannya untuk mengasihi Yesus setiap saat. Kebenaran inilah yang ingin dia bagikan dan dia tuliskan di 1 Yohanes 4:19.

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 

Lihat?

Sebelum kita berkata “Aku mengasihi Yesus”… renungkanlah “Yesus mengasihiku”.
Sebelum kita berkata “Aku hidup bagi Yesus”… renungkanlah “Yesus hidup di dalamku”.

Jadikanlah Dia SUBJEK dan bukan OBJEK di dalam hidupmu.
Lagipula, seberapa agung kasih yang kau miliki untuk Yesus?
Kasihmu itu berasal dari dirimu sendiri atau dari Dia?

Kalau dari diri sendiri, inilah kata Yesus…
Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,” (Markus 7:20)
Tetapi kalau saat ini kau dengan rendah hati menyadari bahwa kasih itu dari Allah, maka ayat ini akan mengukuhkanmu…
karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. (Filipi 2:13) 

Tetaplah TAAT, tetaplah SETIA, tetaplah RENDAH HATI
Dengungkanlah “Yesus hidup dalamku dan Yesus mengasihiku” setiap saat selama nafasmu masih berhembus selama darahmu masih mengalir

Inilah AWAL YANG SEHARUSNYA untuk memulai segala pelayanan dan pekerjaan kita.

Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi Yesus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s