Belajar yang Efektif

Perbincangan tentang cara belajar yang efektif merupakan perbincangan yang sifatnya pribadi karena setiap orang unik dan spesifik. Metode belajar yang efektif bagi orang yang satu mungkin tidak akan seefektif itu jika diaplikasikan oleh orang yang lain. Oleh sebab itu, untuk mengetahui cara atau metode belajar mana yang paling baik untuk dilakukan, seseorang harus benar-benar memahami dirinya sendiri dulu. Apakah dia seorang yang visual, audio, atau keduanya, apakah dia seorang yang suka ketenangan atau suasana ramai, apakah dia suka menghapal atau menghitung, dan lain sebagainya.

Cara belajar merupakan hal yang kasat mata tetapi untuk “efektif”, lain ceritanya. Aku melihat bahwa keefektifan seseorang tidak terhubung secara langsung dengan apa yang dapat dilihat mata, ya mungkin tetap ada pengaruhnya, tetapi faktor yang berpengaruh lebih besar adalah sesuatu yang ada di dalam dirinya.

If you can become the leader you ought to be on the inside, you will be able to become the person you want on the outside. ~John C. Maxwell~

Inilah yang ingin aku sharingkan saat ini… mari kita membicarakan tentang something inside dan selanjutnya mengenai those outside things diserahkan kepada teman Anda.

Hal pertama yang paling penting mengenai belajar yang efektif adalah milikilah MOTIVASI yang BENAR. Sayang sekali, nampaknya sistem pendidikan kita memaksa kita untuk memiliki motivasi belajar yang salah, yaitu belajar untuk nilai. Alhasil, beberapa anak Tuhan pun menjadi jajahan sistem ini. Mereka belajar dengan giat dan berdoa dengan harapan agar supaya mereka mendapatkan nilai yang baik.

Sadarilah bahwa Allah berdaulat atas nilai kita.

Allah tidak pernah tergantung pada manusia tetapi manusia mutlak bergantung pada Allah. Manusia dapat belajar dan bekerja keras untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian tetapi pada akhirnya adalah Allah yang menetapkan nilai yang akan ia peroleh. Sudahkah ini menjadi kesadaran di dalam hidup kita? Bukankah kita pernah mengalami suatu kondisi di mana kita merasa benar-benar siap menghadapi suatu ujian namun karena satu dan lain hal, nilai yang kita peroleh sama sekali tidak mencerminkan kesiapan kita itu? Tentu saja. Kesiapan dan kematangan dalam menghadapi ujian memang akan sangat berpengaruh pada nilai yang akan diperoleh. Namun, selain itu, ada banyak faktor lain yang menentukan, misalnya kesehatan, suasana ujian, ketenangan hati, ingatan, dan kejernihan dalam berpikir. Kita mungkin siap menghadapi ujian tetapi bagaimana jika sehari sebelumnya kita jatuh sakit? Kita mungkin siap menyelesaikan semua soal ujian tetapi bagaimana jika pada saat itu kita menjadi begitu gugup atau entah mengapa pikiran kita menjadi “tersumbat” dan kita menjadi lupa akan semua yang kita pelajari? Apakah kita yang mengendalikan semua itu? Tidak. Manusia mungkin dapat mengatur satu atau dua hal namun pada akhirnya ia harus menyadari bahwa segala sesuatu ada di dalam kendali Allah, termasuk apa yang orang itu pikir ia kendalikan.

Itulah salah satu makna dari kedaulatan Allah atas segala sesuatu, termasuk di dalam nilai yang akan kita peroleh. Ketekunan kita tidak menjadi jaminan kita akan mendapatkan nilai yang baik. Doa-doa kita kepada Allah juga tidak mengatur-Nya untuk memberikan nilai sesuai dengan apa yang kita inginkan. Apapun yang kita peroleh sebagai hasil dari jerih lelah kita di dunia ini itu ada di dalam kedaulatan-Nya. Maka dari itu, adalah salah jika kita belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang baik. Apalagi kalau kita sampai mengabaikan Tuhan hanya karena kita merasa harus belajar keras demi nilai yang baik. Oh Kawan, janganlah kita jatuh dalam kekeliruan yang demikian. Impian sedangkal itu cepat atau lambat akan membawamu pada keputusasaan dan kesia-siaan, yakni ketika kau menyadari bahwa pada akhirnya Tuhanlah yang menetapkan nilai yang muncul di transkrip nilaimu. Oleh sebab itu, biarlah kita menjauhkan diri kita dari motivasi, “Aku belajar karena saya mau dapat nilai A, hanya itu.”

Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Roma 11:34)

Lalu, kalau bukan untuk nilai yang baik, buat apa kita belajar? Kalau belajar tidak menentukan nilai, buat apa aku belajar, toh apapun yang kulakukan pada akhirnya Tuhanlah yang menetapkan hasilnya. Mungkin jawaban ini yang terlintas di pikiranmu. Tetapi tidaklah demikian seharusnya, Tuhan tidak pernah tergantung kepada manusia, tetapi Tuhan menugaskan manusia untuk berusaha dan tidak bermalas-malasan. Tuhan tidak tergantung pada manusia tetapi Tuhan berjanji memberkati mereka yang bekerja keras dan tidak meninggalkan-Nya. Tuhan sangat tidak suka dengan sikap seorang pemalas. Dalam banyak perkara, Ia tidak memberikan berkat secara langsung ke dalam tangan kita tetapi Ia menaruhnya di tempat yang dapat kita jangkau dengan tangan kita.Ya, seperti itulah Ia seringkali memberikan berkat. Porsi Allah adalah menyediakan berkat di daerah yang bisa kita jangkau, dan untuk meraih berkat itu, tentu saja kita harus menjangkaunya. Mungkin kau berpikir, “yawdah aku ga perlu belajar, kan nilaiku ga bisa berubah juga, kalau Tuhan menetapkan aku dapat A, ya bagaimanapun aku dapat A”. Sekarang tanya lagi dirimu, jika seperti itu pemikiranmu, menurutmu Tuhan menetapkan nilai apa untukmu? Hayo, masih beranikah kau tidak belajar?

Setidaknya ada dua motivasi belajar yang benar, apakah itu? Mari kita simak ^___^

1. Belajar sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah

Pandanglah kesempatan kita belajar di bangku kuliah seperti talenta (perumpamaan tentang talenta). Ya, tidak semua orang dipercayakan Tuhan untuk mengecap pendidikan. Syukurilah itu dan lebih jauh, pertanggungjawabkanlah itu di hadapan Tuhan dengan BELAJAR. Belajar adalah kewajiban orang percaya karena Tuhan mewajibkan anak-anakNya untuk mengusahakan talenta itu. Belajar adalah pelayanan kepada Allah.

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.(Lukas 12:48)

Biasakanlah berdoa sebelum belajar. Ini yang sangat jarang dilakukan oleh anak Tuhan. Berdoalah meminta tuntunan Roh Kudus sehingga belajar kita menjadi efektif. Ingat, belajar adalah pelayanan, ibarat pendeta sebelum berkhotbah akan berdoa, demikian juga kita berdoa sebelum belajar. Doa adalah janji kepada Tuhan. Kamu berdoa sebelum belajar, artinya kamu berjanji bahwa selama belajar kamu tidak akan leha-leha. Kamu mempersilakan Allah menjadi mandor selama belajar dan itu akan menguatkanmu untuk belajar dengan serius. Bukankah begitu? Tidak mungkin kita main-main dalam belajar kalau sudah berdoa kan? Kecuali doamu hanya rutinitas dan formalitas, hehehehe

2. Belajar untuk menjadi pintar

Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. (Kejadian 1:28)

Ayat inilah yang kita pegang sebagai mandat budaya, yaitu supaya anak-anak Tuhan mengusahakan bumi ini. Salah satu kualitas yang dituntut untuk menggenapi mandate budaya ini adalah MENJADI PINTAR dan untuk menjadi pintar kita perlu belajar.

Memiliki motivasi belajar untuk menjadi pintar akan membuat proses belajarmu menyenangkan, berbeda dengan motivasi belajar untuk mengejar nilai yang akan membuatmu berada di bawah tekanan. Belajar di bawah tekanan mungkin akan membangkitkan potensimu, kamu akan cepat menyerap bahan pelajaran. Tetapi cara belajar seperti ini ibarat soda, kawanku menyebutnya “Semangat Soda” yang heboh di awal tetapi lama kelamaan luntur.

Inilah yang sering ditemukan di mahasiswa Indonesia. Menjelang ujian dia sangat pintar tetapi ketika minggu depannya ditanya kembali, dia sudah lupa >.

Belajar di bawah tekanan akan mengarahkan penggunaan memori jangka pendekmu, bukan jangka panjang. Alhasil, kamu akan HAPAL tetapi belum tentu MENGERTI, lebih buruk lagi, kau akan segera melupakannya

Sekali kamu mengerti akan suatu hal, itu tidak akan bisa diambil daripadamu… 

Sesuatu yang kamu hapal dapat hilang, tetapi sesuatu yang kamu mengerti, tinggal tetap

Jadi, belajarlah untuk menjadi pintar, belajarlah untuk menjadi mengerti… Setelah kita mengerti tentang motivasi belajar yang benar, ada 3 hal lagi yang harus kita tahu. Inilah dia ^___^

1.  Milikilah target setinggi mungkin!

Hati-hati, ekspektasi berbeda dengan iman. Milikilah target atau ekspektasi setinggi-tingginya bahkan “seliar-liar”-nya (asalkan tidak berdosa), tetapi milikilah iman yang benar.

Iman yang benar itu berdasarkan firman Allah, bukan berdasarkan ekspektasi manusia. 

Janji Allah kepada anak2 Tuhan adalah janji yang luar biasa. Dia berkata bahwa kita akan menjadi kepala dan bukan ekor (Ulangan 28:13) apabila kita mendengarkan perintah-Nya. Lebih luar biasa lagi, Dia berjanji akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20). Kita sudah mendapatkan janji dari Allah, masakan kita mau memiliki target dan ekspektasi yang biasa-biasa saja.

Inilah cara saya menargetkan sesuatu, jika batas nilai A suatu matakuliah adalah 80, maka saya memiliki target untuk mendapat minimal nilai 85. Mengapa? Karena semakin tinggi target saya, effort yang akan saya lakukan semakin tinggi dan semakin realistislah nilai itu saya dapat (sekali lagi, nilai ada di tangan Tuhan, kita tidak membicarakan nilai di sini melainkan semangat).

Pengalaman menunjukkan kepada saya, kalau untuk dapat nilai 80 saya hanya bersemangat 80, maka jatuh-jatuhnya saya akan sampai ke nilai 79, bye bye nilai A. Tetapi ketika saya bersemangat 85, saya akan sampai ke nilai 84 dan nilai A-pun berada dalam genggaman.

Pergi dan kejarlah matahari, kalau seumpama kamu menjadi lelah, tak terasa kau sudah sampai di bulan.

Ibarat seorang pemanah yang memiliki target bull’s eye yang terletak 2 meter di atas tanah, apa yang akan dia lakukan? Apakah dia hanya akan menempatkan pegangan tangannya setinggi 2 meter? TIDAK. Dia naikkan sedikit, kemudian dia memanah. Anak panah melesat dalam lintasan lengkung dan akhirnya mencapai bull’s eye. Kalau dia hanya memposisikan tangannya setinggi 2 meter, maka anak panahnya akan jatuh di bawah bull’s eye itu, tidak percaya? Coba dech, hehehe…

Jika kamu menargetkan untuk terbiasa push up sebanyak 20 kali dan benar kamu push up 20 kali, maka buktikanlah sendiri bahwa mengejar angka 20 itu akan selalu menjadi suatu perjuangan berat (walaupun kamu sudah terbiasa). Tetapi jika kamu menargetkan 20 kali dan mengerjakannya 25 kali, maka tak terasa bahwa angka 20 kali sudah terlewati, tantangan berikutnya adalah menaklukan angka 25 kali, demikian seterusnya.

So… milikilah target yang lebih tinggi dan itu akan menjadi driving force yang baik untuk belajar yang efektif

2. Bekerja Keraslah!

Kerja keras adalah kualitas yang sangat tinggi yang bisa dimiliki seseorang. Aku lebih pengen menjadi seorang pekerja keras dibanding menjadi seorang yang jenius. Pekerja keras adalah seorang pejuang dan di mataku, seorang pekerja keras adalah seorang yang keren.Kalau seumpama aku diizinkan Tuhan untuk membanggakan diri akan satu hal saja. Maka aku tidak akan membanggakan diri atas prestasiku, atas nilai2ku, atas jumlah temanku, atas kemampuan apapun yang ada padaku, melainkan aku ingin bangga karena aku seorang pekerja keras.

Banyak di antara kita selalu memandang hidup ini sebagai kompetisi, bukankah begitu?

Menurutmu siapakah kompetitor terberatmu? Pepatah lama mengatakan bahwa “musuh terberatmu adalah dirimu sendiri”.

Dengan menjadi seorang pekerja keras, maka kamu sudah mengalahkan musuh terberatmu, yaitu dirimu sendiri, dengan menjadi seorang pekerja keras, sejatinya kamu sudah menjadi pemenang, tak peduli apakah oranglain lebih unggul atau tidak terhadapmu.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pengkhotbah 9:10) 

Target dan ekspektasi yang tinggi harus diikuti dengan tindakan yang tinggi itu, jadi lengkapilah target dan ekspektasimu yang tinggi itu dengan menjadi pekerja keras.

3.   Cintailah Pelajaranmu!

Inilah yang perlu kita sadari bahwa rasa cinta kepada sesuatu yang kita kerjakan adalah sesuatu yang sangat penting. Jangan sampai kita membenci guru atau dosen, karena itu akan membuat kita tidak menyukai mata pelajarannya, dan itu akan menghalangi keefektifan belajar kita. Jangan juga kita bersungut-sungut menjalani proses studi kita, percayalah bersungut-sungut tidak membantumu sama sekali.

Firman Tuhan berkata “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21).

Jadikanlah studimu sebagai hartamu. Karena studi adalah berkat, studi adalah pelayanan.

Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, (Filipi 2:14)

Sekian dariku, bereskanlah dulu urusan hati ini. Jika kau sudah memiliki motivasi yang benar, semangat, kecintaan, dan yang paling penting, melakukan semua itu dengan kesadaran penuh bahwa kau melakukannya untuk Tuhan yang adalah Raja atas segala sesuatu termasuk Raja atas studimu, maka yakinlah bahwa cara belajarmu akan efektif.

Advertisements

One thought on “Belajar yang Efektif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s