Doa yang Benar

Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Doa adalah nafas hidup orang percaya. Banyak doa tidak dikabulkan karena, katanya, tidak beriman. Tiga hal inilah yang selalu aku junjung tinggi ketika aku masih baru-baru mengenal dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Untuk rentang waktu yang cukup lama aku merasa puas dengan pengetahuan sebatas ini hingga akhirnya suatu pertanyaan terlintas di dalam benakku. Suatu pertanyaan yang menuntunku ke dalam perjalanan kasih yang semakin intim dengan Tuhan dan Rajaku. Pertanyaan yang menyadarkan aku akan doa yang benar, yang hingga saat ini aku hidupi, aku nikmati, dan aku saksikan kuasa yang diembannya.

Pertanyaan itu ada di Matius 26 : 36-46, suatu kisah yang pasti sudah sering kita dengar. Apa yang menjadi pertanyaanku adalah, “Tuhan Yesus kan Allah, artinya semua doa-Nya seharusnya terkabul. Tuhan Yesus meminta cawan itu diambil dari pada-Nya, tetapi mengapa hal itu tidak terjadi? Apakah saat mendoakan itu Yesus tidak beriman? Bagaimana mungkin Allah tidak beriman?” Pertanyaan ini sangat menggelisahkanku dan jujur aku akui, aku sempat meragukan Yesus sebagai Allah. Aku sempat merasa jauh dengan Dia karena keraguanku itu. Tapi aku bersyukur, saat ini aku sadar bahwa dalam hidup KeKristenan, TARIK ULUR antara Allah dengan manusia memang seringkali Dia izinkan terjadi, bukan untuk menjauhi, melainkan justru untuk semakin dekat dengan umat yang dikasihi-Nya. Kedekatan itulah yang aku rasakan dan aku mohon izin men-sharing-kannya kepada teman-teman. Jika ada yang kurang dapat diterima silakan kita saling berdiskusi, untuk saling menajamkan (Amsal 27:17).

Kita semua tahu bersama bahwa Yesus berdoa agar Bapa melewatkan cawan maut dari-Nya. Yesus memanjatkan doa yang saya yakin Tuhan Yesus sendiri pun tahu bahwa permintaan itu tidak mungkin dikabulkan karena Yesus memang datang ke dunia untuk hari, jam, menit, dan detik itu. Tidak ada cacat dalam rancangan Allah, artinya tidak ada penundaan, Yesus harus mati pada waktu yang ditentukan. Tapi… dapat kita lihat bahwa Yesus bahkan MENGULANG doa-Nya hingga tiga kali dan pada akhir-Nya Bapa tetap tidak mengabulkan permintaan tersebut.

Dari sini kita belajar bahwa bagi orang percaya, dikabulkan atau tidaknya suatu doa bukanlah inti dari doa tersebut, tetapi yang menjadi tujuan adalah ketika kita tidak malu atau takut untuk mengutarakan segala isi dan keinginan hati kepada Bapa sama seperti Yesus yang menyatakan isi hati-Nya kepada Bapa tanpa malu-malu. Rasa malu atau segan yang berlebihan menandakan hubungan yang tidak dekat, tetapi doa yang dengan lepas dipanjatkan akan membuat persekutuan kita dengan Bapa menjadi lebih intim. Itulah esensi pertama dari doa: ESENSI CURHAT

Lebih jauh, dari perikop ini kita lihat bahwa Tuhan Yesus mengakhiri doa-Nya dengan “tetapi bukanlah kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu yang terjadi.” Dari doa ini Yesus mengajarkan kepada kita bahwa di dalam setiap doa yang kita panjatkan harus ada keyakinan PENUH bahwa kehendak Tuhanlah yang terbaik di dalam kehidupan kita sehingga apapun yang menjadi jawaban-Nya, kita tidak akan memaksa, menuntut, atau mempermasalahkan Tuhan. Itulah esensi doa yang satu lagi: ESENSI IMAN.

Permintaan Yesus untuk dihindarkan dari cawan maut tidak dikabulkan Bapa… mengapa? Apakah karena Yesus kurang iman? TIDAK… Lihat, iman Yesus tidak didasarkan pada esensi curhat-Nya, tetapi pada esensi iman-Nya.

Lalu, bagaimana dengan kita saat ini… Sudahkah kita mengerti dengan benar apakah Iman itu?

Iman bukanlah percaya bahwa apa yang KITA inginkan akan terjadi.
Iman adalah percaya bahwa apa yang TUHAN inginkan (FIRMANkan) akan terjadi.


Dasar dari Iman adalah Firman, bukan keinginan…

Ibrani 11:1 berkata “Iman adalah…

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan…
sekarang aku bertanya, apa yang menjadi dasar kita dalam mengenal Allah? Jawabannya adalah FIRMAN

Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat…
sekarang aku bertanya, apa yang kau jadikan bukti untuk imanmu? Jawabannya tentu saja FIRMAN


Jadi secara sederhana kita bisa menyimpulkan, iman ~ firman
Maka janganlah kita mendasarkan iman kita di atas sesuatu yang tidak pernah Tuhan firmankan
Ex:
Aku beriman akan mendapat nilai A (ingat: Tuhan tidak pernah berfirman kau akan mendapat A)
Aku beriman akan segera sembuh dari penyakit ini (ingat: Tuhan tidak pernah berfirman akan menyembuhkanmu dari penyakit itu)

Ada quotes:

Iman yang kecil berkata… Tuhan BISA melakukannya untukku.

Iman yang lebih besar dari itu berkata… Tuhan PASTI melakukannya untukku.

Iman yang SEJATI berkata… Tuhan SUDAH melakukannya untukku, karena Tuhan sudah BERFIRMAN.

Oleh karena itu, janganlah lagi ada di antara kita yang mengatakan, “Aku beriman, aku perkatakan dapat nilai A, atau lulus Juli, atau sembuh dari penyakit pada saat ini, dan sebagainya.”

Curhatkan dan harapkanlah itu, tetapi jangan jadikan itu sebagai dasar imanmu.

Tuhan tidak pernah berfirman bahwa kita akan mendapat nilai A dsb, yang Dia janjikan adalah kita akan menjadi kepala bukan menjadi ekor apabila kita melakukan perintah-Nya, itulah yang harus kita imani dan perkatakan…
Seorang hamba Tuhan berkata…

“Sesungguhnya dalam doa tidak ada yang berubah kecuali pribadi sang pendoa”.

Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Roma 11:34)
Tuhan tidak dibatasi oleh dimensi waktu. Maka dari itu, tidak mungkin Tuhan berpikir A dan setelah WAKTU TERTENTU, oleh karena mendengar doa umat-Nya, Dia berubah pikiran menjadi B… Tuhan tidak mengenal dulu dan akan datang, bagi Dia hanya ada SEKARANG. Konsep waktu hanya ada bagi manusia. Dan karena itu, semua ketetapan-Nya adalah alpha dan omega, beriringan dengan Dia sendiri. Tidak pernah berubah… Lagipula mengapa Dia harus merubah masa depan karena apa yang kau minta, seolah-olah apa yang kau minta lebih baik dari rancangan-Nya? Justru… Dia yang menanamkan di dalam dirimu mengenai apa yang Dia mau supaya kau doakan (Filipi 2:13)… ^___^

Hal yang berubah dalam doa adalah pribadi sang Pendoa itu sendiri. Semakin dia rajin berdoa, semakin dia berjuang, semakin dia merasakan ketergantungan kepada Allah, dan semakin dia merasakan penyertaan Allah. Aneh, jika ada orang yang meminta nilai A tetapi tidak mau belajar. Kata orang dunia, mohon maaf, Tidak Tahu Diri. Orang yang tahu diri tidak hanya berani berdoa tetapi juga berani berusaha. Karena itulah hamba Tuhan ini berkata, “satu-satunya yang berubah adalah pribadi sang pendoa”, karena semakin dia berdoa, semakin dia berusaha, semakin dia BERUBAH ke arah yang lebih baik

Sekian sharing-ku mengenai doa dan iman. Pengalamanku, pengetahuanku belum sempurna, tetapi aku yakin pada Roh Kudus yang ada di dalam diriku bahwa Dia akan senantiasa membaharui akal budiku.

Salam. Soli Deo Gloria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s