Komunikasi yang Alkitabiah

Semua masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi. Ketika pertama kali  mendengar kalimat ini, saya acuh tak acuh. Di dalam benak saya, kalimat tersebut sama saja dengan banyak quotes yang terkadang terlalu dipaksakan supaya terdengar “heboh”. Tetapi setelah berpikir kembali, saya mendapati diri saya sangat setuju dengan pendapat tersebut.

Saya rasa di antara kita tidak ada yang meragukan kuasa doa dan kebenaran Alkitab, bukan? Ya, baik doa maupun Alkitab adalah salah satu bentuk komunikasi dan kita alami bersama bahwa seluruh masalah dapat terpecahkan di dalam doa dan firman yang digali dari Alkitab. Banyak permasalahan di dalam rumah tangga, pekerjaan, dan pergaulan sehari-hari timbul karena komunikasi yang tidak sehat. Bahkan, secara terang-terangan saya akui, setelah beberapa tahun berada di dalam lingkungan persekutuan, saya dapati justru di dalam persekutuanlah “DISALAH MENGERTI” paling sering dirasakan. Saya rasa Andapun pernah disalah mengerti oleh kawan-kawan persekutuan Anda, bukan. Well, itupun timbul karena komunikasi yang buruk.

Kini, yang perlu kita sadari bersama adalah hubungan yang baik bukan dibangun oleh ketidakhadiran masalah. Justru hubungan yang baik akan diuji oleh kehadiran masalah tersebut, apakah hubungan baik itu semu atau sejati. Jangan hindari atau tutupi masalah, melainkan pecahkanlah masalah tersebut secara Alkitabiah. Firman Tuhan berkata agar kita berubah oleh pembaharuan budi kita dan inilah yang saya yakini, bahwa pembaharuan budi yang sejati seharusnya tercermin di dalam salah satu area pertumbuhan orang percaya, yakni KOMUNIKASI. Untuk itu, mari kita sama-sama belajar dari teladan Paulus dalam Efesus 4:25-32. Di sana, paling sedikit ada 4 hukum dalam berkomunikasi.

 

1. Hukum Pertama: Jujur (ayat 25)

Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

Terbaca sederhana bukan? Ya, tapi terkadang semakin sederhana suatu perintah, semakin mudah dilanggar. Pernahkah Anda berbohong putih, demi kebaikan atau untuk menghindari konflik, atau mengejek teman saat bergurau dan agak-agak “pedas” lalu Anda berkata “cuma bercanda kok” padahal ada sedikit kejujuran di baliknya, ataukah Anda pernah berkata “gapapa kok” ketika hati Anda sedang sakit atau disakiti? Saya pernah dan saya akui hukum ini sulit dipatuhi, banyak orang yang jatuh di sini, bagaimana dengan Anda. Jika Anda juga sering gagal menjadi orang yang jujur, hendaklah kita selalu introspeksi diri betapa hina dan gagalnya kita, bahkan untuk menjadi jujur secara 100% saja kita tidak mampu. Bagaimana kita bisa menghakimi orang lain padahal kita saja selalu gagal dan cacat? Introspeksilah diri sedemikian hingga kita beroleh kerendahan hati.

Lalu, apakah yang harus kita lakukan?

Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.(Amsal 12:18)

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. (Kolose 4:6) 

Mintalah hikmat Tuhan dalam berkata-kata. Dalam hal komunikasi, kita tidak hanya fokus kepada “apa yang kamu katakan” melainkan juga “bagaimana kamu mengatakannya”.

2. Hukum Kedua: Jangan mudah terpancing emosi (ayat 26-27)

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

Hal ini senada dengan Mazmur 4:4

Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.

Tunggu dulu, lalu bagaimana dengan Yakobus 1:20?

sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. 

Kata “marah” yang disinggung dalam tiga ayat di atas sebenarnya berasal dari tiga kata yang berbeda, Mazmur ditulis dalam bahasa Ibrani sedangkan Efesus dan Yakobus dalam bahasa Yunani. Sebenarnya saya tidak berkapasitas mengkaji ini dari kata asalnya. Yang saya tahu, kata “marah” dalam Yakobus 1:20 dalam bahasa Inggris berarti wrath atau lebih tepat diartikan sebagai murka. Dan kalau di-search di e-sword, maka kata wrath lebih banyak dipakai oleh Tuhan. Ya, hanya Tuhanlah yang berhak untuk murka, karena murka manusia tidak berkenan di hadapan-Nya.

~biarlah kajian singkat ini mendorong kita untuk mendalami firman Tuhan lebih dalam… kalau kita hanya menggunakan iman yang buta dalam menggali Alkitab, tanpa disertai pengetahuan yang benar,  maka kita akan berakhir dengan memakai firman sepotong-sepotong, dangkal, bahkan bisa salah mengeksposisi. MARI TERUS BELAJAR!~

Kembali ke masalah marah. Dari Kitab Efesus dan Mazmur kita belajar bahwa marah bukanlah dosa.Marah sesungguhnya adalah energi yang diberikan oleh Tuhan untuk membereskan suatu masalah. Terkadang, masalah dapat dibereskan dengan memberi pelajaran atau menghukum si pembuat kesalahan agar dia jera. Konsep inilah yang sering Tuhan pakai di dalam geram, amarah, dan murkanya. Bagaimana Tuhan membereskan masalah dosa? Yaitu dengan melampiaskan kemarahan-Nya yang kemudian harus ditanggung oleh Yesus Kristus. Itulah “amarah” yang benar.

Kata hukum termodinamika, energi itu kekal, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya bisa diubah bentuknya. Sayangnya, hukum inipun terjadi di dalam kehidupan manusia saat ini, yaitu ketika energi marah yang positif, oleh manusia dikonversi menjadi energi yang negatif, yaitu energi untuk membenci danenergi untuk merusak. Itulah “amarah” yang salah.

Tidak ada yang salah dengan “marah”. Kita bukan robot yang tidak memiliki perasaan, bukan? Yang penting dalam hal ini adalah pengendalian diri. Bagaimana di dalam setiap komunikasi yang kita jalin, kita selalu bisa mengendalikan diri, walaupun pada saat itu kita disalahmengerti atau dikritik secara tidak benar dan tidak sopan.

Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.(Amsal 25:28)

Lalu, ketika terjadi konflik, siapakah yang harus mengambil langkah awal untuk berdamai? Orang yang berbuat salahkah atau orang yang menjadi korban? Mari lihat apa kata Yesus:

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (Matius 5:23-24)

Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. (Matius 18:15-17)

Jawabannya adalah KEDUANYA. Kedua belah pihak harus memiliki paradigma yang sama untuk meminta maaf secepat mungkin. Mengapa orang yang menjadi korban juga Yesus tekankan untuk meminta maaf? Terasa tidak adil bukan? Well, keadilan siapa dulu yang kita maksud, keadilan manusia, atau keadilan Tuhan? Karena Yesus memandang bahwa keutuhan umatNya jauh lebih penting dibanding gengsi pribadi manusia untuk meminta maaf kepada orang yang berbuat salah kepada dirinya.

Kita cinta kepada Tuhan? Maka kita akan patuhi perintahnya. Susah untuk meminta maaf duluan kepada orang yang berbuat salah kepada kita? Ya, sangat susah sekali. Saya juga bergumul akan hal ini. Karena itu, kembali lagi saya mengajak kita introspeksi diri, janganlah mengganggap diri kita paling suci dan paling setia kepada Tuhan dibandingkan orang lain. Lihat! Mengampuni saja terkadang kita tidak becus. Dilihat dari manapun tidak ada SATUPUN hal yang membuat kita layak diampuni oleh Tuhan. Oooh betapa dahsyatnya pengampunan-Nya bagi kita yang hina ini. Puji Tuhan

Well, sekian dulu tulisan ini, jika Gusti Allah menghendaki, part II akan melanjutkan bagian ini. Semoga memberkati. Soli Deo Gloria ^__^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s