Mengapa Kita Terpecah?

“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:21)

Ini adalah sepenggal kalimat dalam doa Tuhan Yesus di taman Getsemani pada malam sebelum Dia disalibkan. Layaknya kata-kata terakhir dari seseorang yang hampir menemui ajalnya, aku yakin isi dari doa Yesus ini merupakan hal yang sangat penting bagi-Nya. Apakah itu?

-mereka juga di dalam Kita-

Namun, ada resep yang harus dipenuhi agar itu terjadi. Dengan formula matematis, hal ini dirumuskan sebagai berikut:

 mereka menjadi satu + Aku dan Engkau adalah Satu = Kita dan mereka menjadi satu

Untuk sejenak, Yesus pernah terpisah dari Bapa. Saat itulah Dia berkata, “Eli Eli Lama Sabakhtani”. Namun, Yesus telah naik ke surga dan menjadi satu dengan Bapa. Kini saatnya giliran kita yang harus bersatu. Dan diperjelas di sini, bahwa kualitas kesatuan yang dikehendaki Yesus adalah supaya kesatuan antarorang percaya SAMA SEPERTI kesatuan Allah. Dan inilah kualitas itu, Filipi 2:1-11. Tetapi bagaimana realitanya dengan kekristenan saat ini? Sudahkah kita BERSATU?

 

Kata persatuan mungkin lebih familiar di telinga kita sebagai persekutuan. Saat ini masih sangat banyak orang Kristen yang hidup tidak bersekutu dengan sesama orang percaya. Ada yang beralasan tidak punya waktu, ada yang beralasan tidak nyaman, ada yang berkata tidak mau eksklusif, ingin menjadi terang di tempat lain, ada juga yang mengatakan tidak tahan melihat orang-orang yang munafik di dalam persekutuan. Oke, hendaklah ini menjadi peringatan buat kita yang sekarang ini bertumbuh di dalam persekutuan supaya kita berbenah diri, mungkin saja kita eksklusif, mungkin benar kita munafik, mungkin memang kita menjadi batu sandungan bagi orang lain. Namun, yang hendak aku sharingkan adalah, tidak akan ada alasan yang cukup kuat untuk membenarkan seseorang tidak bersekutu dengan sesama orang percaya.

Persekutuan orang percaya, dianalogikan sebagai mempelai wanita Allah, dan juga sebagai tubuh Kristus…

Tidak mungkin kita berkata mengasihi Sang Mempelai Pria tetapi kita membenci mempelai wanita-Nya. Kalau kau mengasihi Yesus, kau PASTI mengasihi mempelai-Nya.

Tidak konsisten jika kita berkata mengasihi Kristus kalau kita tidak menyukai mata-Nya, rambut-Nya, atau anggota tubuh-Nya yang lainKalau kau mengasihi Yesusu, kau PASTI menyukai anggota tubuh-Nya.

 

Intinya, kau harus hidup bersekutu dengan sesama orang percaya.

Darah Yesus telah tercurah untuk penebusan dosa kita. Dan ibarat tubuh, darah-Nya disirkulasi di dalam tubuh-Nya untuk menyuplai nutrisi, untuk memberikan kehidupan kepada anggota-anggota tubuh-Nya dari yang paling besar hingga ke sel-sel yang terkecil. Demikianlah, jika kita melepaskan diri dari tubuh-Nya, maka aliran darah-Nya tidak akan sampai kepada kita. Alhasil, kita akan kering, perlahan tapi pasti kita akan mati karena tidak ada nutrisi. Oleh sebab itu, janganlah kita menjauhkan diri dari persekutuan orang-orang percaya. Adalah baik untuk menyinari kegelapan di luar sana, tetapi ingat, suatu saat kita dapat habis, oleh karena itu kita perlu me-recharge kembali energi kita di dalam persekutuan.

Matius 5:13-16, perihal tentang garam dan terang dunia, pasti sudah sangat sering kita dengar. Garam dan terang berbicara tentang dampak atau pengaruh orang percaya di dalam dunia ini. Tetapi, inilah yang aku yakini… tidak mungkin kita berdampak secara MAKSIMAL sebelum kita sebagai orang-orang percaya bersatu

Kamu tahu terang? Apa itu sinar, apa itu terang?

Aku tidak tahu pasti, tapi setahuku terang yang dimaksud di sini adalah terang warna putih. Sinar warna putih adalah cahaya tampak yang merupakan gabungan atau kesatuan dari sinar me-ji-ku-hi-bi-ni-u.

Aku yakin kita tidak mau belajar di bawah lampu warna merah, atau ungu (unyu sekali), tetapi kita mau belajar di bawah sinar warna putih. Artinya, sinar warna merah tidak akan berdampak sebelum dia bergabung dengan 6 sinar lain menjadi sinar putih. Sinar merah membutuhkan 6 sinar lain, dan 6 sinar lain membutuhkan sinar warna merah untuk menjadi sinar putih yang BERDAMPAK. Lihat? Sinar-sinar yang terpecah tidak akan pernah berdampak maksimal.

 

Kamu tahu garam?

Aku tidak tahu pasti, tapi setahuku garam yang dimaksud di sana adalah garam pengasin, sebut saja natrium klorida, alias NaCl. Kita semua tahu (saya harap) bahwa garam NaCl merupakah gabungan atau kesatuan dari natrium dan khlor.

 

Natrium yang berdiri sendiri memiliki sifat yang sangat jauh berbeda dari NaCl. Demikian juga khlor. Natrium yang berdiri sendiri tidak dapat berperan sebagai zat pengasin, malahan bisa meracuni manusia dan hal yang sama juga berlaku bagi khlor. Natrium membutuhkan khlor dan khlor membutuhkan natrium untuk bisa menjadi garam NaCl yang BERDAMPAK dan BERGUNA.

 

Belajar dari ilmu fisika…

Ep = massa x g x h

Ek = ½ x massa x v^2

 

Ya, energi berbicara tentang dampak. Semakin besar massa kita, semakin besar pula energi atau dampak yang kita timbulkan. Oleh sebab itu, jika orang-orang Kristen sungguh ingin berdampak di dunia ini, maka kita harus bersatukita harus bersekutu dengan sesama orang percayasehingga massa kita semakin besar dan semakin besar pula dampak yang bisa kita berikan bagi bangsa ini.

Firman Tuhan berkata dalam 1 Korintus 1:10, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.

Bagaimana dengan kekristenan di Indonesia saat ini? Sudahkah kita berjalan sesuai pemikiran Sang Kepala, ataukah masing-masing anggota tubuh-Nya berjalan dengan pemikiran masing-masing. Bayangkan jika tangan kanan berpikir hendak ke timur, tangan kiri berpikir mau ke barat, kaki kanan mau ke utara, dan kaki kiri ke selatan. Ke arah manakah tubuh itu akan bergerak? Well, karenaresultannya adalah 0, maka tubuh itu tidak bergerak ke mana-mana. Demikian juga dengan kekristenan, jika masing-masing komunitas orang percaya bergerak dengan pemikirannya masing-masing, tanpa arah yang setujuan, maka kekristenan Indonesia akan stagnan dan belum bisa naik level. Mengapa masih banyak hamba Tuhan dari gereja satu menjelek-jelekkan gereja lain di dalam khotbahnya, yang menandakan bahwa kedua gereja sedang bergerak tidak pada arah yang sama.

Aku tidak ingin menghakimi siapapun, termasuk hamba Tuhan seperti itu. Namun, aku sering membayangkan bagaimana orang-orang Kristen di Korea Utara bisa menghidupi imannya, ketika membaca Alkitab dan beribadah adalah sama dengan dipenjara atau bahkan dibunuh? Masih adakah waktu mereka untuk meributkan denominasi, masih adakah urgensi untuk meributkan perbedaan mereka? Aku yakin tidak. Tidak mungkin mereka bisa bertahan kalau mereka tidak bersatu. Yesus berkata dalam Matius 12:25, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.”

Pada saat ini, menurutmu, sudahkah orang Kristen Indonesia siap untuk naik level ke tantangan berikutnya yang mungkin sama beratnya dengan tantangan saudara-saudara kita di Korea sana. Mungkin saja tantangannya akan berbeda, tetapi yang aku yakini, seperti kata firman Tuhan, semakin hari kekristenan akan semakin sulit, suatu saat kita akan dibenci, dianiaya, dan bahkan dibunuh. Dan jika saat itu tiba, masakan kita masih belum bersatu? Aku rasa, sebelum kita cukup solid sebagai sesama orang percaya, Tuhan belum akan mengujikan tantangan itu kepada kita. Tuhan pasti merasa iman kita masih terlalu kerdil atau picik untuk naik level dan menerima ujian iman sedemikian.

Jadi, apakah denominasi itu Alkitabiah? Tetap saja Alkitabiah. Petrus diutus untuk denominasi Yahudi, Paulus untuk denominasi Yunani. Tuhan kenal Petrus, Tuhan kenal Paulus, dan Dia menempatkan mereka di tempat yang menurut Dia paling baik, supaya sebanyak mungkin orang yang terjangkau. Untuk itulah ada denominasi, supaya sedapat mungkin SEMUA GOLONGAN terjangkau. Anak muda menyukai full band, orang tua tidak menyukainya, lalu bagaimana menjangkau keduanya? Aku yakin di sinilah porsinya gereja-gereja yang berbeda aliran.

 

Jadi janganlah kita melihat perbedaan kita… Persamaan kita jauh lebih banyak dibanding perbedaan kita. Yesus Kristus itulah yang menjadi persamaan kita, untuk apa lagi kita mencari-cari perbedaan.  

Tuhan menginginkan KESATUAN kita, bukan KESERAGAMAN kita…

Tubuh punya 5 panca indera, demikian juga kesatuan tubuh Yesus… mungkin kamu bukan mata, bukan telinga, bukan hidung, bukan lidah… tetapi ada satu indera yang menyatukan kita semua, apa itu? Ya… kulit, karena semua bagian organ memiliki kulit, semua organ memiliki indera peraba/perasa. Artinya, satu anggota tubuh sakit, semua merasakan kesakitan itu. Jadi, ingatlah… ada loch yang menyatukan kita 🙂

 

Hentikanlah saling menghakimi seorang akan yang lain. Yang satu menilai yang lain sesat, yang lain menilai yang lain tidak bertumbuh. Come on… hari gini belum menyatu, apa kata iblis? Apa kata dunia? So, mari kita bersatu, sehati sepikir, berderap bersama mengenal dan memperkenalkan Kristus sampai semua orang tahu ada loch orang-orang yang benar-benar murid Kristus.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

 

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamusaling mengasihi.” (Yohanes 13:35)

 Soli Deo Gloria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s