Sungguh, yang dulu itu bukan aku

Aku seringkali berpikiran “nakal”. Suatu kali aku berkata kepada Tuhan di dalam hati seperti ini…

“Tuhan, andaikan suatu saat nanti imanku goyah, jikalah suatu hari nanti aku mulai meragukan keberadaan-Mu, mukjizat apakah yang harus aku ingat supaya aku kembali percaya bahwa Engkau sungguh ada?”

Sungguh kurang ajar pemikiranku ini, tetapi puji Tuhan Dia sangat sabar, inilah jawaban-Nya yang Dia bersitkan dalam benakku

“Heemmm… kalau kasusnya seperti itu, ingatlah Nak bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang bisa mengubah orang sebusuk, sehina, dan sejahat dirimu, selain Aku… dan ketika kau mulai meragukan Aku, lihatlah dirimu dan ingatlah bagaimana Aku merubahmu :D”

Dulu, hidupku sangatlah sederhana… Satu kata cukup menggambarkan diriku, PRESTASI.

Ya, prestasi adalah tuhanku, tujuan hidupku, hartaku, teman bermainku, duniaku. Semua ini dimulai di suatu hari, ketika untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menerima raport dan aku menemukan angka “1” di sana. Guru, teman-teman, orangtua, dan tetangga memuji-mujiku. Mereka tidak sadar bahwa pujian mereka membangkitkan iblis yang tertidur di dalam diriku, seorang anak kecil berusia 6 tahun.

Aku mulai tergila-gila dan haus akan rangking 1. Caturwulan demi caturwulan ku lalui dengan angka-angka “1” baru yang tertulis di raportku. Aku diikutkan dalam lomba mahasiswa teladan tingkat kota dan berhasil pula menjuarainya, saat itu aku diperkenalkan dengan temanku yang kedua “PIAGAM PENGHARGAAN”. Aku sangat menyukai rapot dan piagamku, aku terobsesi untuk menambah teman-teman baru lagi.

Tapi, di kelas enam kondisi mulai berubah. Persaingan yang dulu sangat mudah kini menjadi lebih sulit. Teman sekelasku, Safitri, entah mengapa tiba-tiba menjadi pintar. Aku mulai terganggu dengan kehadirannya. Suatu ketika, kami ulangan harian, dan pengoreksian dilakukan secara bersama-sama di kelas namun berkas ujiannya ditukar. Aku memeriksa ujian temanku dan temanku memeriksa berkasku. Aku yang saat itu diminta guru untuk mengumpulkan berkas ujian dan membagikan ke teman yang lain, mulai berpikiran busuk. Aku mengambil berkas ujian Safitri untuk kuperiksa dan berkas ujianku kuberikan ke teman terdekatku.

Guruku mulai membacakan kunci jawaban. Aku terdiam mengingat banyaknya jawabanku yang berbeda dengan kunci jawaban guru tetapi jawaban Safitri benar. Timbullah niat jahat dalam otakku. Aku menghapus jawabannya dan menggantinya dengan jawaban yang salah, dan aku meminta teman yang memeriksa jawabanku itu untuk mengganti jawabanku dengan apa yang benar. Alhasil, kembali… aku mendapat nilai yang terbaik di kelas walau seharusnya Safitrilah yang harusnya mendapat nilai tertinggi. Ketika jam istirahat, Safitri bertanya padaku, “Chard, kamu yang memeriksa jawabanku? Kok aku rendah yah? Seingatku jawabanku banyak benarnya?”. Saat itu aku lupa menjawab apa ke dia, yang jelas dia tidak curiga padaku.

Ketika aku menulis tulisan ini, aku tidak bisa mengingat berapa kali aku mengulang kebusukanku itu, yang jelas ITU SERING aku lakukan demi rangking “1”. Aku termenung mengingat masa kecilku, bagaimana mungkin seorang anak SD bisa selicik itu?

SD pun berlalu, aku diterima di SMP Unggulan di kotaku. Aku masuk ke kelas favorit di mana seluruh anak terpintar di kotaku ada di sana. Rasa ambisiusku semakin menjadi-jadi, semua orang di kelasku kuanggap saingan. Beberapa dari mereka kutandai sebagai saingan utama, aku mencatat nilai-nilai mereka dan kubandingkan dengan nilaiku. Setiap HARI aku mengecek statistik nilaiku untuk mengetahui peluangku menjadi yang terbaik. Ambisiku membuat aku gila.

Well… it was totally a different league. Mereka adalah orang-orang pintar. Dibutuhkan seni lain untuk menjadi juara di sini. Saat itulah aku mengenal yang namanya mencontek, mencatat pertanyaan ujian dari kelas lain, menaruh buku di laci meja dan membukanya diam-diam ketika ujian, atau menulis contekan di tangan. O, my God… aku SANGAT AHLI dan jeli mencontek. Dari satu, dua, tiga kali, hingga SEMUA ujianku di SMP aku melakukan kecurangan seperti itu.

Saat SMP apakah aku gereja? OOhhh, jelas. Aku super rajin ke gereja, tapi hanya karena ada tugas pelajaran agama yang meminta kami mencatat khotbah dan meminta tanda tangan pengkhotbahnya. Di sinipun aku terobsesi menjadi yang terbaik. Ketika yang lain beribadah sekali seminggu, aku  bisa 3-4 kali, aku ikut sekolah minggu, remaja, dan gereja HANYA untuk tanda tangan yang lebih banyak. Ketika aku melihat buku catatan ibadah itu, aku senang sekali menghitung satu demi satu tanda tangan yang kudapatkan… semakin banyak semakin bahagia jiwaku karena semakin dekatlah aku dengan kemenangan. Tetapi sedetikpun aku tidak pernah sadar apa arti Tuhan dalam hidupku.

Masuklah aku ke SMA Unggulan di kotaku. Berbeda dengan SMP, sistem di SMA kami diacak, tidak ada kelas favorit. Dan yang namanya sekolah unggulan, tidak selalu orang pintar di dalamnya, banyak juga anak pejabat, orang-orang kaya di sana. Di sinilah Iblis dalam diriku menjadi-jadi ketika aku bergaul dengan mereka. Tidak ada lagi tugas agama seperti di SMP dan ketika SMA inilah aku merasakan yang namanya Ga gereja SAMA SEKALI dalam DUA TAHUN…

Lebih parah, pergaulan buruk mulai menggerogotiku. Di SMA inilah aku mengenal apa yang namanya pornografi. Teman-temanku sering membagikan CD-CD film tercela itu, dan akupun mendapat giliran menontonnya. Ketika menonton film tercela itu aku mulai menyukainya, aku menontonnya berulang-ulang kali. Aku membuka situs terhina itu dan mulai tergila-gila akannya. Ketika tengah malam aku sering bangun dan memutar ulang film itu di komputer, dengan windows yang diminimize sehingga keluargaku tidak melihatnya. Hari demi hari, selalu seperti itu. Hidupku semakin tidak karu-karuan, kata-kata kebun binatang menjadi keseharianku, aku bahkan sering ingin berkelahi, ayahku menjadi orang yang paling kubenci, aku bahkan pernah ingin menghajarnya dan mengharapkan ia mati.

Jahat sekali aku. Tapi entah kenapa, Tuhan masih menyayangiku, prestasiku masih sangat gemilang, aku selalu rangking 1 di SMAku, aku kerap jalan-jalan ke belahan bumi Indonesia lain karena olimpiade dan beberapa turnamen dan aku menjuarainya. Piala, piagam, sertifikat semakin hari semakin banyak, aku tenggelam dengan semua itu.

Aku adalah orang paling hebat sedunia. Tidak akan ada yang dapat berhadapan denganku. Aku kalah? Tidak. Aku kalah hanya karena aku tidak mau dan tidak suka melakukan hal itu. Kalau saja aku mau melakukannya, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk menang dariku. Inilah masa laluku, pride is my old best friend.

Tetapi, semua itu berubah ketika aku diperhadapkan dengan yang namanya SNMPTN. Ketika aku untuk pertama kalinya berhadapan dengan Tuhan Semesta Alam. Dia menantang aku dan berkata dalam benakku:

“Tunjukkan pada-Ku kemampuanmu, kepintaranmu, kebanggaanmu dan akan Aku tunjukkan padamu kedigdayaan-Ku, ayo kita lihat bisakah kau masuk ITB dengan semua yang ada padamu?”

 

Saat itu,

untuk pertama kalinya aku kenal apa yang namanya KALAH

untuk pertama kalinya aku berlutut melihat betapa tidak berdayanya aku dihadapan Dia

untuk pertama kalinya aku sadar bahwa tidak ada yang bisa disombongkan dari diriku, aku butuh Dia untuk masuk ITB

dan untuk pertama kalinya aku tahu apa itu KEMENANGAN YANG SEJATI

Singkat cerita, akupun menerima Yesus, masuk ke ITB, dan masuk dalam persekutuan orang percaya yang luar biasa. Tuhan menempatkan aku di PMK dan LP di mana aku bisa melihat orang-orang luar biasa dalam hidupku. Aku semakin mengenal Tuhan, semakin mengasihinya…

Tapi, hidup orang percaya bukanlah hal yang mudah. Tantangan kerap kali datang dari sesama orang percaya…

Entah mengapa, aku mendapati orang-orang menyalahartikan aku. Nampaknya sosok ambisius, oportunis, sombong masih tersisa di wajahku. Aku tertolak, aku merasa aku dijauhi bahkan ada orang-orang yang sangat menentang aku menjadi pengurus di PMK karena mereka menilai aku ambisius dan menjadikan pelayanan ini sebagai pemenuh CV-ku. Bukan cuma itu, ada yang berkata, “Dek, kau BANYAK-BANYAKberdoa yah”, dengan senyuman yang agak sinis, seolah aku tidak pernah berdoa. Ketika aku berniat baik, ada orang yang mengira aku mencari muka.

Aku ingin berteriak bahwa aku sudah berubah, aku tidak demikian lagi, mengapa kalian menolak aku, mengapa kalian tega sekali menilaiku seperti itu. Dulu memang aku seperti itu, tapi itu dulu, kalau boleh aku ingin mengatakan bahwa aku yang dulu itu bukan aku, aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Kami sama sekali berbeda, kesamaan kami hanya terletak pada kenyataan bahwa kami mendiami daging yang sama, itu saja… Jadi, terimalah aku yang baru ini. Itulah jeritan batinku.

Semakin aku mengenal Dia, semakin merajalela hantaman di mukaku. Semakin aku mengasihi Dia, semakin banyak hal yang aku lepas. Prestasiku, jam belajarku, kekuatanku, kenyamananku, temanku, bahkan perasaan sukacitaku… Habis lenyap semua itu, sampai aku sempat merasa kosong karena tak ada lagi apa-apa dalam diriku yang fana ini…

Dia berkata padaku..

“Nak, ketika kau mengikut Aku, ada salib yang harus kau pikul. Setiap orang percaya Aku berikan salib yang berbeda-beda, dan itu adalah salibmu. Juga, aku mengizinkan kau merasa sakit oleh saudara-saudara seimanmu bukan untuk membuatmu membenci mereka, tetapi supaya kamu sadar Nak, bahwa di dunia ini hanya AKU yang benar-benar mengasihimu, jadi serahkanlah semuanya yah Nak, hanya dan hanya kepada-Ku”

Dia tidak sekedar mengambilnya…

Dia mengambil yang semu, mengosongkannya, dan menggantinya dengan yang sejati…

Prestasiku, kekuatanku, kenyamananku, bahkan sukacitaku yang dulu… itu semua semu… dan Dia ganti dengan yang baru…

Ya… Aku sudah berubah dan semua itu hanya karena kasih Allah yang sempurna yang menerima aku apa adanya dan yang terlebih lagi sanggup mengubah orang seiblis aku. Kini, hidupku penuh dengan damai sejahtera. Aku tidak lagi menilai diriku dengan prestasiku, aku ga mau lagi mengukur diriku berdasarkan penerimaan orang lain, biarkanlah setiap orang merdeka untuk berpikir bahkan untuk berpikir yang salah mengenai aku. Aku memandang diriku sebagaimana Tuhan memandangku, BERHARGA. Aku memaknai Dia sebagai Yang Paling Berharga Dalam Hidup Ini, masa laluku beserta semua kemegahannya ibarat sampah bagiku. (Filipi 3:8)

 

The secret of life is LETTING GO

Kehidupan orang percaya tidak hanya berbicara tentang mendapatkan sesuatu yang baru tetapi juga MELEPASKAN apa yang lama…

Jadi, jika suatu saat nanti aku mulai meragukan Allah, dan aku butuh untuk mengingat-ingat kebaikan apa yang sudah Dia berikan padaku. Ketika suatu hari nanti aku berkata dalam hati, “keselamatan? mana buktinya, kau bahkan ga bisa membuktikan kalau Tuhan itu ada”. Maka inilah yang akan selalu aku kenang:

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. (1 Korintus 15:10)

Tak ada suatu kuasapun di jagad raya ini yang sanggup mengubahkan orang sebusuk aku.

Jika aku melihat diriku dan perubahan hidupku seperti sekarang ini, itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan Dia mengasihi aku.

 

Ini ceritaku, mana ceritamu…  ^_____^

JBU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s