Yakin Kamu Pemimpin???

Siapa tidak mengenal pribadi yang dilukiskan pada gambar di bawah ini?

Dialah Musa, seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia di atas muka bumi. (Bilangan 12:3). Dialah Musa, satu-satunya manusia yang dikuburkan oleh Allah sendiri (Ulangan 34:6). Ya, Musa, pujangga melankolis yang lagu karangannya akan dinyanyikan oleh seluruh umat Allah yang menang dan setia menanggung penderitaan akhir zaman (Wahyu 15:3). Jika Tuhan menyatakan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub dengan gelar-Nya (El-Shaddaimaka kepada Musa, Tuhan memperkenalkan diri dengan NAMA-NYA sendiri (Keluaran 6:3).

Dialah orang yang memimpin bangsa Israel, suatu bangsa yang mungkin paling keras kepala di dunia, keluar dari jajahan bangsa Mesir, suatu bangsa yang sepertinya paling kuat pada masa itu. Jika Daud dan Salomo merupakan dua raja yang sukses memimpin kerajaan Israel yang telah berdiri kokoh, maka Musa merupakan orang yang sukses memimpin “kerajaan” Israel yang masih berjalan kaki.

Dahsyat. Siapakah Musa ini? Seperti apakah gerangan memimpin? Berikut sepenggal pelajaran yang bisa kita teladani.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90:12)

Musa melihat hubungan antara pemanfaatan waktu yang baik dengan hati yang bijaksana. Musa tidak mengatakan supaya kami beroleh “otak yang berpengetahuan” melainkan “hati yang bijaksana”. Banyak orang pintar gagal dalam hidupnya, rumah tangganya, pergaulannya, usahanya, kepemimpinannya tetapi orang yang bijaksana berdiri teguh.

Barangsiapa ingin menjadi pemimpin bijaksana, ia harus menggunakan waktunya dengan baik.

Musa menjawab bangsa Israel, “Jangan takut! ….  Kata TUHAN kepada Musa, “Mengapa engkau berteriak minta tolong? (Keluaran 14:13-15)

Ketika Israel dikejar oleh tentara Mesir, Musa mengatakan kepada bangsanya untuk tidak takut, namun di saat yang sama, sebenarnya di dalam hati, Musapun berteriak-teriak meminta pertolongan Tuhan sampai-sampai Tuhan harus menegur kegentarannya itu. Mungkin kita akan berkata bahwa Musa tidak berintegritas, beda di mulut dengan di hati. Namun daripada berpikiran demikian, lebih baik kita meneladani sikap Musa yang ditengah-tengah kepanikan (coba bayangkan situasinya), masih bisa menunjukkan ketenangankewibawaan, dan masih bisa berdoa dalam hati. Jika Musa menunjukkan kepanikannya ke permukaan, bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan kepercayaan bangsanya kala itu.

Jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Milikilah wibawa tapi jangan dibuat-buat

Musa menjawab, “Mengapa Engkau memikirkan saya? Saya malah mengharap supaya TUHAN memberikan Roh-Nya kepada seluruh bangsa-Nya, dan membuat mereka semua menjadi nabi!” (Bilangan 11:29) – BIS

Kala itu, ada dua orang yang tiba-tiba menjadi seperti nabi. Melihat hal itu, Yosua, abdi Musa, meminta agar Musa melarang dua orang itu supaya posisi Musa sebagai nabi dan pemimpin Israel tidak disaingi oleh siapapun. Akan tetapi, apakah jawab Musa?

Seorang pemimpin tidak mengejar ketenaran pribadi, tidak sombong, tidak merasa tersaingi, justru dia berharap orang lain bisa bersinar

Miryam serta Harun mengatai Musa… Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku.  Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?” (Bilangan 12: 1; 6-8)

Saat itu, Miryam dan Harun, saudara kandung Musa sendiri, sesama rekan sepelayanan (Miryam adalah nabiah, Harun adalah Imam Besar) mengata-ngatai Musa di belakang. Namun, apa reaksi Musa ketika mengetahuinya? Dia tidak marah, dia tidak membela dirinya, justru Tuhan sendiri yang membela Musa.

Ketika kita memimpin, pasti akan ada orang yang meragukan kepemimpinan kita. Tidak sekadar meragukan, mungkin akan ada yang memandang kita dengan remeh dan mengatai kita di belakang. Ironisnya, hal itu kerap datang dari pihak rekan sepelayanan kita sendiri. Ketika hal ini melanda, mengiris hati kita, ingatlah Musa!

Pemimpin sejati tidak membela diri dengan kekuatannya sendiri. Pembelaannya BERASAL DARI TUHAN

Tetapi mertua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu, Engkau akan menjadi sangat lelah …. Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. (Keluaran 18:17; 24)

Sebelumnya, semua bentuk kepemimpinan dipegang oleh Musa. Dia menjadi nabi, pemimpin, hingga hakim yang harus membuat keputusan untuk SEMUA perkara yang terjadi di bangsa itu. Sungguh meletihkan. Akhirnya, Musapun dinasehati oleh mertuanya untuk mulai mendelegasikan tugas dan berfokus kepada hal-hal krusial yang hanya Musa yang bisa mengerjakannya. Karena Musa merupakan orang yang rendah hati dan mau diajar, dia pun menerima nasehat itu.

Pemimpin sejati itu rendah hati dan teachable. Pemimpin sejati tidak mengerjakan semuanya, mereka mendelegasikan tugas dan berfokus pada tugas yang hanya mereka yang bisa menyelesaikannya.

Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. (Keluaran 17:11)

Ini merupakan salah satu praktek doa paling luar biasa yang dikisahkan di Alkitab. Sebagaimana Musa menopang bangsa Israel di dalam doanya demikianlah seorang pemimpin harus menopang orang-orang yang dia pimpin di dalam doa. Di dalam doamu, coba bayangkan kamu benar-benar seperti sedang menopang sesuatu, yang adalah orang/organisasi yang kamu pimpin atau kegiatan yang akan diadakan, dan satu-satunya media topanganmu adalah doa itu. Jika kamu membayangkannya dengan baik, kamu akan merasakan bahwa memang doa itu berat dan melelahkan bagi daging. Namun, ketahuilah bahwa ketika seorang pemimpin lalai atau malas berdoa, sesungguhnya kepemimpinannya sudah runtuh. Dengan demikian, kita harus tahu bahwasanya doa adalah perjuangan, doa adalah peperangan.

Seorang pemimpin haruslah seorang pendoa dan kesuksesan “perang”-nya ditentukan oleh doanya itu (i.e doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan).

Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis. (Ulangan 32:32)

Agaknya ini merupakan doa yang paling mencengangkan di seluruh Alkitab. Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari sini. Pertama, walaupun pada hakikatnya setiap pribadi memiliki akses langsung kepada Bapa,seorang pemimpin tetap harus memposisikan dirinya sebagai orang yang mengetengahi Bapa dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Kedua, Musa memiliki kasih yang sangat besar bagi orang-orang yang dia pimpin. Saking besarnya, dia sampai kesulitan merangkai kata-kata untuk mendamaikan Bapa dengan bangsa Israel, itulah mengapa pernyataan kontroversial ini muncul. Paulus pun memiliki beban yang sama, namun menurutku pernyataannya lebih “masuk akal”…

Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus (untuk sementara) demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. (Roma 9:3)

Ketiga, Musa merupakan pemimpin yang sangat bertanggungjawab. Walaupun Musa sendiri benar, bagi dia kesalahan bangsa Israel adalah kesalahan dia sebagai pemimpin. Dia siap menerima konsekuensi harus meninggalkan kenyamanan dan berkat Tuhan demi menderita bersama bangsanya atas kesalahan yang mereka lakukan.

Seorang pemimpin sejati haruslah penengah, pengasih, dan bertanggungjawab.

Biarlah TUHAN,  yang mengepalai mereka waktu keluar dan masuk,… supaya umat TUHAN jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala. (Bilangan 27:17)

Pernyataan yang sungguh mulia ini keluar dari bibir Musa sesaat setelah Tuhan mengatakan bahwa dia tidak boleh masuk ke tanah Kanaan. Lihat! Musa tidak pundung, dia tidak berontak, walau harapannya untuk masuk Kanaan sudah tertutup rapat selamanya, dia tidak mempesiunkan diri sebagai pemimpin Israel, dia tidak berpikir “yawdah kalau gitu ngapain lagi gw memimpin?”.

Hati Musa tidak dia arahkan kepada Kanaan (berkat), namun kepada Allah dan bangsanya. Israel ada di dalam hatinya. Dia melihat Israel seperti domba yang benar-benar harus dipimpin. “Duh gimana yah mereka nanti kalau gada yang memimpin, amankah mereka, bisakah mereka bertahan, apakah mereka akan setia pada Allah?”. Ini bukan pernyataan kekhawatiran namun merupakan perhatian dan kasih sayang yang begitu dalam dan lembut bagi orang-orang yang dia pimpin. 

Sudahkah kamu sebagai pemimpin memiliki hati yang demikian bagi domba-domba gembalaanmu? 

Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, (Keluaran 3:11)

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara (Keluaran 4:10)

Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja
(Bilangan 11:14)

Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini?
Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”
(Kejadian 17:4)

Orang yang sama yang mengatakan semua ini, dialah juga yang akhirnya menjadi pemimpin terbesar sepanjang masa, tidak hanya bagi Israel, tetapi juga bagi dunia. Tentu saja setelah Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada perdebatan akan hal itu.

Menjadi pemimpin yang Allah pilih sendiri tidak pernah menjamin suatu kenyamanan, tidak menjamin akan ada apresiasi, tidak pernah memberi kepastian bahwa semua orang akan mendukungmu, dan tidak juga menjanjikan bahwa kamu akan mengecap berkat yang kamu kejar itu. Akan tetapi, percayalah bahwa ketika Allah yang memilihmu, Dia-lah yang akan menjadi Pribadi yang paling pertama, yang berada di barisan paling depan,  untuk mengapresiasimu, untuk mendukungmu, dan untuk membelamu

Jadi, apakah kau seorang pemimpin?

Soli Deo Gloria
Segala puji, kemuliaan, dan hormat, hanyalah bagi Tuhan dan Rajaku, Yesus Kristus.

Advertisements

2 thoughts on “Yakin Kamu Pemimpin???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s