Merenunglah bersamaku, Kawan

Aku menulis ini sambil merenung dan aku mengajakmu mengambil waktu teduh sejenak.
Menyendirilah
Hanya kamu dan kamarmu yang sunyi, dingin
Lalu merenunglah bersamaku

Apakah arti hidup ini?
Pikirkanlah dalam-dalam
Telusuri semua hasrat keinginanmu
Ingat kembali semua harapan dan cita-citamu

Bersamamu yang sedang merenung
Aku bersamamu
Merenung bersamamu

Dan izinkan aku menceritakan apa yang kurenungkan

Aku melihat anak-anak muda di ruangan itu, mereka cukup banyak jumlahnya, tampaknya itu ruang kelas. Anak-anak muda itu tampak antusias, tidak ada yang tertidur, tidak ada yang berbicara satu sama lain, wajah mereka seperti wajah orang yang sedang menonton film yang sedang berada pada klimaks ceritanya. “Apa setelah ini, apalagi setelah ini“, mereka benar-benar penuh semangat. Wajah-wajah penasaran itu menghadap ke depan kelas. Dan di sana, ternyata ada seorang lelaki, yang tidak muda tidak juga tua, mungkin berusia sekitar 35 – 40 tahun.

Lelaki itu tampak bahagia sekali …

Benar, lelaki itu bahagia sekali, dia tidak kalah antusiasnya dengan para murid yang sedang mendengarkan dia berbicara. Mata lelaki itu, memancarkan kehangatan, memancarkan semangat, tanda dia sangat mengasihi mahasiswanya dan peduli pada mereka.

Dan tahukah kamu, wahai kawanku yang sedang merenung denganku?
Lelaki itu adalah aku
Aku beberapa tahun lagi
Aku yang telah melewati fase-fase kehidupan yang penuh lika-liku
yang akhirnya sampai kepada tujuannya… cita-citanya

Dan tahukah kau kawanku?
Saa ini, aku merasakan apa yang lelaki 35 tahun itu rasakan

Saat ini, aku merasakan kebahagiaan itu. Aku sangat senang, kalau aku membiarkan diriku terus merenung seperti ini, aku yakin aku bisa nangis karena bahagia. Sungguh, aku seperti tidak sabar menanti masa-masa itu. Masa di mana aku bisa berhadapan dengan mereka, dan mengajar mereka, dan mengubahkan hidup mereka.

Akan tetapi, wahai kawanku,
Aku saat ini kemudian bertanya pada diriku sendiri
“Richard, jika kamu sudah mencapainya, terus apa setelah itu?”
Dan aku tidak bisa menjawabnya

Bagaimana denganmu kawanku?
Sudahkah kau merenungkan cita-citamu?
Bagaimana rasanya?
Dapatkah kau menangis bahagia seperti aku?
Kalau kau sudah membayangkan dan merasakannya, tanyalah dirimu,
“Terus kalau cita-cita sudah tercapai, lalu apa?”

Aku yakin, kau pun tak akan bisa menjawabnya
Mengapa?
Karena setelah berada di puncak, kita hanya punya dua pilihan

Pilihan pertama adalah kembali ke belakang dan menuruni puncak itu
Pilihan kedua adalah berjalan maju dan menanti saatnya kejayaan itu berakhir
Dengan kata lain, pilihan keduapun mengarahkanmu menuruni puncak itu

Benar
Kita tidak akan selamanya berada di puncak
Bak sebuah kurva, puncak hanyalah 1 titik tertinggi dari kurva itu
Sedangkan di kiri dan kanan puncak itu adalah jalan menurun

Kita tak akan bisa kembali ke belakang
Kita tidak bisa membalikkan waktu dan mengulang kembali masa-masa berada di puncak
Satu-satunya pilihan kita adalah maju ke depan
Dan jalan di depan kitapun pada dasarnya adalah sebuah jalan menurun bukit

Kau setuju kan denganku, kawan? Itulah sebabnya aku kesulitan menjawab, “lalu apa setelah itu?” Karena aku tidak siap memikirkan realita bahwa cita-citaku pun hanya sesuatu yang fana, yang lekang oleh waktu, yang pada akhirnya akan mengantarkanku untuk akan mengatakan “that’s it? hanya ini?”

Jika demikian, lalu apa arti hidup ini kawanku?
Cobalah kau pikirkan perkataanku berikut ini baik-baik
Sungguh, renungkanlah dan jangan cepat-capat menghakimi perkataanku berikut ini:
“Bagiku, lebih cepat pulang ke rumah Bapa, lebih baik”

Ya, aku mau pulang. Aku capai hidup di dunia ini. Bahkan cita-citaku pun tak dapat memberikan sukacita abadi dalam hidupku. Apa yang bisa kuharapkan dari dunia ini? Dunia yang fana ini.

Di sana, Bapaku menantiku dengan sabar. Dia sudah menyiapkan pesta kepulanganku yang aku yakin itu akan sangat meriah. Malaikat-malaikat menyiapkan pesta itu dengan antusias. Tidak ada yang bersungut-sungut keletihan karena mereka semua merindukan kepulanganku. Waaahhhh, bukan itu indah sekali, Kawan?

Sudahkah kau mempersiapkan diri untuk pulang, Kawan?

Tapi kita tidak tahu kapan Bapa akan memanggil kita. Sambil menunggu Dia menjemput, kita harus mengisi waktu ini dengan hidup. Hidup yang seharusnya penuh arti. Mungkin bisa  diwarnai oleh cita-cita kita tadi, cita-cita yang kita tahu akan berakhir dan akan dilanjutkan oleh perjalanan menuruni bukit tadi. Tapi kawanku, aku punya rahasia, rahasia yang ingin kubagikan padamu, supaya penantian kita untuk pulang menjadi lebih bermakna, bahkan lebih bermakna dibanding mengejar cita-cita kita tadi. Apakah rahasiaku?

Hiduplah sehari demi sehari
dan pandanglah satu hari sebagai satu tugas BARU untuk melayani Tuhan

Dengan demikian kita tidak akan bosan, Kawan. Menjalani rutinitas yang itu-itu saja,kita tidak akan bosan. Mengapa? Karena kita tahu bahwa kita sedang menjalani tugas yang Tuhan pasang di pundak kita.

Ketika kau lelah
Ketika kau bosan
Ketika kau disakiti
Ketika kau jatuh
Ketika kau marah
Ketika kau sedih
Ingatlah kawan “hari ini adalah tugas baru untuk melayani Tuhan

Hari ini adalah tugas baru untuk melayani Dia. Dengan begitu, setiap hari akan sangat menjadi sangat berarti dan bermakna karena setiap hari kita adalah BARU dan lengkap dengan semua kejutan-kejutannya.

Bagaimana usulku, Kawan?
Baiklah, yuk siap-siap bangun
Jangan lupa, saat ini kita masih dalam dunia perenungan kita
Ayo, saatnya bangun, saatnya kembali ke dunia nyata

Tidak perlu terlalu lama di dunia perenungan ini
Kita sudah dapat kesimpulan yang kita perlukan, bukan?

Baik kawan, sebentar lagi kita akan berpisah. Aku akan kembali ke jalanku, untuk mewarnai hidup penantianku dengan mengejar cita-citaku sambil aku menghidupi hari-hariku menjalankan tugas yang Tuhan taruh di pundaku, sembari aku menunggu panggilan-Nya untuk aku pulang.

Bagaimana denganmu kawan? Aku tak tahu apakah bisa bertemu lagi denganmu. Mungkin kita akan bertemu di puncak sana? Atau di rumah kita yang di sorga. Well, di manapun itu, semangat yah!

Yuk pulang
Yuk bangun
Banyak hal yang harus kita bereskan nih

Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
(Pengkhotbah 1:2)

Akhir kata dari segala yang didengar ialah:
takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya,
karena ini adalah kewajiban setiap orang.
(Pengkhotbah 12:13)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s