That Kind of Loving Change Everything

Suatu waktu bertemulah seorang pelancong dengan seseorang yang sedang berusaha memotong sebuah pohon.

“Kau sedang apa?” tanya pelancong. “Tak bisakah kau lihat, aku sedang memotong pohon ini” jawab sang pemotong agak stress. “Kau terlihat lelah, sudah berapa lama rupanya kau memotongnya?” “Sudah 5 jam dan aku sudah terlalu letih” sang pemotong menanggapi. “Kalau begitu, mengapa kau tidak berisitirahat saja sambil mengasah gergaji itu, aku yakin nanti pasti akan lebih cepat” sang pelancong memberikan saran. “Aku tidak punya waktu mengasah gergaji itu, aku terlalu sibuk memotong.”

Nampaknya ini yang sering sekali terjadi dalam kehidupan pelayanan kita. Kita terlalu sibuk dengan hingar bingar acara dan kepanitiaan. Tidak jarang kita temui panitia yang aktif tapi tidak pernah berdoa bagi acara itu sendiri. Kerap kali kita menyiapkan agenda dan bahan PA, tapi tidak pernah mendoakannya beberapa hari sebelumnya. Kita menjadi MC, usher, operator, pelayan mimbar tapi kita tidak berdoa mempersiapkan diri. Kita tidak berdoa bagi keluarga PA kita, apalagi teman-teman kita. Agenda kita penuh tetapi tidak ada hati yang tersentuh, tak ada hidup yang diubahkan. Mengapa? Karena kita tidak berdoa…

Semakin aku bertumbuh di dalam Tuhan semakin sering pikiran ini memenuhi benakku:

  • Kalau aku anak Tuhan, aku tak boleh sama lagitak akan sama lagi
  • Kalau aku anak Tuhan, tidak mungkin tidak, aku PASTI BERBEDA, beda beda beda!!!

Aku tidak mengatakan bahwa aku akan membuat-buat supaya diriku berbeda dan unik. Yang aku katakan adalah aku pasti berbeda karena ada kuasa dari dalam yang secara otomatis membuatku berbeda dari orang dunia. Kalau aku tidak berbeda dengan dunia, berarti ada yang salah denganku. Ya, aku pasti berbeda, aku harus berbeda.

Perenungankupun berlanjut…

  • Aku adalah seorang Kristen
  • Seorang Kristen harus berbeda dari dunia
  • Hal utama bagi seorang Kristen adalah kasih

artinya, cara seorang Kristen mengasihi tidak mungkin sama dengan dunia. Tapi bagaimana caranya?

Kalau kasih itu hanya sebatas berbuat baik kepadanya, tersenyum baginya, menolongnya, menghormatinya… bukankah dunia juga bisa melakukannya? Binatangpun tahu mengasihi anak-anaknya. Lalu, apa bedanya orang Kristen yang selalu berkoar-koar tentang kasih? Apa bedanya aku?

Di tengah-tengah pergumulan, Tuhan mengingatkanku satu hal: “Kalau kau mengasihi orang-orang, pikirkanlah wajah mereka di dalam doamu, doakanlah mereka SATU PER SATU. Kalau kau mengasihi persekutuanmu, doakanlah juga itu senantiasa. This is how a Christian loves and this kind of loving, changes everything.”

Spurgeon

Mulai saat itu aku mengerti bagaimana seorang Kristen harus mengasihi. Kasih yang berbeda dari dunia, kasih yang mengubah segala sesuatu, itulah doa. Berbuat baik, menolong, tersenyum, bahkan PA dan PI sekalipun belum cukup. Semua hal itu menunjukkan bahwa kita “mengasihi” tetapi Allah menghendaki kita “mengasihi dan menjadi setia” sekaligus.

Jika kasih dibuktikan melalui apa yang kita lakukan, maka setia dibuktikan melalui waktu. Adapun waktu, adalah penguji paling berat bagi doa-doa kita. Dalam doa, kasih dan setia kita diuji…

Doa mengubah segala sesuatu. Kita sering memandang rendah pernyataan ini karena kita berpikir bahwa “Allah-lah yang mengubah segala sesuatu, bukan doa kita. Jadi jangan terlalu sombong kau mengatakan doamu mengubah segala sesuatu.” Akupun pernah berpikir demikian, but I’ve changed…  

Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya (Keluaran 14:16).

Apakah Musa yang membelah air itu? Apakah tongkat itu yang berkuasa? Apakah mengangkat dan mengulurkan tangan ke atas laut adalah manteranya? Jika jawaban Anda adalah TIDAK, lalu mengapa Allah harus memerintahkan hal demikian? Yang aku yakini, karena Allah ingin Musa juga terlibat dalam mujizat-Nya.

Dia tak mau bekerja sendirian…

Dan itulah yang juga Dia kehendaki untuk kita lakukan. Ketika Dia hendak bekerja, melakukan perkara yang dahsyat, Dia mau kita terlibat di dalamnya, dan itu semua dimulai dari doa. Dia mau kita berdoa dan dengan demikian kita WAJIB berdoaMelalui doa, kita terlibat dalam mukjizat Ilahi..

Jadi, apakah doa mengubah segala sesuatu? Ya, doa yang lahir dari iman akan mengubah segala sesuatu, karena Tuhan-lah yang bekerja di dalamnya.

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat,
supaya mereka mendoakan dia
Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu
dan Tuhan akan membangunkan dia;
dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni
(Yakobus 5:16)

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya. (Yakobus 5:17-18)

Lihat?
Doa yang lahir dari iman, mencegah dan menurunkan hujan. Doa yang lahir dari iman, menyelamatkan orang itu, bahkan, dosanya pun diampuni. Doa akan menguatkan aku, doa akan menyentuh hatinya, doa mengubah segala sesuatu.

Seorang yang berdampak kekal pastilah seorang pendoa.
Tanpa doa, mungkin dia berdampak, tapi dampaknya lekang oleh waktu.
Tanpa doa, mungkin dia berdampak, tapi tak ‘kan pernah dia menyentuh dan mengubahkan hati seseorang.
Tanpa doa, dia kira dia berdampak… padahal tidak

Kita selalu berdoa agar kapasitas diri kita diperbesar oleh Allah. Ketahuilah, cara memperbesar kapasitas diri adalah dengan memperluas jangkauan doa kita. Seluas jangkauan doamu, selapang itulah hatimu, sedemikianlah kebesaran jiwamu, itulah kapasitasmu…

Jadi, kawanku yang kukasihi, jika benar kita mengasihi, maka kita pasti/harus/akan selalu berdoa bagi persekutuan kita, kepanitiaan kita, orang tua dan saudara kita, keluarga PA kita, teman-teman kita seiman, gereja Tuhan di mana-mana tempat, bangsa kita, dan …. (isilah sendiri). Karena jika tidak, hampir-hampir tak ada bedanya kita dengan dunia ini. Karena jika tidak, apa kata dunia?

Terakhir… Tempo hari ketika syukwis, aku diminta mengirimkan sms berisi motto hidupku. Akupun lekas membalas sms itu dengan motto yang selalu kujunjung: “Kunci kesuksesan adalah ketekunan.”

Sungguh, tak lama setelah aku mengirimkan sms itu, aku membuka FB seorang teman, aku tak tahu mengapa aku tergerak membuka FBnya, lalu, aku menemukan sebuah ayat di sana, ayat yang sudah sering kudengar, tapi kali ini berbeda. Aku tidak membatalkan smsku itu tapi untuk selamanya motto hidupku akan berubah dan digantikan oleh ayat itu… ayat apa itu?

Love Never Fail

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s