Aku tak ada apa-apanya

Aku adalah orang yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi akan kemampuanku dalam BEKERJA KERAS

Aku bukanlah orang yang cerdas; terkadang aku cukup lambat untuk memahami sesuatu.
Aku bukanlah orang yang berbakat; aku tidak suka dengan gadget karena aku gaptek.
Aku tidak mahir bermain video game; permainan musikku biasa saja.
Aku juga berasal dari keluarga miskin; tidak banyak sumber daya yang aku miliki.

But… when it comes to HARDWORKING
aku cukup yakin aku bekerja relatif lebih rajin dan keras dibanding kebanyakan orang

Aku tidak pernah takut berkompetisi. Aku tahu IQ-ku sebenarnya ada tingkat-tingkat bawah jika dibanding anak-anak ITB yang lain. Aku tidak pandai menggunakan komputer karena keluargaku tidak mampu membelikanku komputer. Aku bahkan tidak punya laptop sampai tingkat 3. Tapi aku tidak pernah takut berkompetisi.

Seberapapun IQ Anda… seberapapun Anda kaya sehingga mampu memiliki banyak sumber daya… aku yakin “KERJA KERASKU” jauh lebih besar daripada apapun yang Anda punya….
dan ketika aku diwisuda… aku pun bisa tersenyum lebar dan berkata… “terima kasih Tuhan karena bukan kecerdasan, bukan keterampilan, bukan kekayaan yang Kau berikan padaku, tetapi KERJA KERAS”..
Ya, aku berhasil membuktikan teoriku bahwa kerja keras itu jauh lebih mematikan dibandingkan hal-hal yang kusebut tadi

Akan tetapi, hari ini, ketika aku menulis ini, aku teringat lagi masa-masa perjuanganku di kampus, ketika mengerjakan Tugas Akhir. Ketika mengerjakan TA, hampir tiap hari aku tidur pagi, mungkin sekitar jam 2 dan tahukah kamu, aku bertingkah seperti orang yang tidak berdaya. Jiwa kerja kerasku berteriak-teriak “ayo bangun, kerja, kerja, kerja“tetapi tubuhku menolak dan akupun tertidur tanpa menyadarinya. Aku menjadi sering mengasihani diriku dengan berkata, “aduuuh ngantukknya, Oh Richard, kasihan sekali dirimu tiap hari begadang seperti ini.

Pada suatu hari, perutku lapar, mataku mengantuk, tapi deadline menanti, aku tak boleh tidur kalau begini. Akupun berjalan keluar untuk mencari nasi goreng dan tak kusangka, perjalanan ini mengajarkanku sesuatu.

Aku memandangi Bapak si pembuat nasi goreng, dia duduk sendirian, nampaknya jualan sepi.
Aku mendekat dan dia menatapku, wajahnya menyatakan dia berharap aku membeli dagangannya. Akupun membeli nasi goreng dari bapa itu karena rasa sedikit kasihan.
Sembari beliau membuatnya, aku melihat jualan nasi goreng lain yang ramai.
Aku memperhatikan sang Bapak di sana yang sangat bersemangat membuat pesanan nasi goreng yang nampaknya banyak, aku senang sekali melihat beliau bersemangat.
kala itu sekitar jam 1 lebih sedikit

Lalu aku pulang dan aku berpikir
wah, dua bapak tadi luar biasa yah, mereka bisa mengatasi kebosanan mereka ketika di atas jam 12 malam sepi pembeli, yang pasti hawanya sangat dingin. Mereka berjualan dari jam 7 malam sampai jam 2-an pagi non-stop. Setelah pulang pasti mereka tidur, tidur sampai siang di mana anak2nya pasti sedang sekolah.”

“lalu ketika anaknya pulang, pasti si bapak sudah bersiap-siap berjualan. Trus, kapan dong si bapak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga? Wah hebat, bapak melakukan hal yang sama SETIAP HARI SEPANJANG TAHUN SELAMA BELASAN TAHUN. Apakah beliau tidak bosan? Pastilah beliau bosan tapi beliau mampu mengalahkan kebosanannya, beda banget sama aku yang cepat sekali bosan”

“Tapi mengapa mereka bisa sekuat itu?

Lalu aku membandingkan mereka dengan diriku, diriku yang sangat percaya dengan kerja kerasku.
Dan aku mengakuinya dalam hati:
“sekalipun aku berpendidikan jauh lebih tinggi di atas mereka, sekalipun aku punya kemampuan kerja keras yang kubanggakan, aku tetap tidak apa-apanya dibandingkan mereka”

Sebelumnya, aku punya slogan “The Power of Nothing To Lose“…
Aku mengira bahwa ketika kita “nothing to lose” kita bisa mengeluarkan potensi yang sangat besar dibandingkan ketika kita berada di bawah tekanan

Aku juga mengira bahwa kekuatan yang besar bisa timbul oleh harapan dan cita-cita kita
Semakin kuat kita memotivasi diri untuk mengejar harapan itu,
semakin besar kekuatan yang bisa kita “unleash”

Akan tetapi….
Setelah melihat kedua bapak tadi, aku menjadi sadar
kekuatan terbesar bukan berasal dari kondisi nothing to lose
kekuatan terbesar bukan berasal dari under pressure
kekuatan terbesar bukan berasal dari hope and dream

kekuatan terbesar
berasal dari keinginan untuk melindungi orang-orang yang KITA KASIHI

Ya… apapun itu, sesuatu yang sejati tidak pernah berbicara tentang SESUATU melainkan SESEORANG

Bagaimana dengan Anda?
Apakah harapan terbesar Anda?
Apakah itu berbicara tentang sesuatu atau seseorang?

Mari kita belajar dari teladan Yesus Kristus… Allah sendiri, yang turun ke bumi menjadi manusia… untuk menebus dosa ORANG-ORANG yang Dia KASIHI
Tiada kasih yang lebih besar dari itu… tiada kekuatan yang lebih besar dari itu

Mari merenung kembali. Aku berharap kamu sudah punya seseorang atau orang-orang yang ingin kamu lindungi. Dan di atas semua itu, tidak ada hal yang lebih penting untuk diketahui selain bahwa Allah mengasihi kita di dalam Kristus Yesus dan tidak ada hal yang lebih penting untuk dilakukan selain mengasihi-Nya di dalam Kristus Yesus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s