Hujan Terderas dalam Hidupku, Sebuah Kesaksian

Kejadian ini sesungguhnya sudah cukup lama, kira-kira 3 tahun yang lalu…

Kala itu, aku dan kawan-kawan seangkatan di jurusan sedang menjalani proses kaderisasi atau Osjur.
Aku ingin masuk ke dalam divisi PSDA (Pengembangan Sumber Daya Manusia) tetapi sebelum bisa diterima sebagai anggota resminya, aku harus melewati proses magang terlebih dahulu. Dalam proses magang ini, kami anak-anak magang mengadakan makan malam yang mengundang senior alias anggota resmi himpunan. Tujuannya tentu saja untuk lebih mengenal satu sama lain antara magangers dengan anggota divisi.

Pada saat acara makan malam tersebut, aku sedang pelayanan. Pada saat menulis ini, aku benar-benar lupa pelayanan apa yang aku kerjakan yang jelas aku sedang pelayanan. Pada saat itu hari sudah cukup malam, aku sudah capai setelah selesai pelayanan. Mengingat tempat makan malamnya aku tidak tahu, dan yang aku tahu hanyalah tempat itu sangat jauh, aku rasa aku tidak perlu datang ke sana lagi karena kalaupun aku datang, pasti acaranya sudah hampir selesai.

Akhirnya, akupun meminta izin kepada teman-teman melalui sms. Sebelumnya, aku sudah meminta izin telat karena sudah ada pelayanan di PMK pada saat yang sama. Kali ini, aku hendak meminta izin untuk tidak jadi datang dan berharap mereka maklum.
Akan tetapi, reaksi yang aku terima tidak aku duga, aku merasa terpojok dan terhakimi. Bahasa mereka di sms seolah-olah mengatakan “lu calon non-him berjaket” atau “lu ga setia kawan”  atau “lu mau enaknya doang, mau dilantiknya doang, teman sudah capek-capek”.

Aku terintimidasi dan aku bergumul pada saat itu.
“Aduh aku sudah sangat letih”… “Aku ga tau tempatnya”…. “Ini sudah malam loh”
Tapi sisi lain dari diriku berkata “Richard, kamu harus pergi, nanti kamu jadi batu sandungan”

Akupun pergi… aku naik angkot sambil sms-an dengan kawan meminta petunjuk arah.
Akhirnya aku sampai ke tempat pemberhentian angkot dan dari sana aku harus menyambung dengan angkot lain. Sudah kuduga, tempatnya jauh.

Lalu, tahukah kalian apa yang terjadi?
Hujan turunlah

Aku tidak mau lebai… tapi sampai saat ini aku belum pernah merasakan hujan yang lebih lebat dari malam itu

Kala itu… hatiku sedih sekali… 
dan aku hendak meminta penjelasan dari Tuhan …
“Bapa, aku barusan melayani Engkau, loch… aku capai Tuhan, lalu Engkau menyuruh aku datang ke tempat ini, tapi belum lagi aku sampai… aku masih harus mencari-cari tempatnya, tapi kini Engkau menurunkan hujan sederas ini. Apa yang Engkau mau dariku Tuhan, apa yang ingin Kau lihat dari ujian ini?”

Tuhan tidak menjawabku… yang aku tahu hanyalah ada keyakinan yang timbul dari dalam hatiku, yang tidak aku buat-buat, yang mengatakan bahwa Dia akan meredakan hujan ini pada waktu yang paling tepat

Akhirnya aku sampai di tempat pemberhentian terakhir, di suatu warung
Dari warung itu aku harus berjalan sejauh kira-kira 100 m untuk sampai ke tempat tujuan
Aku masih mengulur-ulur waktu menunggu kapan hujan diredakan seperti yang hatiku yakini tadi… tapi hujanpun  tak kunjung reda

Akhirnya, aku menyerah… Dengan sedih aku berkata saat itu, “aku tetap mengasihi-Mu, Bapa”
dan akupun melangkahkan langkah pertamaku…
dan tahukah kalian? Detik di saat kaki pertamaku menyentuh jalan adalah detik di mana hujan reda, beberapa detik setelah itu hujan reda 100%

Wooowww…. itu adalah hujan paling lebat dalam hidupku, tapi reda hanya dalam hitungan detik… pada saat yang tepat persis ketika aku mulai melangkah….
Aku sempat terdiam di jalan… dan aku berlari menuju tujuan sambil tertawa dalam hati, hatiku penuh kegirangan, dan hatiku menyembah Tuhan

Aku sampai, dan acarapun puji Tuhan belum berjalan setengahnya….aku tidak ketinggalan apa-apa

Apa yang aku saksikan ini adalah kisah nyata… Apakah itu mukjizat? Ya, aku yakin itu terjadi karena campur tangan Bapa
In fact, mukjizat itu terjadi setiap saat… tergantung apakah kita mau menerimanya sebagai mukjizat atau hanyalah suatu kewajaran

Dari hal ini aku belajar bahwa Tuhan peduli pada kita…
Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan di detik ketika kita hendak melawan Dia, Dia tetap ada di sini
dan Dia tidak akan pernah membiarkan anak-anakNya dipermalukan… Dia akan selalu menjadi yang terdepan dalam membela kita

Aku juga belajar bagaimana bisa mengucapkan  “aku tetap mengasihi-Mu, Bapa”  walaupun pada saat itu aku benar-benar merasa dipermainkan oleh Tuhan. Aku tahu aku bisa mengatakannya karena Bapa-lah yang memampukan hatiku untuk mengasihi-Nya

Akhir kata…
Oh bukan pada harta yang fana sukacita itu bertumbuh… tapi sungguh takkan percuma bila melayani Tuhanku

Soli Deo Gloria
Semoga memberkati

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s