Seperti Bapa Sayang Anaknya, Sebuah Kesaksian

Aku pernah sangat membenci ayahku…
Aku pernah mengharapkan ayah dan ibuku bercerai…
Aku pernah berpikir alangkah indahnya hidup jika ayahku tidak ada lagi…

Aku meninggalkan rumah dan datang ke Bandung untuk menuntut ilmu dengan kondisi yang demikian…

Akan tetapi, di kampusku aku mengenal Tuhan dan aku belajar apa arti mengampuni
Aku adalah orang yang sangat hina, jika aku membuka seluruh masa laluku kepada Anda, mungkin Anda pun akan jijik melihatku
Aku tahu siapa aku sebelumnya dan aku sama sekali tidak menemukan alasan mengapa orang sepertiku berhak mendapatkan keselamatan
Tapi Allah… Dia datang kepadaku, tidak pernah menghakimi aku, Dia tahu siapa aku dan Dia peduli padaku, Dia mengampuniku

Ketika memandang diriku yang penuh dosa, di mata-Nya bukanlah “Richard yang penuh dosa”
apa yang ada di mata-Nya ketika melihatku yang masih berdosa adalah “Richard yang sempurna ketika Aku mengenakan jubah keselamatan-Ku padanya”

Ya, Dia selalu memandangku berharga…

Pengampunan-Nya memulihkanku… aku yakin, jika kaupun mau menerima-Nya, kau pun akan beroleh pengampunan abadi

Akan tetapi tidak bisa hanya sampai di sana… jika aku telah diampuni, akupun harus mengampuni… Aku harus mengampuni ayahku

Aku bergumul luar biasa… Sebenarnya aku sudah mengampuni ayahku, ya.. pengampunan Allah membuatku “lebih mudah” mengampuni
Tapi tuntutan Tuhan tidak sesederhana itu… Dia tidak mau aku hanya mengampuni, aku harus memulihkan hubunganku dengan ayah
Inilah yang membuatku bergumul
Aku canggung sekali… Aku malu… Aku gengsi… Aku tidak punya kelembutan semacam itu

Aku mencoba mengajukan kelonggaran pada Allah, tapi nampaknya Tuhan tidak semudah itu dilobby….
Dia berkata, “kamu canggung? kamu malu? kamu gengsi? Susah kaan… makanya jangan andalkan kemampuan sendiri… sadarkan sekarang betapa lemahnya dirimu, bahkan untuk meminta maaf kau tak mampu… baiklah, biarkan Aku yang menguatkanmu”

Aku ikut aturannya Tuhan dan akupun mengobrol dengan Bapak di HP… dan tahukah kamu rasanya, detik-detik terakhir sebelum aku mengatakan “aku mengasihimu, Pak”
Detik-detik itu seolah bibirku beku…. Seolah-olah di depanku ada gunung yang tak bisa kudaki…
Tapi puji Tuhan… Dia membawaku terbang tinggi mengatasi gunung itu dan kata-kata itupun keluar dari mulutku… aku mengasihimu, Pak”

 Setelah kata-kata itu kuucapkan… hubunganku dengan bapak Tuhan pulihkan… dan tak akan pernah sama lagi
Aku mengerti sekarang, sebelum aku mengorbankan rasa gengsiku, sebelum aku menundukkan egoku, Tuhan enggan bekerja terlalu banyak
Tetapi setelah aku patuh, barulah Dia membukakan di mataku, pekerjaan-pekerjaan luar biasa yang sudah Dia rancangkan dari awal…

Ingat… ketika Tuhan mau menyembuhkan seorang lumpuh, Dia berkata “Berdirilah!!!”
artinya, sebelum orang itu mau menundukkan egonya, rasa malasnya, ketidakpercayaannya, dan enggan berdiri… dia tak akan sembuh
tapi di detik di mana dia patuh dan mulai menggerakkan kakinya… di saat itulah kesembuhan telah terjadi
Jadi, apakah kesimpulannya?
Tuhan tidak mau bekerja sendirian… Dia mau kau juga bekerja dalam mukjizat-Nya dan untuk itu, ada yang perlu kau tanggalkan, salah satunya egomu

Waktupun berlalu… semakin hari aku semakin sering berkomunikasi dengan bapak… walau semuanya selalu Bapak yang menelpon duluan

Suatu hari HP-ku berdering dan kuangkat…
Mamaku, tanpa menyapa, dan langsung to the point (as always -___-” , that’s why I love you so, Mum”) mengatakan
“coba jangan orang tuamu terus yang nelpon, Abang sekali-sekali telpon duluan, masa’ orang tua yang nelpon”

Aku menjawab… “aduh Mak, susaaaahhh… aku mau ngomong apa rupanya, wong hidupku rutinitas kayak gini aja, gada yang spesial, aku susah ngomong Mak… ah Mamak ajalah yang nelpon duluan”
Mamaku menanggapi… “iya tapi anak Tuhan ga boleh gitu… orangtuamu ini khawatir sama anaknya… telpon yah Nak… Mama kan senang dengar suara anaknya… iihh anakku yang ada di Jakarta…. apalagi Bapakmu, tiap hari dia nanyain gimana kabar anaknya… yah telpon yah Nak yah… ini Bapakmu mau ngomong”….

Wooowww… dari dulu aku selalu menertawakan kawanku yang sering ditelpon sama orangtuanya… seperti anak mama saja, hehehe
Akan tetapi, kini aku sadar, ini bukan tentang apakah anaknya manja atau tidak, apakah dia anak mama atau tidak… tetapi KASIH ORANG TUA-lah yang menggerakkan mereka untuk menghubungi anak2nya…
Ternyata orangtuaku juga kangen padaku, juga ingin mendengar suaraku, INGIN AKU MENELPON DULUAN

Yaaahhhh… aku mengerti sekarang bagaimana perasaan orangtua kepada anaknya…
Mereka ingin mendengar suara anaknya… ternyata kasih orangtua itu sedemikian lembut dan lebar
Lalu Roh Kudus menuntun hatiku…. “Aku juga Bapa-mu, Nak”

Aku tersentak… dan aku tersadarkan….
Kasih yang dimiliki orangtua bagi anaknya sesungguhnya adalah serpihan kecil dari Kasih Allah untuk anak-anakNya…
Jadi ketika orangtua kita rindu akan suara anaknya, betapa Tuhan jauh lebih rindu mendengar suara kita
Ketika orangtua kita mau anaknya yang menelon duluan, betapa sabar Allah menantikan anak-Nya datang kepada-Nya
Betapa tiap hari Allah menanti anak-anakNya datang menghampiri Dia

Allah rindu padamu… Allah ingin mendengar suaramu… Allah ingin “sesekali” kamulah yang “menelpon” duluan

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,
tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;
sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.
Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.
~Mazmur 103~

Sekian kesaksianku
Tuhan memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s