Sudahkah Kita Taat?

TAAT, suatu kata yang nampaknya sudah sangat sering kita dengar. Ibarat barang yang awalnya sangat kita idam-idamkan, saat mendapatkannya kita sangat bersyukur, kemudian kita berkomitmen untuk menjaganya dengan sebaik-baiknya, hari-hari pun berlalu, akhirnya barang itu menjadi biasa saja dan relatif kurang bernilai jika dibanding dengan ketika pertama kali mendapatkannya. Demikian halnya dengan suatu kata, semakin sering kata itu didengar, semakin meredup pula makna dan esensi dari kata itu di dalam hati pendengarnya. Inilah yang juga saya rasakan. Untuk rentang waktu yang cukup lama, kata “taat” terdengar biasa saja dan kurang tajam di hati saya.

Hingga suatu waktu, saya harus membawakan firman mengenai KETAATAN. Saya tidak pernah menyiapkan ini sebelumnya tetapi entah kenapa, selagi saya berbicara menyampaikan firman, tiba-tiba ada dorongan dari dalam yang mengingatkan saya akan perkataan Yesus. Perkataan itu adalah:

Matius 5 : 46-47
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?
Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
Dan apabila Engkau hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,
apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?
Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Izinkan saya menarik benang merah antara ayat ini dengan KETAATAN…

Apabila kamu melayani Tuhan HANYA dengan sesuatu yang memang menyenangkan bagimu,
APAKAH UPAHMU? Semua orang juga bisa melakukannya…

Orang yang hobi bermain musik melayani sebagai pelayan mimbar… wajar
Orang yang suka multimedia melayani di bidang multimedia… wajar
Orang yang suka eksis melayani sebagai pembicara… wajar
Orang yang senang rame-rame selalu rajin ikut persekutuan… wajar

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Tuhan tidak akan menghargai pelayanan itu. Saya yakin pelayanan sekecil apapun berharga di mata Tuhan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah itu berbeda dengan dunia? Puaskah engkau untuk terus berada di level ketaatan seperti itu? Di dalam doa, kita sering berkata, “tidak ingin yang BIASA-BIASA SAJA, saya ingin yang LUAR BIASA”.  Lalu, sekarang aku bertanya padamu, apakah definisi biasa-biasa saja itu?

Bagiku, biasa-biasa saja adalah sesuatu yang semua orang bisa lakukan.

Mari kita belajar dari tokoh-tokoh yang keTAATannya dicatat dalam Alkitab ini:

  • Nuh yang taat membangun bahtera walaupun nampak sangat tidak masuk akal. Tidak ada angin, tidak ada hujan, diolok-olok, harus membuat bahteranya di atas gunung pula… Bayangkan rasa malas dan capek yang dia rasa… tapi dia taat! (Kejadian 6:9-22)
  • Yesaya yang taat untuk berjalan TELANJANG selama 3 tahun sebagai nubuat bagi Mesir dan Etiopia. Mending kalau ada yang bertobat. Bayangkan kalau kita yang diminta Tuhan untuk telanjang, bayangkan rasa malu itu… tapi dia taat! (Yesaya 20)
  • Yehezkiel yang taat untuk membakar makanannnya di atas kotoran lembu juga sebagai bentuk nubuat. Bayangkan rasa jijik itu… tapi dia taat! (Yehezkiel 4)
  • Maria yang taat untuk mengandung Yesus walaupun hari-harinya dipenuhi rasa malu dan rasa takut dirajam karena tuduhan berzinah. Afterall, usianya masih sangat muda. Bayangkan rasa gentar yang dia rasakan… tapi dia taat!

Dari kisah-kisah ini, mari kita memaknai ulang apa arti ke-TAAT-an itu!
Bagiku, ketaatan adalah kesediaan untuk tetap melakukan apa yang Roh Kudus katakan di dalam hati nurani kita walaupun segenap pikiran, perasaan, daging, gengsi, dan emosi kita menolak untuk melakukannya.

Lalu, apa aplikasi ketaatan dalam kehidupan kita sehari-hari? Oh, sangat banyak! Namun, saat ini, izinkan saya untuk mengambil satu saja contoh ladang kita untuk berlatih menjadi taat, yakni NGE-DANUS (mencari dana usaha saat kepanitiaan). Sudah menjadi budaya di persekutuanku dulu (PMK ITB) bahwa panitia akan mencari dana dengan berjualan. Kadang jualan kue di kelas-kelas, kadang jualan kue di perumahan, kadang jualan bunga, kadang jualan baju bekas. Pertanyaan bagi kita, sudahkah kita TAAT dalam panggilan ini?

Saya sangat sependapat dengan engkau. Nge-danus itu memang panas, capek, malas, lapar, dan sebagainya. Selain itu, bangun pagi-pagi untuk nge-danus juga merupakan peperangan rohani yang sangat berat. Bukan cuma engkau, saya pun, dan mungkin semua orang juga malas nge-danus.

Namun, lihatlah! Ini bukan tentang seberapa ngantuk, capek, atau malasnya engkau, bukan tentang seberapapanasnya terik mentari, atau seberapa banyak tugas yang sebenarnya bisa kau pending, ini adalah tentang KETAATAN. Apa yang Roh di dalam hati nuranimu katakan saat ajakan nge-danus itu dengan rendah hati disampaikan padamu? Apakah yang Tuhan tuturkan kepadamu saat teman-temanmu mengajak engkau dan sangat berharap engkau untuk ikut berperan serta? Apakah engkau pernah membayangkan perjuangan mereka yang nge-danus sementara engkau berada di kamarmu yang nyaman?

Kau mungkin berkata, “saya kan sudah melakukan ini, saya kan ada kesibukan ini, jadi wajar dong ga ikut danus”. Engkau mungkin bisa mencari pembenaran-pembenaran yang rasional sehingga pikiranmu merasa tenang ketika tidak ikut nge-danus. Tetapi yang saya ingin tanyakan adalah, apakah yang hati nuranimu katakan? Apakah engkau merasakan damai sejahtera di dalam penolakan itu atau kau hanya sekadar mengharapkan kenyamanan dalam menikmati waktu-waktu santaimu?

Moody (2)

Banyak orang berdoa agar Tuhan memberikan berkat yang melimpah kepada mereka. Pertanyaannya, bagaimana seseorang bisa menampung berkat yang besar itu? Jawabannya adalah tentu saja dengan memiliki “wadah penampung” yang besar pula. Benar, untuk menerima berkat yang besar, seseorang harus memiliki hati yang besar. Tetapi bagaimana mungkin seseorang bisa berhati besar jika semua pelayanan yang dilakukannya hanyalah pelayanan-pelayanan yang pada dasarnya menyenangkan bagi dia? Bagaimana mungkin seseorang bisa berhati besar tanpa penyangkalan diri, pengorbanan, dan memikul salib? Saya tidak bermaksud mengintimidasi engkau, jauhlah dari saya perbuatan itu. Apa yang saya ingin kita pikirkan adalah, sudahkah kita taat pada “suara” Tuhan?

Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu. (Ibrani 3:15)
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati,
demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
(Yakobus 2:26)

Sebenarnya masih banyak sekali ladang buat kita berlatih untuk taat. Sudahkah engkau belajar dengan penuh tanggungjawab, sudahkah engkau menginjili, sudahkah engkau membaca Alkitab dengan rutin, sudahkah engkau membenahi kedisiplinan PA-mu, sudahkah engkau mengampuni, sudahkah engkau mengendalikan bibir dan emosimu ketika hatimu tersakiti?

Susah?
Tentu saja!
karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan Ia menyesah (mencambuk) orang yang diakui-Nya sebagai anak.
(Ibrani 12:6)

Ayo!!!
Jangan mau biasa-biasa saja, jadilah luar biasa!
Latihlah dirimu untuk TAAT!
Ingat, akhir zaman sudah dekat! Mungkin saja kita adalah generasi terakhir.

Jangan puas dengan level rohanimu yang sekarang, teruslah bertumbuh!
Alangkah indahnya jika kerajinanmu seperti Marta tetapi di saat yang sama telinga dan hatimu seperti Maria

Jadi, sudahkah engkau taat???
Think again!!!

1922335_10153179672044622_3213168884877085501_n

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s