Langkah 1 – Bapak Pemeriksa Tas

Pagi tiba…
Aku terbangun dan mengharapkan kesunyian
Tapi alarm berbunyi… “uh… kapan yah aku bisa menyukai bunyi alarm?”

Aku minum… mengambil Alkitabku… membacanya dan berdoa
Aku berbenah diri, bersiap-siap, mengambil sepatuku
Membuka pagar kosanku dan berangkat

Yap… This is My Revolutionary Road
Sebuah jalan yang harus aku tempuh, paling tidak selama 4 tahun ke depan
Tidak boleh tidak…. jalan ini ga boleh menjadi jalan yang biasa-biasa saja…. Jalan ini harus menjadi jalan revolusiku

Aku melangkah, melangkah, dan melangkah
Dan lihatlah di sana… Bapak sekuriti pemeriksa tas sedang bertugas

Sambil melangkah, dari jauh aku mengamatinya
Dan dalam hati aku bertanya…

wahai Bapak… apa yang kau harapkan untuk hidupmu
Sudah berapa lama kau bekerja seperti ini?
Pasti sebelumnya kau tidak pernah bercita-cita menjadi seorang sekuriti pemeriksa tas bukan?
Lalu, di detik kau mengatakan “iya” atas karirmu… apa yang kau rasakan, wahai Bapak?
Bagaimanakah Pak, rasanya menanggalkan cita-cita itu?
Meninggalkan mimpi dan kembali ke dunia nyata… dunia nyata bersama anak isteri yang harus kau hidupi

Wahai Bapak… aku sungguh-sungguh ingin tahu
Saat ini, masihkah kau punya cita-cita?
Atau kau berencana menghabiskan sisa hidupmu bekerja seperti ini?
Bagaimanakah rasanya Pak?

Engkau berdiri di “kantor”-mu
“Kantor” yang bahkan tidak ada tempat duduknya… hanya ada satu meja yang memisahkan engkau dengan pejalan kaki
“Kantor” yang awalnya sejuk… tapi dalam hitungan jam bisa menjadi panas terik seperti neraka
Tapi dalam keadaaan demikian pun kau tetap harus taat menjalankan tugasmu… memeriksa tas…
Memeriksa tas yang kau tahu pasti tidak memuat benda-benda berbahaya

Pernahkah kau bertanya, “mengapa aku melakukan ini semua?”, wahai Bapak?
Bagaimanakah Pak rasanya memendam pertanyaan seperti itu?

Lalu, apakah kau tidak bosan, Pak?
Melakukan hal yang sama berulang-ulang… sambil berdiri….
Sambil memberi hormat… Menyapa mereka semua, sang pejalan kaki… dan memeriksa tas mereka sambil berkata “maaf yah Mas, maaf yah Mba”
Apakah kau tidak bosan, Pak?
Bagaimanakah rasanya?

Semua pertanyaan itu memenuhi pikiranku, beberapa meter dari si Bapak
Tapi semakin aku mendekat… Hatiku semakin senang… aku tersenyum
“Wah si Bapak, gemuk yah… wah si Bapak sehat… semoga penghasilan beliau cukup dan beliau bisa menghidupi keluarganya”
Aku senang sekali…

Semakin aku mendekat… akhirnya hanya satu langkah terpisah dari beliau…. Semakin hatiku bahagia
Beliau melakukan pengabdiannya dengan senang… itu terlihat dari wajahnya
Beliau melakukan tugasnya dengan bangga…. tak ada perasaan malu berbekas di wajahnya

Tasku diperiksa…. aku berjalan semakin menjauh…. semakin menjauh
Dan aku senang sekali… aku bersyukur…
Walaupun yang bisa kulakukan untuk beliau hanyalah menyiapkan tasku untuk dibuka oleh beliau dan untuk mengatakan “Terima kasih, Pak”
Walaupun yang bisa aku lakukan untuknya hanyalah itu… Aku tetap bahagia
Karena aku tahu bahwa Bapa-ku adil… Bapa-ku akan memberkati setiap manusia yang mau berusaha TANPA BERSUNGUT-SUNGUT

Terima kasih Bapa… kau sudah memberkati Bapak itu
Ajarlah aku untuk selalu bersyukur, Bapa
Pakailah apapun yang ada padaku, untuk melayanimu Tuhan…. jika Kau menghendaki hartaku… ambillah seturut kehendak-Mu

Terima kasih Tuhan…
Aku belajar dari Seorang Pemeriksa Tas
Terima kasih Bapa atas jalan ini…. Atas Jalan Revolusiku

Aku melanjutkan langkahku….
dan lihatlah….. Di sana aku bertemu dengan seorang Bapak Tukang Ojek
to be continued

cukupkanlah dirimu dengan gajimu.
(Lukas 3:14)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s