Langkah 3 – Bapak Penyebar Selebaran

Apa yang kutemui hari ini, bukanlah bagian dari apa yang rutin aku lewati dalam jalan revolusiku
Tetapi puji Tuhan, aku belajar sesuatu dari ini semua

Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore
Aku bersiap-siap dan pulang

Seperti biasa, aku pulang dengan berjalan kaki
Aku keluar dari gedung… melewati satu, dua, beberapa gedung
Aku menaiki jembatan dan here it is, Plaza Semanggi

Aku berjalan, berjalan, dan berjalan
Hingga beberapa langkah lagi sampai aku keluar dari wilayah plaza itu
Di detik-detik terakhir, aku mengalihkan pandanganku ke depan
Dan aku melihatnya… beberapa meter di hadapanku…. aku melihat…. Bapak itu
Sekejap, pikiranku membawaku ke masa lalu… beberapa hari sebelum ini

~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~
Masa Lalu

Pada hari itu, aku berjalan, sama persis seperti apa yang kulakukan hari ini
Saat akan keluar dari Plaza Semanggi, aku melihat seorang pria tua yang memegang setumpuk kertas
Dalam hatiku, “hmmm… Bapak ini pasti akan memberikan selebaran itu… Tolak ajalah, sibuk”
Apa yang aku pikirkan ternyata benar-benar aku lakukan
Dengan gaya orang yang sok sibuk “yang ingin segera pulang dan melanjutkan pekerjaannya”
aku mengangkat tanganku tanda menolak
dan berjalan dengan langkah yang kecil namun cepat… dalam hatiku, “bereskan… tidak ada sampah yang harus kubuang”

Tapi belum lagi beberapa detik
Aku yang sudah beberapa meter terpaut dari Bapak tadi, mendengar hatiku berkata
“Apa susahnya Richard kau menerima selebaran itu?”
“Angkuh sekali dirimu dengan kesibukanmu itu, sampai-sampai kau lupa bagaimana menjadi orang yang ramah pada semua orang”
“Pernahkah kau berpikir berapa lama Bapak itu berdiri di situ, menahan panas, menahan lelah
“Menanggalkan rasa malunya, dan menebar selebaran, selebaran yang dia tau pasti akan dikumal juga tanpa dibaca oleh penerimanya?”
“Apakah susahnya, Richard? Apa susahnya berbuat sedikit saja hal baik?”

Aku tersadarkan…. Aku menyesal…. Seharusnya aku terima saja selebaran tadi…
Tapi apa daya… Tidak mungkin aku kembali ke Bapak itu dan meminta selebaran itu…
Ya sudahlah… Ampuni aku Tuhan… It won’t happen again

~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~  ~
Masa Kini

Karena teringat akan kejadian sebelumnya, aku bertekad
“Aku harus lebih baik dari hari kemarin… Ayo Richard… Ambil selebaran itu dan jadilah ramah”
Dan akupun mengambilnya

Yeeeaahhh, puji Tuhan, I did it
Akupun membaca selebaran itu dan di sana aku membaca “Pengobatan Timur” … yap, pengobatan tradisional Cina
Secara spontan, biasanya aku akan meremas langsung selebaran apapun yang aku terima

Tetapi kali ini aku bersyukur…. Aku bersyukur karena Tuhan mencegahku dari melakukan sesuatu yang bisa menyakiti perasaan seseorang
Apa yang Tuhan lakukan?
Sesaat sebelum aku meremas kertas itu…
Tuhan mencegahku
Dia berkata “Richard… Bapak itu masih melihatmu… Bapak itu sedang berkata dalam hatinya ‘pasti orang itu juga akan merobek selebaranku, sama seperti orang-orang sebelumnya’ ”
Aku menanggapi, “oh, bener juga yah Tuhan” dan akupun melihat ke belakang

Ketika aku melihat ke belakang, aku mendapati Bapak itu sedang melihatku
Dan ketika melihat aku sedang melihatnya, Bapak itu langsung membuang muka

Ternyata benar…. Bapak itu sedang menunggu kapan aku akan merobek selebaran yang dia berikan, seperti orang-orang sebelumnya
Bapak itu menunggu, kapan aku menyakiti hatinya, seperti orang-orang lain yang memang menerima kertas itu, tapi segera merobeknya tanpa berpikir dulu
Bapak itu pasti berkata, “yaah biarlah, semoga dari sekian banyak selebaran ini, selebaran yang tertolak ini, adalah satu atau dua yang akan jadi pelanggan di klinikku. Semoga”

Setelah menatap kembali ke depan, aku melanjutkan perjalananku pulang, sambil membaca kembali selebaran itu
Dan berharap Bapak itu melihatku, melihatku yang tidak merobek selebarannya
Dan berharap, semoga hal kecil yang kulakukan ini, bisa membawa setitik senyum, setitik kelegaan di hatinya
Aku pulang sambil tersenyum… Tersenyum karena Tuhan mencegahku dari menyakiti

Aku tahu, apa yang kulakukan barusan mungkin tidak akan berpengaruh pada kekekalan bapak itu
Aku juga tahu bahwa apa yang kulakukan itu juga tidak punya pengaruh bagi kekekalanku
Yesus sudah menebusku dan itu cukup, tidak ada perbuatan baik yang perlu menambah-nambahkannya
Tapi mengapa aku tetap melakukannya?
Karena aku tahu bahwa jika Yesus ada di posisiku, Dia juga tidak akan serta merta merobek kertas itu

Ya… apa yang akan Yesus lakukan jika Dia berada di posisiku?
Itu adalah pertanyaan terpenting dalam hidup ini
Aku sadar, seharusnya aku harus selalu menananyakan itu pada diriku dalam setiap waktuku

Apa yang akan Yesus lakukan… ketika Dia berhadapan dengan HAL KECIL seperti ini?

Keindahan seseorang tidak selamanya dibuktikan dari hal-hal besar yang dia lakukan
Justru, terkadang hal-hal besarlah yang dijadikan topeng untuk menunjukkan keindahan diri di mata semua orang
Pelayanan yang megah, berkhotbah, bahkan menyembuhkan orang sakit sekalipun
Kata Tuhan dalam kitab Wahyu, akhir zaman nanti akan ada orang-orang yang melakukan pelayanan luar biasa, tapi Yesus tidak mengenal mereka

Karena itu, sekali lagi… keindahan seseorang tidak dibuktikan dari hal-hal besar yang dia lakukan
Tetapi dalam setiap hal kecil yang dia
lakukan

Istimewa bukan?
Ternyata bukanlah hal-hal besar yang membedakan kita dengan orang dunia
Kita bahkan mungkin tidak akan pernah bisa melakukan hal sebesar apa yang orang dunia lakukan
Tetapi, di dalam hal-hal kecillah kita bisa melihat… bahwa Yesus hidup di dalamku… dan itu membuatku memandang diriku INDAH

Dan aku tak perlu menampakkan keindahanku itu di mata semua orang
Tetapi Tuhanlah yang akan membelaku di hadapan semua manusia

Terakhir… aku percaya tidak ada satupun hal yang kebetulan di dunia ini
Begitupun saat ini, ketika secara “tidak sengaja” aku menemukan sebuah quote di Facebook
Yang aku rasa dapat menyimpulkan apa yang kubagikan saat ini
Aku percaya… ketika aku menemukan quote menarik ini… itupun Tuhan yang menuntun jemariku ini untuk menemukannya

Karakter adalah bagaimana kau memperlakukan orang-orang yang bahkan tidak ada sama sekali kaitannya denganmu
#dan dalam kasusku ini, orang itu adalah Bapak Sang Penyebar Selebaran tadi 

Yap… demikianlah bagaimana Jalan Revolusiku ini mengajarkanku sesuatu
Sesuatu yang tak akan pernah aku lupakan

Akupun melanjutkan langkahku

Advertisements

2 thoughts on “Langkah 3 – Bapak Penyebar Selebaran

  1. thanks uda menceritakan ttg sy, sy yg menyebarkan brosur pengobatan timur itu, moga brosur itu bs memberikan info yg bermanfaat bagi yg membacanya, GBU, salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s