Nanti Tuhan Yesus sediiiihhhh …

Suatu hari aku pernah melakukan dosa.
In fact, aku berdosa setiap hari, tentu saja, tapi aku ingin membagikan apa yang kudapatkan dari pengalaman hari ini kepadamu…

Aku bekerja sebagai seorang petroleum engineer. Di perusahaan tempatku bekerja, petroleum engineer dibagi menjadi dua, yaitu engineer lapangan dan engineer pusat. Somehow, di kalangan engineer, ada kecenderungan yang merasa bahwa engineer pusat itu lebih prestisius, lebih pintar, dan lebih bergaji dibandingkan engineer lapangan. Cukup beralasan memang, karena semua petroleum engineer baru pasti akan ditempatkan di lapangan (seperti saya) dan setelah cukup berpengalaman mereka akan dipromosikan menjadi petroleum engineer pusat.

Nah, beberapa hari yang lalu. Ada seorang engineer pusat tiba-tiba datang ke lantai tempat saya bekerja dan menyapa rekan-rekan yang lain, “ane balik lagi ya ke lantai ini”.

Mendengar itu, teman-teman yang lain kaget, “loh kok bisa Mas ke sini lagi, baru 6 bulan kan jadi engineer pusat, kok ditempatin di sini lagi?”

Aku tidak ikut dalam obrolan mereka, karena aku masih junior jadi aku rada sungkan, tapi aku cukup menyimak percakapan mereka dan aku menangkap kesimpulan bahwa “si Mas” itu kembali menjadi engineer lapangan karena managernya kurang senang dengan tingkah lakunya sehingga secara sopan manager itu memindahkan dia kembali ke lapangan. Di dalam hati, aku berkata … “hemmm, wajar sih”. Yap, tingkah laku Mas itu memang terkadang cukup menyebalkan, banyak bicara, suka meremehkan, dan angkuh.

Nah, singkat cerita… Sore itu, kawanku, sesama engineer baru, datang menyapa ke mejaku dan kami membahas progress on the job training yang sedang kami kerjakan. Tiba-tiba Mas yang tadi, datang ke mejaku dan melihat hasil pekerjaanku. Akhirnya kamipun berdiskusi dan so far so good, aku tidak merasa dia sombong terhadapku atau meremehkanku. Setelah beberapa lama, Mas itupun pergi dan kawanku memulai obrolan… suatu obrolan yang seharusnya tidak kuladeni… suatu gosip.

Oh iya, aku lupa menyebutkannya. Sebagai engineer muda, kami didampingi oleh mentor yang adalah seorang engineer yang berpengalaman dan Mas yang tadi adalah mentor kawanku ini.

Gosip itu diawali oleh kawanku. Dia mengungkapkan ketidaksukaannya kepada Mas yang tadi. Dia juga menyebutkan betapa sering dia diremehkan dan bagaimana si Mas tadi sering memarahi operator lapangan yang melakukan kesalahan walaupun operator itu sudah tua. Mas itupun, katanya, pernah dengan angkuh, bertanya ke operator, “berapa sih gaji kamu rupanya?”. Kawanku itu juga menceritakan bahwa ketika dia dan Mas itu sedang survey ke lapangan, banyak engineer di lapangan yang juga menjelek2kan Mas itu di belakang karena atitudnya yang sangat buruk.

Di sinilah aku gagal menjaga integritasku sebagai anak Tuhan. Aku terhanyut dalam obrolan ini. Demi menjadi teman yang enak diajak ngobrol, aku meladeni curhatnya bahkan aku menambahkan informasi yang kudapatkan tadi pagi yaitu bahwa Mas tadi sudah dipindahkan kembali menjadi engineer lapangan karena managernya tidak suka dengannya. Obrolan kamipun berlanjut selama beberapa menit ke depan.
#Oh, bodohnya aku 😦

Lalu…  tiba-tiba… hatiku berkata….  “Richard, hentikan obrolan ini ……….….. “

Sungguh, ketika menulis ini, aku meluap-luap dalam sukacita karena suara hatiku itu. Mungkin aku lebay, tapi aku sungguh-sungguh berbahagia. Mengapa?
Karena pada saat itu hatiku tidak berkata, “Richard, hentikan obrolan ini. Titik
hatiku tidak berkata, “Richard, hentikan obrolan ini. Ini melawan prinsipmu!
hatiku tidak berkata, “Richard hentikan obrolan ini. Cowo ga boleh menggosip!
dan hatiku juga tidak berkata, “Richard hentikan obrolan ini. Nanti kamu berdosa!

Tapi apa yang hatiku katakan…. “Richard, hentikan obrolan ini, nanti Tuhan sediiiiihhh.

Woooowwww…. aku langsung tersentak dengan apa yang hatiku katakan. Akupun memilih untuk patuh dan segera menghentikan obrolan itu.

Suara itu… aku merasakan kelembutan dan kepolosan di dalamnya. Intonasi yang terdengar mirip seperti seorang anak kecil yang berkata kepada adiknya, “iiihhhh, jangaaan, ga boleh nakaal, nanti mama maraahh.” So innocent…

Aku bersukacita… sangat bersukacita karena aku tahu bahwa aku tidak mengatakannya dengan kekuatan dan kehendakku sendiri.

Aku berbahagia… sangat berbahagia karena aku tahu bahwa Roh Kudus-lah yang memimpin hatiku untuk mengungkapkannya.

Aku bergembira … sangat bergembira karena aku bisa melakukan kebaikan bukan demi kebenaran pribadiku sendiri, bukan juga karena aku takut berdosa atau dihukum, tapi karena aku tidak mau melihat Tuhan Yesus bersedih

sama halnya dengan tulisan ini… Sejujurnya, aku tidak merasa perlu membagikannya. Waktuku jadi terbuang karena menulis ini. Tapi, aku tetap menulisnya untukmu karena aku tahu bahwa Bapa kita di surga akan senang melihatku membagikan ini padamu dan mengetahui Tuhan Yesus bersuka, hatikupun serentak bersorak sorai…

Mazmur 73:8  Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; …., supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

 

Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami. (Yesaya 26:12)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s