What it’s Like “To Love”

images

Kalau ada seseorang yang bertanya kepadamu:
“Apakah yang membuat seorang manusia paling bahagia?”

Apa yang akan kau jawab? Aku rasa, sebagian orang akan yang sudah menemukan arti hidup akan menjawab, dicintai.

Ya. Aku setuju, mengetahui bahwa ada seseorang yang mengasihiku, mencintaiku, itu tentu membangkitkan sukacita di hati. Terlebih lagi, aku tahu bahwa Allah mengasihiku. Tiada fakta atau kebenaran yang lebih mendamaikan hati dan membawa sukacita dibandingkan itu kebenaran bahwa Allah mengasihiku dan memandangku sebagai anak-Nya. Harta, gelar, pencapaian, pujian, sedikitpun tidak bisa dibandingkan dengan itu.

Akan tetapi, aku bertanya kembali dalam hatiku:
Apakah benar “dicintai” adalah sukacita yang paling tinggi?

Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di benak dan hatiku. Aku kembali merenung. Dan aku menemukan jawaban, setidaknya jawaban untuk diriku sendiri. Sejujurnya, aku sedikit memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan ini. Perenunganku membawaku kepada suatu kesimpulan bahwa:
Ada sesuatu yang berbeda
Sesuatu itu… lebih sakit… lebih perih… lebih penuh pengorbanan
tetapi pada saat yang sama…. lebih indah dibandingkan “dicintai”
Dan apakah itu?
Mencintai

Lalu aku mengenang Tuhanku. Aku bertanya kepada-Nya:
Apakah benar demikian Tuhan?
Apakah Engkau setuju denganku?
Apakah bagi-Mu, mencintai itu lebih dari dicintai?

Aku tahu pikiran yang terbesit di hatiku. Menurutku, Tuhan akan memilih “mencintai adalah yang utama.” Akan tetapi, aku tahu bahwa Tuhan juga menghendaki umat-Nya mencintai-Nya. Tuhan juga ingin dicintai oleh umat kepunyaan-Nya. Jadi, aku tidak berani menyatakan yang mana pilihan Tuhan.

Tetapi inilah yang aku pikirkan dan yang selalu aku yakini:
Allahku mengasihi manusia walaupun dunia menolak-Nya
Allahku mencintai umat-Nya walau Dia tidak dicintai mereka
Allahku sudah cukup dengan Diri-Nya sendiri, tapi Dia memilih untuk menciptakan manusia
supaya Dia bisa mencintai mahluk yang bernama manusia itu

Aku percaya Allahku bahagia dalam cinta-Nya kepadaku. Aku percaya Allahku bersukacita bisa mencintai umat-Nya. Akupun merasakan hal yang sama. Aku merasakan betapa bahagianya bisa mencintai.

Aku belum pernah benar-benar mencintai seorang wanita. Aku pernah merasa diriku sedang mencintai. Namun, kini aku sadar itu bukan cinta karena aku tidak menemukan kebahagiaan itu di dalamnya. Justru, aku hilang sukacita akibat sesuatu yang aku kira cinta itu.

Lalu apakah yang aku rasakan waktu itu? Itulah keinginanku, itulah sesuatu yang mereka sebut “naksir” itu. Itu bukan cinta, itu hanyalah hawa nafsu. Itu bukan kasih yang sejati, itu hanyalah keinginan. Dan keinginan yang tanpa kasih, apabila tak terpenuhi atau yang belum terpenuhi hanya akan membuatmu penasaran, membuatmu pedih, membuatmu tak sabar, membuatmu haus, membuatmu kehilangan sukacita. Yakinlah akan hal itu.

Aku tahu, cinta tidak akan memberikan itu padamu. Cinta mungkin akan memberikanmu rasa sakit. Tuhan Yesus pun merasakan sakit itu, itulah pengorbanan. Tapi cinta tidak akan memberikanmu rasa tak sabar. Justru cinta akan memberikan kekuatan untuk bersabar menanti. Cinta tak akan memberikanmu rasa “haus” pertanda nafsu. Justru dia akan mengisimu dengan aliran sukacita dan memuaskan dahagamu. Cinta tak akan merampas sukacita dari hatimu. Karena cinta hanya akan memberikan sukacita bahkan rasa sakit (pengorbanan) akibat cintapun akan memuaskan hatimu.

Ya, aku pernah merasakan naksir itu indah. Tapi kalau ternyata naksir itu belum/bukanlah cinta, betapa indahnya cinta itu sebenarnya?

Saudaraku-saudariku di dalam Tuhan Yesus Kristus, kendalikanlah dirimu. Cinta itu indah, cinta itu berharga. Dan karenanya, cinta itu layak untuk dinantikan. Kalau kau tak sabar, kau malah tak akan menemukannya

Tapi, bagaimanapun, aku juga tahu rasanya mencintai, setidaknya kepada beberapa hal. Aku sangat mencintai ilmu dan pekerjaan yang aku geluti saat ini. Aku menemukan passion-ku di dalamnya. Walau mungkin apa yang aku kerjakan ini “tidak mencintaiku.” Dia hanya membebani tubuhku, pikiranku. Dia melepas jam santaiku. Tapi, aku tetap mencintainya. Aku tetap ingin terus menggalinya dan melakukannya. Karena aku menemukan sukacita di dalamnya.

Dan inilah kabar baiknya
Aku mencintai apa yang aku kerjakan
jadi setiap hari, aku bisa mengerjakan apa yang aku cintai itu

Aku mencintai orang-orang yang Tuhan tempatkan menjadi kawan-kawanku, menjadi keluargaku
Menjadi adik-adik yang aku pimpin. Aku bahagia bisa mencintai mereka. Walau terkadang mereka menyakiti hatiku, aku mencintai mereka dan aku bahagia karena itu. Aku tahu akupun pernah menyakiti mereka. Tapi aku yakin, setidaknya sebagian dari mereka pasti mengasihiku dan bahagia karena itu.

Terakhir
Hal terbaik untuk kau ketahui adalah “Allah mengasihi-mu
Hal terbaik untuk kau lakukan adalah “balas mengasihi Allah

Bagaimana denganmu kawanku?
Apakah kau memahami apa arti mencintai?

If I had one wish…
It would be that your life brings you a taste of happiness… 

That you can feel what it’s like to love…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s