Mengapakah Penderitaanku Tidak Berkesudahan

220px-Jeremiah_lamenting

Seharusnya, ayat ini akan mengubah hidupmu…
Jikalau kau tidak tertampar dengan ayat ini… mungkin ada yang salah denganmu
Tidak… kesalahan bukan ada padamu…
Mungkin kau hanya butuh sendiri dan membacanya…
Mungkin kau hanya butuh kesunyian dan merenungkannya sungguh-sungguh…

Ini adalah suatu Ratapan…
Yang berisi keluh kesah Yeremia dalam pelayanannya…
Cobalah untuk benar-benar merenungkan apa yang dia tulis…

Seharusnya, ayat ini akan mengubah hidupmu…
Because he really meant it…

Ratapan 3 : 1 – 23

Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya.
Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya.

Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari.
Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkan-Nya.

Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan.
Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati.

Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang berat.
Walaupun aku memanggil-manggil dan berteriak minta tolong, tak didengarkan-Nya doaku.

Ia merintangi jalan-jalanku dengan batu pahat, dan menjadikannya tidak terlalui.
Laksana beruang Ia menghadang aku, laksana singa dalam tempat persembunyian.

Ia membelokkan jalan-jalanku, merobek-robek aku dan membuat aku tertegun.
Ia membidikkan panah-Nya, menjadikan aku sasaran anak panah.

Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya.
Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari.

Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh.
Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.

Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan,
AKU LUPA AKAN KEBAHAGIAAN.

Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.
Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

Aku menangis membaca ayat ini…
Aku membayangkan, betapa sakitnya Tuhan “membiarkan” hidup Yeremia
dan aku yakin… kalau kau bersungguh-sungguh membacanya
merenungkan dan mencoba mengalami (dalam benakmu) apa yang dia maksudkan
Aku yakin, hatimu pun akan tergetar…
mungkin kaupun akan menangis

Kalau kau mencoba menelitinya…
Kau akan menemukan bahwa Tuhan mengutus Yeremia dari sejak masa mudanya…
Artinya sejak dari muda… Allah sudah “merampas” cita-cita Yeremia
dan dia patuh
# Jika aku berada di posisi Yeremia, bagaimana responku?

dan kalau kau menggalinya lebih dalam…
Kau akan tahu berapa orang yang bertobat karena nubuatannya…
Mungkin aku belum membacanya lebih teliti…
tapi setahuku dan yang pernah kudengar…
selama bertahun-tahun bernubuat, tidak ada satupun yang percaya
# Bagaimana dengan kita?
# Bagaimana perasaanmu ketika kau mengadakan suatu acara kebaktian, dan sedikit  atau bahkan tak ada yang datang?
# Kecewa bukan? Sedih sekaliii bukan?
# Yeremia merasakannya …. EVERY DAY FOR YEARS

Tidak ada satupun yang mau mendengarnya…
Sejak dari muda dia sudah berkorban demi Allah…
Tapi tak ada yang mau mendengarkan dia…
Justru dia dianiaya… dia dihajar… dia hampir mati
Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan (Yeremia 15:18)
Tapi dia tetap setia…

Itu semua sangat menggoncang batinku…
Tapi apa yang lebih membuatku kaget adalah kata-kata Yeremia setelah itu…

Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

Wooooowwww….
Siapa orang ini sebenarnya…
Betapa besar jiwanya…
Betapa sabar dia…
Betapa sering dia kecewa pada Tuhan…
tapi dia masih bisa mengatakan…
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN
tak habis-habisnya rahmat-Nya

SELALU BARU tiap pagi; besar kesetiaan-Mu

Aku malu melihat diriku…
Dari segi manapun, tidak mungkin aku berani membandingkan diri dengan Yeremia…
Orang ini… sungguh besar hatinya…
Aku yakin, Tuhan sangat peduli pada-Nya
sampai-sampai Dia mendidik Yeremia dengan cara yang sedemikian
Aku yakin, Tuhan dekat pada Yeremia
Dia mendengarkan semua keluh kesah Yeremia
dan Dia selalu menguatkan Yeremia
sehingga Yeremia bisa bertahan

Aku ingin sekali seperti Yeremia…
Yang menerima penderitaan itu tanpa melarikan diri…
Yang penuh dengan pengorbanan…
Yang tabah menghadapi penderitaan…
Yang tegar menghadapi penolakan…
dan pada akhirnya bisa berkata
SELALU BARU TIAP PAGI, besar kesetiaan-Mu

Dari…
Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan (Yeremia 15:18)
Menjadi…
Selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu (Ratapan 3:23)

Aku rasa kita bisa menarik suatu kesimpulan, kawan
Adalah wajar ketika kita merasa kecewa dalam melayani Tuhan
Mungkin kita kecewa pada Tuhan
atau kecewa kepada orang-orang yang kepadanya Tuhan mengutus kita

Tapi dari ratapan ini kita bisa belajar
Tak ada alasan untuk berhenti melayani Tuhan
karena sesakit apapun penderitaan kita…. kasih setia-Nya selalu baru setiap pagi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s