Langkah 2 – Bapak Pemeriksa Tas

Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan,
tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.
(Amsal 28:27)

Dan lihatlah!
Di sana aku bertemu dengan seseorang
Bapak Tukang Ojek…

Ketika dia melihatku, akupun menatapnya
Dan dari sorot matanya, aku tahu…
Bahwa dia sangat berharap aku bisa menjadi penumpangnya

Aku sangat ingin membantunya
Aku sangat ingin menjadi penumpang dan bisa memberinya uang sebagai tanda terima kasih
Tapi aku sama sekali tidak membutuhkan tumpangan ojek

Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya
Aku hanya bisa tersenyum
Berusaha seramah mungkin
Dan mengatakan, “maaf Pak, nggak, terima kasih”

Dalam sekejap dia merespon dengan senyuman dan anggukan kepala pertanda sopan
Ternyata keramahanku bisa membuatnya tersenyum
Ternyata kepedulianku untuk menjawab dan tidak acuh-tak-acuh, menjadi alasan buat beliau untuk bertindak sopan

Hatiku berkata, “Tukang ojek ini lain dari tukang ojek yang lain. Biasanya jika tawarannya ditolak, maka si tukang ojek juga akan langsung mengubah perhatiannya ke orang lain dan mengacuhkan calon penumpang yang menolaknya. Tapi beliau berbeda. Beliau membalas dengan senyuman dan sopan sekali.”

Aku pergi, semakin jauh meninggalkannya dengan hati senang
Setidaknya aku menolak tawaran beliau dengan cara yang sopan
Dan tidak acuh-tak-acuh
Tapi dalam hatiku, “seandainya aku bisa menolongmu, Pak… pasti aku akan tolong”

Lalu… hatiku kembali merenung…

“Apa yah arti hidup ini untuk bapak itu?”
“Bapak itu udah ada di sana dari pagi dan akan ada di situ sampai malam nanti”
“Apaaa? Trus gimana bapak itu menanti penumpang di siang hari yang sangaaaat panaaaasss”
“Di sana banyak sekali tukang ojek… apakah mereka selalu kebagian penumpang?”
“Lalu? Selama lebih dari 12 jam sehari… mereka hanya menanti dengan duduk di atas motornya?”
“Oh My God… tidakkah mereka bosan melakukan hal yang sama bertahun-tahun?”

“Lalu, bagaimana kalau hujan? Mereka akan berteduh dan menanti sambil berharap mereka bisa mendapat setidaknya SATU saja penumpang”
“Berapakah pendapatan mereka dalam sehari?”
“Bagaimana yah anak-anak mereka?”

“Bagaimana ketika anak mereka ditanya, ‘Bapak kamu kerjanya apa?’, apakah yang akan anak-anak mereka jawab?”

Ya Tuhan…
Apakah arti hidup ini?
Mengapa seolah-olah hidup ini seperti tidak adil bagi mereka?
Di kantorku, aku melihat sangat banyak orang kaya raya
Yang hidupnya jauh dari panas, jauh dari bosan, jauh dari “menanti penumpang tanpa ada kepastian”

Aku pernah merasakan menjadi mahasiswa
Ditambah, aku berasal dari keluarga yang tidak mapan dalam hal ekonomi
Aku tau rasanya, harus hati-hati sekali membeli sesuatu, bahkan membeli makanan
Aku tau sekali bagaimana rasanya “uang pas pas an”
Yang ibuku bahasakan dengan “apa-apa serba terbatas, gak bisa napas

Aku pernah merasakan berjualan kue untuk mencari dana
Di mana setiap pintu yang diketuk selalu membangkitkan harapan
“semoga yang ini beli…. semoga yang ini beli…”
Tapi baru beberapa kali ditolak… aku sudah kecewa luar biasa… semangatku pudar

Dan mungkin itulah yang setiap hari mereka lalui
Setiap hari mereka berharap
Sangat-sangat berharap, semoga ada penumpang hari ini
Tapi ditolak dan ditolak
Setiap hari mereka bersedih hati dan berkata
“apa yah tanggapan istri dan anak-anakku melihat berapa uang yang kubawa pulang”
“gimana yah raut wajah mereka setelah tahu justru uangku berkurang karena makan dan rokok, tanpa satu penumpang pun?”

Apa arti hidup ini bagi mereka dan bagi anak-anak mereka, aku tidak tahu…
Mungkin, logikaku sebagai seorang yang berpendidikan dan bergaji akan mengatakan:
“mana ada harapan dari mata pencaharian itu”
“justru kalau mau dikalkulasi, mereka pasti lebih banyak ruginya daripada untungnya dengan menjadi tukang ojek”

“mau sampai kapan mereka berharap bisa bertahan hidup dan menopang keluarga dengan melakukan itu”

Tapi dengan melihat mereka aku sadar…
Bagi mereka “harapan akan selalu ada dan patut diperjuangkan”
Bagi mereka “menghidupi orang-orang yang dikasihi itu lebih penting dari rasa gengsi”
Bagi mereka “melindungi orang-orang yang dicintai lebih besar daripada rasa panas terik, lapar, dan bosan yang melanda mereka”

Aku ingin hidup dengan selalu belajar dari mereka… orang-orang kecil…
Akan selalu ada bijaksana yang hanya bisa kudapatkan dari mereka…
Aku ingin bisa menolong mereka… mungkin suatu saat nanti aku bisa menghidupi mereka…
siapa yang tahu… hanya Tuhan yang tau

dan aku takut…
aku takut sekali…
jika kehidupanku justru membuatku acuh terhadap kehidupan mereka…

inilah doaku kepada Tuhan…
“supaya aku selamanya punya kepedulian buat mereka”
dan “supaya suatu saat nanti aku benar-benar bisa menolong mereka, bukan hanya sekadar merasa iba”
sesungguhnya…
aku hampir-hampir merasa diriku tidak ada guna dan harganya, jika aku tidak bisa menolong mereka

Haleluya!
Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.

Anak cucunya akan perkasa di bumi;
Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman,
yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.

Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.
Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.
Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.

Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin;
kebajikannya tetap untuk selama-lamanya,
tanduknya meninggi dalam kemuliaan.

(Mazmur 112 : 1-9)

Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.
(Amsal 22 : 9)

Terima kasih Tuhan atas pelajaran ini
Terima kasih Tuhan atas jalan revolusiku

Aku melanjutkan perjalananku…
Aku memadang ke depan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s