I Love My Comfort Zone

Aku tidak ingin sama dengan mainstream
Aku selalu bertanya pada diriku
“apakah ada sudut pandang yang lain untuk mengerti masalah itu?”

Aku tidak ingin sama dengan mainstream
dan salah satu mainstream menyebutkan “keluarlah dari zona nyaman”

Aku sudah lama sekali meninggalkan mainstream itu
Mengapa?

Pertama…
Aku jarang sekali melihat teladan dari orang-orang yang justru paling sering berkata seperti itu. Mereka tidak nyaman di komunitas yang satu, lalu keluar dari komunitas tersebut dan menetap di komunitas yang kedua. Kemudian, setelah merasa komunitas dua adalah komunitas yang tepat baginya, mereka akan berseru-seru kepada orang-orang di komunitas satu “keluarlah dari zona nyamanmu!”. Padahal mereka tidak sadar bahwa mereka masuk ke komunitas kedua karena nyaman di komunitas dua dan tidak nyaman di komunitas satu.

Dengan demikian, keluarnya mereka dari komunitas satu bukanlah praktek sejati dari apa yang mereka anggap keluar dari zona nyaman. Sebab jika mereka benar-benar konsisten dengan apa yang mereka katakan, seharusnya mereka tidak keluar dari komunitas satu. Keluarnya mereka dari komunitas satu justru menegaskan bahwa mereka mengejar apa yang nyaman bagi mereka, yaitu komunitas kedua. Mereka sama sekali tidak menghidupi apa yang mereka sebut sebagai keluar dari zona nyaman.


Kedua…
Aku tidak merasa bahwa keluar dari zona nyaman merupakan solusi yang kita butuhkan untuk menciptakan perubahan yang berarti. Menurutku, justru kita harus berada di tempat yang nyaman bagi kita. Jangan salah paham dengan apa yang kukatakan! Aku tidak berkata bahwa aku hanya ingin bagian nikmatnya saja. Aku juga tidak mengatakan bahwa aku mengharapkan segala sesuatu menjadi mudah, instan, dan terkendali tanpa aku sama sekali perlu berusaha untuknya.

Yang aku maksud ketika aku berkata bahwa kita harus berada di tempat yang nyaman bagi kita adalah bahwa kita harus MENCIPTAKAN KENYAMANAN itu.

Di manapun kita berada
Bagaimanapun kesulitan yang kita hadapi
Sesedikit apapun uang atau sumber daya yang kita miliki
Kapanpun waktunya
Dan sesusah apapun orang yang dengannya kita bekerjasama
Kita harus berusaha “mati-matian” untuk membuat diri kita nyaman

Aku juga tidak berkata bahwa aku setuju dengan kemalasan ataupun stagnansi. Kemalasan sering disamakan dengan kenyamanan. Aku jelas tidak setuju dengan pendapat tersebut. Bagiku, kemalasan dan stagnansi sama sekali berbeda dengan kenyamanan. Bagiku, kemalasan dan stagnansi justru merupakan penderitaan, kebodohan, penjara, dan neraka. Aku tidak akan menyamankan diri dengan menjadi malas atau stagnan.

Di kamusku, kemalasan bukanlah zona nyaman. Itu mustahil. Bagiku, kenyamanan adalah ketika aku bisa berubahBerubah dan naik dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Berubah menjadi lebih dewasa. Aku tidak akan merasa nyaman jika aku tidak melihat adanya perkembangan pada diriku. Aku harus mengembangkan diri sebab dalam keadaan demikianlah hatiku menemukan kenyamanan.

Setiap manusia, siapapun mereka, pasti mengharapkan kenyamanan. Mereka berusaha keluar dari kemalangan, penderitaan, menuju kondisi yang membawa ketenangan. Bukankah itu pula hakekat dari perjuangan kemerdekaan? Kita berjuang supaya kita merdeka. Dan jika kita teliti lebih jauh, maka kita akan mendapati bahwa kenyamanan merupakan salah satu tujuan utama dari kemerdekaan.

Bukankah kenyamanan juga menjadi target dari pekerjaan yang kita lakukan? Kita bekerja untuk mendapatkan rezeki yang dengannya kita bisa bertahan hidup. Dan di dalam semua itu, bukankah kita sebenarnya sedang mengejar kenyamanan? Memang ada orang yang bekerja bukan demi rezeki semata. Mereka bekerja karena karena memang mencintai pekerjaan tersebut atau ingin menjadi ahli di bidang itu. Tetapi tetap saja, itupun menunjukkan bahwa pekerjaan merupakan hal yang dilakukan untuk mengejar kenyamanan. Kita merasa nyaman saat mengerjakan apa yang kita sukai, bukan?

Semua manusia berjuang supaya mereka bisa hidup nyaman. Kita mencari Tuhan karena kita mengasihi Dia. Kita menemukan kenyamanan dan kedamaian hati ketika kita bersama Dia. Dengan demikian, Tuhan merupakan zona nyaman kita. Dan jika Dia adalah zona nyaman kita, mengapa kita harus keluar dari zona tersebut? Itu bodoh sekali, bukan?

Dan bagaimana dengan istirahat? Bukankah kita butuh istirahat yang nyaman untuk mengembalikan kekuatan kita? Bukankah kita butuh suasana yang tenang di mana kita bisa merasa nyaman untuk bisa menikmati “me time” dan berintrospeksi diri? Tak satupun orang di dunia ini yang mengharapkan istirahat yang tidak nyaman. Istirahat merupakan zona nyaman. Dan kalau begitu, buat apa kita berusaha keluar dari zona nyaman itu?

Lagipula, jika kita hendak keluar dari zona nyaman kita, kita mau ke mana?
Bukankah kita keluar dari zona nyaman untuk berjuang?
Dan bukankah tujuan akhir dari perjuangan itu adalah kenyamanan juga?

Kita “keluar dari zona nyaman” untuk pada akhirnya masuk ke dalam zona nyaman juga.
Kalau begitu, mengapa menunggu nanti?
Kita bisa meraih kenyamanan itu SEKARANG!

Kuncinya bukan terletak pada keluar dari zona nyaman
Kuncinya adalah bagaimana kita MENYAMANKAN DIRI di dalam segala situasi
Kuncinya adalah bagaimana kita bisa bersyukur atas semua anugerah Tuhan dalam hidup kita
Ingat, kuncinya bukan pada “keluar dari zona nyaman”

Terakhir, aku sering sekali melihat bahwa produktivitas akan sebanding dengan tingkat kenyamanan. Jika istirahat kita nyaman, maka tubuh kita akan bugar. Jika kau merasa nyaman dengan pekerjaanmu, kau akan produktif. Jika kau nyaman dengan rekan-rekan kerjamu, kau dapat melakukan banyak hal dalam kerjasama yang sangat konstruktif. Jika kau nyaman dengan muridmu, kau bisa menurunkan semua pengalaman dan ilmu yang kau miliki. Jika kau nyaman dengan gurumu, kau akan bersemangat belajar darinya. Jika kau nyaman dengan apa yang ada padamu, kau akan penuh dengan ucapan syukur dan ucapan syukur tersebut mendatangkan kebahagiaan. Tidak lupa, ucapan syukur menyenangkan hati Tuhan.

Jadi, buat apa keluar dari zona nyaman? Daripada keluar dari zona nyaman, lebih baik berusaha menyamankan diri dan bersyukur DALAM SEGALA HAL. Jika kau ingin keluar dari zona nyamanmu, itu terserah padamu. Tetapi aku, aku lebih memilih menyamankan diri sehingga di manapun aku berada, aku bisa merasa nyaman. Dan dalam kenyamanan tersebut, aku akan berjuang membawa perubahan.

~Think Differently~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s