Langkah 4 – Pengemudi Taksi

Hari ini aku berangkat untuk kunjungan dinasku ke lapangan yang berlokasi di Sumatera Selatan
Perjalanan dari bandara sampai ke lokasi bisa memakan waktu 8 jam
Oleh sebab itu, seperti biasa, aku mengambil first flight pada pukul 5.50 pagi
Agar tidak terlambat aku memutuskan untuk berangkat jam 4 pagi dengan taksi

Taksipun datang, aku masuk ke dalam, duduk di belakang, dengan harapan tidak diajak ngobrol
Ya… aku ingin tidur

Tapi ternyata driver (pemakaian kata “supir” nampaknya sudah kurang diterima, lebih baik driver atau pengemudi), mengajakku ngobrol…
akupun mendengarkannya…

Aku tidak bisa merekam semua yang dia katakan saat itu…
tapi aku bisa katakan, aku belajar sesuatu dari percakapan itu…
dan aku bersyukur tidak jadi tidur…

Dari beberapa poin penting yang bisa aku ingat… aku ingat dia bercerita bahwa

Dia berasal dari keluarga yang makmur
Ayahnya pengusaha transportasi, kakak pertamanya seorang general manager, dan kakak keduanya seorang direktur
tapi dia sedikit berbeda… dia tidak mau mengikuti jejak kakak-kakaknya
dia mengakui malas sekolah dan hanya lulus SMA

setelah lulus SMA dia memilih untuk berbisnis transportasi, seperti ayahnya
dia bersama kawannya membuka usaha bersama-sama, tapi kepemilikan saham membuatnya menjadi pihak yang inferior
singkat cerita… dia mencoba menggaet teman SMP-nya untuk ekspansi usaha

akan tetapi dia tertipu dan bangkrut
alhasil, rekannya yang satu lagi, yang memiliki saham lebih besar, mulai menyudutkan dia
dan menyangka dia dan teman SMP-nya mencoba untuk merugikan orang itu
dia merasa tertekan bahkan seringkali diancam dengan bodyguard
pada akhirnya, kebenaran membuktikan dia tidak bersalah
tapi dia memutuskan untuk resign sambil membawa kerugian besar akibat bangkrutnya yang tak terbayar

dalam kondisi terpuruk seperti itu, dia mendapat informasi bahwa sebuah “merk” angkutan umum menawarkan kerja sama…
dengan menjadi pengemudi di perusahaan itu selama beberapa tahun, pengemudi bisa berhak atas kepemilikan satu unit kendaraan…
akhirnya, dia melamar menjadi driver di perusahaan taksi itu…
suatu hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya…

itulah singkat cerita darinya…
dan dia menambahkan banyak hal lain yang sangat berharga… Dia berkata:

Mas… asal Mas tahu yah… jadi pengemudi ini perjuangan Mas
saya bisa 18 jam Mas di mobil ini…
kalau Mas, mungkin dari jam 8 sampai jam 4 kan yah Mas?
dan jam berapa mulai merasa capeknya, Mas?
(aku menjawab: jam 1 ey Mas)
nah, kalau saya Mas jam segitu masih harus ON

saya kerja harus fokus setiap detik Mas
kalau orang kantor biasanya otak mana Mas yang lebih dipakai (aku menjawab: cenderung otak kiri Mas)
nah, kalau kami, otak kanan kiri harus jalan terus Mas
kalau nggak bisa celaka
Mas mengemudi ga Mas?
(aku menjawab: wah saya nggak eh Mas)
ohhh… mengemudi itu capek Mas, capek banget

Aku bertanya: capek badan atau capek hati Mas?
Dua-duanya Mas
Mas tahu kan Jakarta gimana? Di sini bisa macet berjam-jam, Mas
Saya belajar sabar banget Mas di Jakarta ini
Dan kalau macet, pengemudi itu rugi Mas
kalau macet (speedometer ga jalan) tarifnya 30 ribu per jam Mas
tapi coba ga macet, saya bisa dapat penumpang dan tarifnya bisa sampai lebih dari itu
makanya Mas, salah sebenarnya kalau macet dan pengemudi yang disalahkan
dan dituduh memilih jalan yang membuat macet…

Capek bener Mas jadi pengemudi
makanya ya Mas, maaf-maaf saja, kalau pengemudi kadang2 ngebut
kadang-kadang agak nyolot atau judes ke penumpang…
itu sadar ga sadar loh Mas kita ngelakukannya, ya karena stress Jakarta ini

Aku tersentak…
Itu poin yang sudah lama terlupa…
terkadang kita merasa sebal karena tindakan seseorang…
padahal, bukan berarti mereka berniat membuat hati kita susah…
terkadang, mereka melakukannya sadar ga sadar karena mereka sendiri sedang berduka…

dan dia melanjutkan…

tapi saya gada apa-apanya, Mas
saya kagum sama yang sudah tua tapi masih mau jadi pengemudi Mas
di perusahaan saya, macam-macam Mas orangnya
ada pensiunan ABRI, polisi, ada pengusaha yang bangkrut, bahkan ada artis yang sudah turun Mas (whaaaattt)
dan yang saya kagum itu yang tua-tua itu Mas
gimana ya mereka bisa tahan Mas dengan bosan dan macetnya Jakarta ini selama bertahun-tahun…
18 jam loh Mas di mobil…

dalam hatiku…
wah, ternyata aku ga ngerti apa-apa dengan arti perjuangan… dengan arti kesabaran…
dengan arti memfokuskan pikiran dan tubuh secara bersama-sama… selama 18 jam…
aku sering mengeluh kurang tidur… tetapi mereka pagi-pagi benar sudah harus bekerja
dan pulang larut malam… di mana keluarganya sudah tidur…
sehari ada 24 jam… jika 18 jam mereka ada jalan…. apa yah arti 6 jam sisanya buat mereka?
Ya Tuhan… aku ga tahu harus berkata apa

Dia menutup diskusi kami dengan sesuatu yang indah… karena jarak bandara sudah sangat dekat…
Dia berkata…

tapi Mas… hidup itu manis…
saya tipenya bersyukur Mas, mencintai apa yang saya kerjakan
dan itu membuat saya semangat tiap hari Mas…
saya ga akan lupa dengan alasan saya jadi pengemudi…
saya akan jalani beberapa tahun, sampai saya dapat hak atas satu kendaraan…
dan dari satu mobil itu… akan saya bangun lagi bisnis saya…

aku kembali tersentak
aku punya cita-cita tinggi, menjadi dosen
dan harus menempuh pendidikan di luar negeri
aku penuh semangat, tapi dalam hati aku tahu aku gemetar membayangkan saat-saat di mana aku akan meng-apply kampusku
apakah aku bisa menguasai bahasanya, apakah aku bisa beradaptasi, apakah aku bisa?
aduuuhhh, kayaknya gue ga bisa deeehhh…
tapi dia……. pengemudi ini…
cita-citanya setinggi langit, walau dia pernah jatuh ke dasar yang paling bawah…

aku belajar sesuatu darinya…
dan sesuatu itu besar…
bahkan dari seseorang yang hanya lulus SMA,
dari seseorang yang pernah bangkrut…
dari dia.. aku harus belajar bagaimana punya cita-cita

terima kasih Tuhan…
terima kasih atas perjalanan ini…
semoga dalam perjalananku berikutnya,
aku bisa menceritakan “sesuatu yang luar biasa itu” kepada para pengemudi taksi…
sungguh waktu itu tidak boleh aku sia-siakan…

terima kasih Tuhan…
thanx for this revolutionary road

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s