So Hard… So Sad

If you want to go FAST… Go alone..
If you want to go FAR… Go together…

Beberapa hari ini merupakan hari yang sangat berat bagiku
Keteguhan hatiku sangat diuji di sini
dan aku tahu, aku tak selamanya benar
kali ini aku tahu aku salah
tetapi aku masih belum bisa untuk berubah

Semua berawal dari keberangkatanku ke field untuk OJT
Ini merupakan kali keduaku OJT di field Soka @ Palembang
Tetapi kali ini berbeda dari OJT-ku yang pertama
Kali ini aku menemukan sangat nyaman belajar dan tinggal di kantor sampai malam
di mana yang lain sudah kembali ke mess,
saya masih belajar di kantor ini

Beberapa kali melakukan hal yang sama
Engineerengineer mulai menyadari bahwa “aku freak belajar”
Mereka tidak mengganggapnya negatif, atau apapun yang bermakna buruk
Mereka hanya mengganggapku “lucu” dan “freak“….

dan kemudian, suatu hari…
kawanku sesama trainee datang ke Soka
Dia sangat berbeda denganku, dia lebih pandai bergaul dibanding aku
Dia orang Jawa dan hampir semua engineer di kantor ini adalah orang Jawa
dan baru kusadari, di mana ada orang Jawa berkumpul,
mereka kompak bener-bener kompak sekali
Ya, kawanku cepat sekali membaur dengan engineer yang lain
dan semakin hari… semakin terasa bahwa aku lebih sering sendiri di mejaku…

Suatu hari, aku melakukan kesalahan
Karena pulang terlalu larut, aku bangun setengah tujuh
Kesalahanku adalah aku merasa bahwa sistem di lapangan itu fleksibel
Aku kira tidak ada jam baku bagi pekerjaan di lapangan, apalagi aku cuma tamu karena trainee
Ada yang sudah mulai kerja jam 6 pagi, ada saja yang agak telat datang, yang penting kerjaan selesai
dan itu membuatku agak telat datang ke kantor

dan sesampainya di kantor…
Seorang engineer berkata padaku di depan semua orang:
E1: “Bro, lu masuk kantor jam berapa sih sebenarnya?”
R: “ehmm, ga tau Mas, jam 7 kali yah?” (aku benar-benar ga tahu)
E1: “ya lu di sini, lu ikut cara main kita dong?”

Aku cukup kaget dengan nadanya… tapi aku sadar aku salah…
R: “oh iya Mas, saya kesiangan, maaf sekali Mas”

Beliau menambahkan..
E1: “di sini kerja, Bro. Jangan disamakanlah dengan dunia kampus”. Beda di sini…

Mungkin aku terlalu memikirkan perkataannya…
Tetapi aku merenung, mengapa beliau memakai “kampus” dalam perkataannya
Apakah aku terlihat terlalu “anak kampus” yang sering belajar?
Apakah salah aku rajin belajar?

Tidak sampai di sana saja…
Beberapa jam kemudian, aku lupa ada angin apa…
Tapi tiba-tiba seorang engineer lain berkata:

E2:
“ya kayak gitu kerja di sini, Chard. Kita ga butuh orang pintar”
“Kita ga pandang ITB (dia sebut duluan), atau UI, atau UGM, ITS, atau manapun”
“Yang kita butuh orang yang bisa kerja, bukan orang pintar”

R: “oh iya Mas”

Aku cukup berat dalam tersenyum menyambut nasehatnya
Bukan karena aku merasa terhina, aku tahu kok niatnya baik dan tidak menjatuhkan
Tapi mengapa beliau menekankan kata “pintar” dan “ITB” di sana?
Apakah caraku belajar terlalu aneh di mata mereka?
Apakah aku terlalu teoritis dan terlihat tidak bisa kerja?

Tidak sampai di sana, Kawan
Dalam saat yang tidak terlalu jauh, aku berdiskusi dengan seorang engineer
dan aku kaget dalam diskusi kami…
R: “oh ya? Bisa kayak gitu juga ya Bang?”
E3:
“iya, Chard. Gitu, Chard kerja di lapangan. Ga bisa teoretis kita”

dan sekali lagi aku terdiam…
Apakah beliau akan mengatakan hal yang sama jika beliau berdiskusi dengan orang lain?
Mengapa beliau memakai kata “teoretis”…
Apakah di mata engineer-engineer di sini aku terlalu teoretis?
Salahkah dengan itu?

Mungkin aku terlalu mencurigai nasehat-nasehat mereka
Seolah-olah mereka ingin berkata “gausah lah rajin-rajin kali belajar”
Ya… mungkin aku hanya terlalu curiga
Tetapi aku tetap tidak bisa 100% tenang karena semua itu terjadi beruntun
Dulu tidak seperti ini tanggapan mereka padaku
Apakah karena aku mulai sering pulang malam
dan karena kawanku sesama trainee yang baru ini datang
sehingga kontras kami terlalu terlihat?

Ya… aku goyah…

Keesokan harinya, perlakuan bertambah parah…
Aku mulai agak dijadikan tertawaan…
Setiap kali aku datang, pasti aku disahut… “hey, Arnold”
dan yang lain tertawa…
Aku tahu tidak ada maksud merendahkan dalam tawa mereka…
tetapi aku tidak biasa ditertawakan…
Aku membalas tertawa… tetapi senyumku sangat berat…
Aku tidak mengerti, apa yang lucu dariku…

Pada hari yang sama, aku akan pergi ke station ditemani seorang engineer
Aku sudah izin sebelumnya, “Bang aku makan dulu yah
dan beliau mengizinkan…
Akupun makan di kantin dan kemudian aku ditelpon karena sudah ditunggu oleh engineer tadi…
Akupun datang ke kantor, kemudian aku disambut dengan:

E1: “Woy, Arnold… lu sudah ditungguin tuh. Makan di mana sih, lu?”
R  : “Maaf, Mas. Aku makan di kantin.”
E1 : ” Kantin? Hahahahahhahaha….”

dan yang lain pun tertawa
Sekali lagi aku tersenyum, dengan sangat berat…
karena aku tahu aku benar-benar lucu nampaknya di benak mereka
kemudian beliau menambahkan…

E1 : “hahahahha…. sori sori…. lu unik banget soalnya
         “kenapa ga titip aja sama office boy
R   : “maaf, Mas. Saya ga enak merepotkan. Kan ini bukan jam makan, ga enak ngerepotin cuma buat makanan saya”

Yang lain terdiam beberapa saat…
Nampaknya karena mereka sadar alasanku makan di kantin tidak patut ditertawakan

E1 : “ohhhh… baik sekaliii… hahahahahhaa.”
Akupun pergi ke station sampai sore dan akupun kembali…
Aku baru tahu ternyata ketika aku di luar kantor, mereka masih membicarakan tentang aku
dan nampaknya kawanku mulai menceritakan tentang aku
termasuk IPK dan cara belajarku selama training di kelas dan di OJT 1
dan ketika aku pulang dari station, itu sudah sore…
dan yang lain sudah siap-siap pulang…
Klimaks bagiku dimulai… Hujan tawa terhadapku…

E1 : “Hey Arnold, ayo pulang… bulu tangkis kita. Harus mau”
R   : “aduuhh, maaf Mas, aku ga suka bulu tangkis euy. Aku di sini aja ya Mas”
E3 : “aduuhhh gini nih anak IPK x,xx”
E1  : “Boy, tapi orang IPK segitu itu ga sempurna, Mas.”
“Biasanya orang itu di kampus pasti ga populer, belajar terus”
“dan ga punya pacar…. hahahahhahaha”
dan semua orang di kantor itu tertawa

Aku hanya bisa tersenyum berat…
Aku pernah mengobrol dengan Mas E1 dan menceritakan bahwa aku memang belum pernah pacaran
Tapi aku tidak menyangka hal itu bisa dibawa dalam candanya di depan semua orang
dan mengundang hujan tawa terhadapku…
Sekali lagi… momen ini cukup berat bagiku… aku tidak biasa ditertawakan…

E1  : “Mau ga lu ikut? Ayolah, orang harus bergaul”
“Kalau lu ga mau bergaul, lu ga bisa kerja di sini artinya”

Aku yakin aku bisa bergaul kok…
Aku sering sekali ngobrol dengan driver, drafter, office boy, operator dan pegawai lain…
Aku memang jarang ngobrol di kantor karena aku fokus dengan pekerjaanku…
tetapi ketika aku di lapangan, aku sering sekali ngobrol…
membicarakan banyak hal dengan orang-orang yang penghasilannya tidak besar…
mendengarkan keluh kesah mereka…
duduk bersama-sama mereka…
tapi sayangnya, engineer-engineer itu tidak melihatnya…
Apa boleh buat, aku tidak bisa membuktikan diriku bisa bergaul…

E1  : “Ayo… mau ga?”
R   : “aduuuhh Mas, maaf banget, aku di sini aja yah”

Aku akui, aku memang keras kepala di sini…
Tidak ada susahnya sebenarnya meninggalkan belajar semalam saja dan ikut mereka…
Tapi memang cara tertawa mereka membuatku menolak untuk ikut…

E1   : “Yaudahlah kalau ga mau ikut, bersihkan inilah”….. yang lain tertawa
E1   : “datang ke mejaku… “Eh ayo, ini pijat-pijat aku”
R     : aku mulai menegaskan kalau aku tidak mau….
“Mas, janganlah Mas maksakan hobi Mas ke aku”
“kalau aku memaksakan hobiku ke Mas kan ga bisa juga”
E1   :  “woo… ini senioritas”
R     : “mending main band lah Mas, kalau band aku mau”
E1   :  “yawdah lu nyanyi2 aja ngiringin kita main badminton” …. yang lain tertawa lagi…
“atau mungutin bolanya” ….. hahahahhahaha
R     :  “hahahahha… ga deh Mas”

Yang lain nampaknya menyadari bahwa aku menegaskan kalau aku tidak mau…
mungkin yang lain juga merasa ini sudah agak melebihi batas…
maka mereka mengajak… “yaudah yuk yuk, sholat…”
dan aku pun sendiri bersama kawanku itu…

Aku bertanya… “Lah Bro, ga badminton?”
Katanya… “nanti jam setengah 8, Chard”
dan kamipun mengobrol berdua di kantor…

Di dalam obrolan itu aku mulai menceritakan kalau aku memang mau belajar…
karena aku sudah punya tujuan… menjadi dosen…
aku tahu apa yang kupersiapkan di sini akan berarti buat mahasiswa2ku di masa depan…
dan apa yang kupupuk dari sekarang akan menopang Indonesia di kemudian hari…
karena itu aku hanya memandang ke sana…
aku tidak mau bergantung pada pergaulan dengan orang-orang di kantor…
Aku mau merdeka… Aku tidak mau bergantung…
supaya ketika terjadi saat di mana aku tidak disukai di kantor, aku tetap tidak rugi…
karena aku tidak bergantung pada mereka…
Ya, aku hanya fokus pada visiku…
Mau orang-orang menertawakan cara belajarku…
atau aku dianggap terlalu teoritis… atau orang teoritis cenderung ga terampil dalam kerja…
atau aku terlalu freak…. atau aku “layak” ditertawakan… aku tidak pedulu…
karena bagiku… nilai diriku tidak berada dalam semua itu…
melainkan pada bisakah aku menunaikan tugas Ilahi yang Dia titipkan untuk kuselesaikan…
dan sampai saat ini, aku masih yakin, menjadi dosenlah jalan-Nya untukku…

Aku bercerita kepada kawanku itu tentang harapanku menjadi dosen…
Aku cukup memberikan penakanan…
dalam hati aku berharap supaya ketika dia dan yang lain sedang main badminton…
dan yang lain mulai menanyakan di mana aku dan mulai bercerita tentang aku (seperti biasa)
maka kawanku ini bisa menceritakan pada mereka kalau aku seperti ini karena aku mau jadi dosen
dan aku harap mereka bisa memaklumi semua yang E1 katakan “lu unik banget soalnya”
Ya… aku berharap semoga mereka tahu cita-citaku

Jam 7 tiba… kawanku pun meninggalkan kantor…
Aku belajar sampai malam… sambil merenung
dan sedih karena perlakuan itu…
aku tidak merasa terhina… tapi aku tidak suka ditertawakan…
Aku benar-benar tidak tahu, “apakah ini tanda aku tinggi hati?”
Tapi aku benar-benar tidak merasa terhina, aku cuma ga biasa dan ga suka dijadikan bahan tertawaan…
Aku merenung malam itu…
aku sempat ragu… jangan2 ini cara Tuhan supaya aku ga jadi dosen…
Mungkin Dia tidak ingin aku jadi dosen…
Mungkin caraku belajar salah di mata-Nya…
dan itu membuat hatiku semakin kelam…

Jam sudah larut malam….
Aku pulang, sambil bersedih…
Aku rasa aku terlalu memikirkan itu…

tetapi ternyata…
Tuhan Yesus menghiburku…
di GSG ada beberapa karyawan yang sedang nge-Band hingga larut malam…
Akupun masuk ke GSG…
dan yaapppp…. aku nge-band bersama mereka…

Aku benar-benar bersyukur pada Tuhan Yesus… Nge-band sangat menghibur hatiku
Aku baru pertama kali tahu ada band di GSG
dan kenapa ya aku baru tahu sekarang? Kenapa aku baru tahu ketika hari terberat ini terjadi?
Kenapa ga besok aja aku tahunya? Kenapa malam ini?
Jawabannya membuat hatiku senang…
Karena Tuhan Yesus memberikan penghiburan di waktu yang tepat … ^____^

Hatiku terhibur…
Kesusahan hatiku terlupakan…
Aku berkata dalam hati… “kalau mereka lihat aku sekarang, mereka tidak akan menyebutku tidak bisa bergaul”
Tapi ya sudahlah… yang penting aku bisa bergaul, tidak seperti dugaan mereka…
Walau mereka tidak tahu…. yang penting aku tahu kebenarannya…
Aku juga tidak perlu membuktikannya dengan kekuatanku…
Suatu hari Tuhan Yesus akan nyatakan di mata mereka seperti apa aku sebenarnya

Itu semua terjadi kemarin… 2 Mei 2013

dan pagi ini…
Di safety meeting pagi hari… Mas E1 ditantang untuk mempresentasikan progresku belajar di Soka
E1  : “Bro, kamu harus presentasi nanti jam 3. Aku ga mau tau.”
R    : “Aduh Mas, tapi mendadak. Ga bisa lengkap Mas, gapapa?”
E1  : “Ya gapapa, lengkap juga pasti kuolok-oloki, kok… hahahahhaha”

Sudah aku duga… Presentasi ini hanya untuk mengetes aku…
Mungkin mereka penasaran denganku…
dan mau mencobai sejauh mana aku tahu…
dan seperti biasa…
Aku selalu suka tantangan…
Dalam hatiku… “It’s show time :))”

Sore tadi aku selesai presentasi di depan mereka semua
Aku bisa jawab semua pertanyaan mereka, kecuali yang benar-benar belum kupelajari
Dalam beberapa kesempatanpun, aku bisa berkata”
“Enggak gitu, Mas…. gini yang benar” … dan mereka terdiam…

Di sinilah yang luar biasa terjadi…
Ketika selesai presentasi…
Di ruang kantor hanya ada aku dan Mas E1…
dan Mas E1 berkata:
“Lu keren, Bro”

aku kaget sekagetnya…
di mana ruangan itu sepi, apa maksud dari perkataannya?
Beliau menambah:
“Presentasi lu tadi keren, Bro”

Woooowww…
Melihat ruangan itu sepi… aku yakin dia bersungguh-sungguh mengucapkan itu
Mungkin dia sudah tahu kebenarannya bahwa aku mau jadi dosen
dan memang terlihat dari pagi dia lebih respek ke aku
dan puncaknya adalah dua perkataannya itu…

Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum…
Itu mengobati kesedihanku selama ini…
dan semakin meneguhkan aku bahwa Tuhan bukannya tidak menghendakiku menjadi dosen
Melainkan semakin meyakinkan aku bahwa ini adalah jalan-Nya
dan cara belajarku merupakan cara yang tidak salah dan rendah di mata-Nya

Aku semakin teguh…
Aku hanya akan memandang ke depan…
Aku akan berlari tanpa lelah…
Sampai aku benar-benar bisa menunaikan visiku…
Walau orang-orang mencelaku… Aku tidak akan goyah…

Karena aku tahu… Tuhan membelaku pada waktu-Nya…
dan aku tahu… nilai diriku ada di mata-Nya…
dan di mata-Nya… aku berharga…

Be Yourself Even If…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s