Hari Bahagia

Hari Bahagia

Akhir-akhir ini aku suka sekali melihat foto ini…
dan melihat foto ini, aku teringat kembali akan peristiwa yang terjadi sebelumnya…

Hari itu, Sabtu 14 Juli 2012…
adalah salah satu hari paling berarti dalam hidupku…
Ya, hari itu adalah hari di mana aku diwisuda…
Hari di mana aku diutus untuk membangun bangsaku…
Hari di mana aku harus meninggalkan kampusku yang nyaman…
dan bertempur untuk membalas budi bangsaku…

Sungguh indah hari itu…
dan aku terlalu yakin, itu juga merupakan hari yang indah bagi orangtuaku…

Saat itu adalah hari Sabtu
sementara orangtuaku harus pulang hari Senin
artinya kami tidak punya waktu yang leluasa untuk melakukan ritual sederhana
“Foto Wisuda bersama Keluarga”

Satu-satunya kesempatan bagi kami untuk foto bersama adalah sore itu
Tidak sampai di sana saja…
Malamnya, kami akan menyelenggarakan ibadah syukuran sederhana di rumah namboru
dan itu, semakin mempersempit keleluasaan kami…
Kami hanya punya satu pilihan, foto bersama di sore itu

dan itu berarti aku harus memilih…
Suatu pilihan yang sangat sulit…
Apakah aku akan ikut arak-arakan-foto bersama rektor-foto sama teman2, dan tidak jadi foto studio
atau aku harus mengikuti keluargaku, dan melupakan arak-arakan selamanya

Tentu saja… sebenarnya aku tidak punya pilihan sama sekali…
Aku mau tak mau harus mengikuti keluargaku
dan menerima kenyataan bahwa sampai kapanpun aku tidak akan diarak sebagai seorang wisudawan

Ya… satu pilihan sulit sudah terlewati…
Kini aku menghadapi pilihan sulit berikutnya…
Yaitu apakah aku harus menerima kenyataan ini dengan bersungut-sungut…
atau aku menerimanya dengan ucapan syukur…

Tidak seperti pertanyaan pertama, di mana aku mau-tak-mau tidak punya pilihan…
Untuk pertanyaan ini, aku punya pilihan…
Aku bisa memilih untuk bersungut-sungut atau bersyukur sepenuhnya…

Dan aku memilih untuk bersungut-sungut, setidaknya hingga kami sampai ke studio…
Mungkin ini bukan perkara sulit bagi orang lain…
Tapi ini sungguh sulit bagiku…

Aku tidak bisa berfoto dengan dekan dan rektorku…
Aku sampai kapanpun tak akan pernah diarak bersama rekan-rekan seperjuanganku…
dan yang paling membuatku bersedih…
Aku tidak punya waktu untuk berfoto bersama kawan-kawan sepelayananku…
Orang-orang yang sangat berarti bagiku…
dan sebanyak apapun aku diwisuda di masa depan nanti,
tetap saja aku sudah melewatkan momen-momen penting itu…

dan itu semua, membuatku bersungut-sungut…
Sisi kanak-kanakkku pun meluap… sisi yang egois dari diriku…
“Kenapa sih orangtuaku harus buru-buru pulang senin…
dan yang paling parah, aku berfikir
Kenapa sih harus ada kebaktian malam ini… besok aja lah…”

Yaahhh…
Ternyata aku belum cukup dewasa…

Aku bersungut-sungut…
Waktu di mana aku harusnya berbahagia, kuisi dengan gerutu…
Pikiran ku penuh dengan:
“teman-temanku sudah diarak sampai mana yah”
“teman-teman pelayanan pasti lagi rame banget nih”
“wah, aku ga bisa foto bareng sama mereka?”

sesampainya di studio… akupun menyendiri…
Orangtuaku memilih tidak banyak bicara,
karena mereka tahu aku sedang kecewa…

Aku menyesali kondisi ini…
Aku terus memikirkan kemalanganku…
Hingga satu kalimat dari Allah membuatku diam…

“Richard… ketika kau menjadi anak-Ku,
Kau tidak hidup untuk dirimu sendiri,
melainkan kau hidup untuk menyenangkan Aku,
dan Aku mau kau hidup untuk orang lain
yang akan kuberikan padamu untuk kau jaga
dan kali ini…
Orang lain itu adalah orangtuamu
Aku menugaskan kamu untuk hidup bagi keluargamu…
Untuk saat ini, kau harus hidup untuk membahagiakan orangtuamu…
Kau bernafas untuk mereka…
sampai saat di mana Aku akan memberikan tugas baru bagimu,
kau harus hidup untuk kebahagiaan mereka

Kalimat itu… membuatku diam…
Perkataan itu, sangat benar… sangat lembut…
sangat mendamaikan hati… sangat penuh kasih…
Aku tak punya celah untuk mengajukan argumenku sama sekali…
dan aku memilih patuh… aku memilih untuk merelakannya
dan pada saat yang sama… ketika aku memilih patuh…
ternyata “aku sedang memilih kebahagiaan”

tidak hanya kebahagiaan-Nya
tidak hanya kebahagiaan orangtuaku
tetapi pilihanku untuk patuh,
juga membawa kebahagiaan bagi diriku…

dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyesali keputusan ini…
Aku melewatkan banyak momen bersama kawan-kawanku? Be it
Terlebih indah aku membahagiakan orangtuaku…
karena itu yang Tuhanku tugaskan padaku…

dan setiap kali aku melihat foto ini bahkan ketika aku menulis ini…
Hatiku bergetar…
Jika dibiarkan… aku pasti bisa menangis…
karena setiap kali melihat foto ini…

Aku melihat wajah paling bahagia dan paling bangga dari kedua orangtuaku…
Rona wajah itu, dari kedua orangtuaku, mungkin tidak akan pernah aku lihat lagi

Mungkin mereka pernah merasakan sukacita yang sama besarnya
ketika aku lahir ke dunia…
Tapi pada saat itu, aku tidak bisa mengingat senyuman mereka…

Mungkin mereka akan merasakan sukacita yang lebih besar lagi
ketika aku menikah atau ketika mereka menimang cucu mereka, anak-ku
Tapi siapa yang tahu, apakah kedua orang tuaku ada di masa itu?
Siapa yang tahu apakah aku bisa melihat wajah gembira dari keduanya?

Kini foto itu terpajang di rumah kami…
dan aku bersyukur, bisa menyenangkan mereka setiap hari… walau aku jauh dari mereka
karena setiap kali mereka melihat foto itu…
mereka pasti penuh akan sukacita dan rasa bangga…

Ini merupakan satu pelajaran buatku…
Bahwasanya aku tidak hidup untuk diriku sendiri…
melainkan untuk Tuhanku…
dan itu sangat mungkin berarti aku harus hidup bagi orang lain
yakni orang-orang yang sudah Tuhan titipkan untuk aku layani…

tapi perenunganku belum berhenti… aku kembali merenung…
“dan jika demikian… kalau aku hidup bukan untuk diriku…
kalau aku hidup untuk orang lain,

bagaimana aku bisa bertahan hidup, Tuhan?
siapa yang akan memikirkanku?”

dan Tuhanku menjawab…
“Tenang, Anakku”
Aku akan mengutus anak-Ku yang lain, untuk hidup bagimu.
Supaya kamu bisa terus hidup.

Tetapi engkau, hiduplah bagi orang-orang yang sudah kutugaskan untuk kau jaga.”

Jawaban itu…
Sekali lagi membuatku terdiam…
dan kini aku tahu, tanpa ragu, kemana aku harus melangkah…

The secret of life… is letting go…
Kunci kehidupan ini adalah… merelakan…

Advertisements

2 thoughts on “Hari Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s