The Lesson from the B-Day

15 Mei 2013

Itulah hari ulangtahunku yang ke-23
Bohong kalau aku berkata aku tidak kecewa
Kenapa tidak?
Di tahun-tahun sebelumnya, akan ada yang merayakan ulangtahunku
Dan kalaupun tidak ada yang merayakan, biasanya aku punya cara-cara gila untuk membuatnya enak dikenang

Tetapi, kali ini berbeda…
Kali ini aku harus melewati ulangtahunku:
di sebuah kamar guest house yang sepi dan jauh dari keramaian…
sendirian…
tanpa koneksi internet…
dengan nomor hape yang tidak diketahui siapapun kecuali keluargaku…
Ya, semua itu membuatku literally kesepian di hari jadiku

Akan tetapi…
Ada suatu pelajaran luar biasa yang kudapatkan…
Yang sebenarnya sangat berharga,
tapi mungkin terlalu sering terucapkan dan terdengar olehku…
sehingga maknanya tak lagi menjadi sesuatu yang selalu teringat di benakku…
dan inilah pelajaran itu…

Aku mengawali hari jadiku di pagi hari dengan ber-saat teduh
Tentu saja, ada bagian di doaku di mana aku mengajukan permohonan kepada Tuhan
Permohonan untuk ulangtahunku…
dan tentu saja, aku memohon agar bisa menjadi orang yang lebih baik

Kemudian aku mulai mengajukannya, satu per satu…
Ya Tuhan jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur
Ya Tuhan jadikanlah aku seorang yang murah hati dan senang memberi
Ya Tuhan jadikanlah aku berkat, tapi jangan sampai aku mencuri kemuliaan-Mu
Ya Tuhan jadikanlah aku seorang pendoa
Ya Tuhan, ingin rasanya aku bisa memberitakan Injil lagi
Ya Tuhan, aku ingin hidup menggenapi visi yang sudah kau taruh di hadapanku

Sepenuh hati aku berdoa untuk semua itu

Tetapi di sinilah letak pelajaran yang sangat berharga itu

Setelah mengucapkan permohonanku yang terakhir…
Aku terdiam… Aku kehabisan kata-kata…
Aku berkata dalam hatiku, kira-kira seperti ini
“kira-kira Tuhan mau aku jadi seperti apa lagi yah, hmmmm?”

Ya… aku mengisi permohonanku dengan hal-hal yang aku kira Tuhan mau aku menjadi seperti itu…
Tetapi dengan pola pikir seperti itu, aku menemukan jalan buntu…
dan aku menjadi bingung,
“kira-kira Tuhan mau aku jadi seperti apa lagi yah, apa sudah cukup nih doaku?”

Aku benar-benar terdiam dalam beberapa detik itu. Sampai akhirnya Tuhan membangkitkan kesadaran di dalam hatiku, seolah-olah Ia secara langsung berkata:

“Cukuplah semua permintaanmu itu, Arnold”
“Kau tak perlu meminta hal sebanyak itu.”
“Yang kuinginkan untuk engkau hanya satu dan jadikanlah itu permintaanmu!”
“Mintalah agar kau menjadi seperti Kristus?”

Kesadaran itu…
It kinda rock my world
Apakah yang kuminta selama ini?
Mengapa aku selalu mengisi doaku dengan poin-poin permintaan seperti itu
“Tuhan jadikanlah aku seperti ini, jadikanlah aku seperti itu.”

Memang permintaan seperti itu baik…
Aku yakin Tuhan tak akan benci dengan permohonanku itu…
Tetapi “baik” adalah musuh dari “yang terbaik”

Aku memang pernah berdoa “jadikanlah kami seperti Kristus”
Tetapi pemaknaanku akan permintaan itu tidak pernah setajam kali ini
“Mintalah agar kau menjadi seperti Kristus?”

Seperti yang kukatakan tadi…
Mungkin kalimat itu terlalu sering diucapkan dan didengar…
Sehingga itu tak lagi menjadi penempat urutan pertama dalam doa-doa kita…
Bagaimana denganmu?

Kesadaran itu benar-benar menamparku. Aku yakin kesadaran itu tidak berasal dari diri pemikiranku sendiri. Aku yakin Roh Kudus-lah yang mengajarku untuk memanjatkan doa itu. Dan semenjak saat itu, aku beserta dengan kehidupan rohaniku, tak akan pernah sama lagi.

“Mintalah agar kau menjadi seperti Kristus?”
Itu tak akan pernah kulupakan
Itulah hadiah ulangtahun ke-23 ku dari Bapaku di surga

Setelah kuakhiri doaku…
Penasaranku akan Kristus kembali lagi…
“Ya, aku ingin seperti Kristus.”
“Aku ingin mengenal Dia lebih dalam lagi.”

Aku sangat ingin membuka Alkitab pada saat itu
Tapi aku tak membawanya…
Yang kubawa ke lapangan hanyalah buku saat teduh
Jadi aku mengisi hari ulangtahunku di lapangan dengan merenung

Aku merenung tentang semua ajaran Yesus, Tuhanku…
Aku merenung dan merenung…
“Pasti akan selalu ada hal BARU yang bisa kupelajari dari Yesus.”

Kemudian satu hal dibukakan dalam perenunganku…
Yakni bahwasanya Yesus melayani di Bumi hanya selama tiga setengah tahun…
dan secara sederhana, itu menyimpulkan bahwa Yesus tak pernah membuang-buang waktu-Nya

Orang-orang yang hendak Dia Injili…
Murid-murid yang hendak Dia bina…
Ajaran-ajaran yang hendak Dia sampaikan…
Tempat-tempat yang perlu Dia kunjungi…
Ahli-ahli Taurat dan Orang Farisi yang perlu Dia kecam…
Orang-orang yang ingin Dia sembuhkan…
dan yang terakhir…
Salib, yang perlu Dia pikul dan derita…

Semua itu… Semua hal besar nan luar biasa itu…
Dia lakukan hanya dalam waktu tiga setengah tahun…
Betapa berharganya setiap detik yang Yesus miliki, yang tak akan Dia sia-siakan

Dan itu…
Satu pelajaran BARU bagiku…

Yesus menggunakan waktu-Nya dengan penuh makna
dan jika aku ingin menjadi seperti Dia…
Akupun harus melakukan hal yang sama

Tapi tak mungkin hanya sampai di sana saja…
Aku mempersiapkan diriku untuk berbagai hal baru yang akan Dia ajarkan padaku…

Bagaimana denganmu, kawanku?
Apa kah daftar permohonan dalam doamu?
Kau yakin permohonanmu baik?
Hmmm… Bagus…
Tetapi apa kau yakin bahwa kau sudah meminta “yang terbaik?”

Sudahkah kau benar-benar meminta untuk menjadi seperti Kristus?

10450139_10152238279248520_322665142783905292_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s