Pujian yang Mengubahkan, bagian I

Suatu kali ada seorang gadis bernama Lucy
Gadis ini memiliki cacat di bagian bibirnya

Ketika dia masih kecil, dia tidak merasa tidak nyaman atau malu dengan keadaannya
Wajar saja, orang-orang di sekelilingnya hanyalah keluarga yang tidak akan menganggapnya lelucon

Tetapi setelah dia masuk sekolah,
dia mulai menemukan bahwa cacatnya mulai mengundang tawa dan pertanyaan dari teman-temannya
Setiap kali ditanya mengenai asal-usul cacat itu, dia akan menjawab:
“Aku pernah terjatuh dan bibirku terluka sehingga harus dijahit.”

Yap, dia merasa setidaknya dengan alasan itu teman-temannya akan prihatin,
dan tidak jadi menertawakannya
Tetapi tetap saja, semakin hari, semakin dia mulai sadar diri,
semakin dia peduli akan penampilannya, semakin dia malu akan keadaannya
Dan lambat laun dia menjadi orang yang selalu menarik diri dari orang lain
Dia merasa dirinya tidak berharga sama sekali

Pada suatu hari, di kelas, Ibu Merry mengajar
Ibu Merry adalah seorang guru yang disenangi oleh semua murid
Ibu Merry ini cantik, keibuan, dan sangat ramah pada semua orang

Sebelum memulai pelajarannya, Ibu Merry selalu melakukan hal yang unik
Dia akan selalu memanggil dua atau tiga orang untuk maju ke depan
Di depan, mereka akan disuruh berdiri menghadap jendela, membelakangi Ibu Merry,
dan Ibu Merry mulai mengucapkan kalimat-kalimat, seperti
“Langit itu biru.”  atau “Daun itu hijau.”
Dan anak-anak itu harus mengulang kata-kata Ibu Merry sebagai tanda mereka mendengarnya
Tujuannya sederhana, untuk menguji pendengaran para murid.

Dan hari ini, adalah kesempatan gadis itu untuk diuji pendengarannya
Gadis itupun maju ke depan, menghadap jendela, membelakangi Ibu Merry
Gadis itu tidak menyangka, bahwa apa yang sesaat lagi diucapkan Ibu Merry
akan mengubah hidupnya selamanya

Ibu Merry pun mengucapkan suatu kalimat dengan sangat pelan
Saking pelannya, teman-teman sekelas tidak mampu mendengarnya
Tetapi gadis itu mendengarnya
Gadis itu kaget, sekujur badannya bergetar
Hatinya berdegup semakin kencang, air matanya mulai berlinang
Dia tak kuasa mengendalikan dirinya
Dia mencoba untuk mengulang kata-kata Ibu Merry pertanda dia mendengar
tetapi dia tidak mampu mengatakan apa-apa

Teman-temannya mulai bingung melihat gadis itu
Ibu Merrypun mengucapkan kalimat itu sekali lagi,
Air mata gadis itupun tak bisa terbendung lagi
Dia menangis
Dia berusaha keras mengulang kata-kata Ibu Merry sambil terisak-isak

Kata-kata gadis itu tetap saja tidak jelas
Tetapi, melihat gadis itu menangis, Ibu Merry tahu bahwa gadis itu sudah mendengarnya

Setelah hari itu…
Gadis itu tidak pernah sama lagi
Gadis itu menyadari bahwa dia berharga
Dan dia ingin menjadi seperti Ibu Merry
Dia ingin suatu saat bisa juga meyakinkan orang lain bahwa mereka berharga

Kau tahu apakah kalimat yang diucapkan Ibu Merry?
Kalimat yang mengubah hidup gadis itu…
Sederhana saja…
“Lucy, seandainya kamu adalah gadis kecilku.”

Kau mengerti?
Satu kalimat…
Satu kalimat saja mampu mengubah seseorang
Satu kalimat saja mampu membuka kunci yang membelenggu hati seseorang
dan membebaskan siapa dirinya yang sebenarnya, yang selama ini terkurung dalam penjara hatinya
Satu kalimat saja mampu membebaskan diri dan potensi yang sesungguhnya dari seseorang

Asalkan kalimat itu benar
Satu kalimat
Satu kalimat di antara jutaan kalimat yang bisa kau ucapkan
Asalkan kalimat itu berasal dari pandangan yang mampu melihat yang terbaik dari seseorang
to see the best in people

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku pernah merasakan hal itu
Aku pernah merasakan dipuji orang lain
Tetapi jarang sekali ada pujian yang membuka kunci hatiku
Jarang sekali ada pujian yang bisa membebaskan bagian dari diriku yang terkurung selama ini

Aku tidak dapat mengingatnya dengan jelas
Tetapi yang pasti, kala itu aku sedang berada dalam kelompok diskusi melingkar
Ada seorang pemimpin kelompok diskusi, yang aku tak bisa mengingat siapa dia
Ada beberapa anggota diskusi, yang juga aku lupa siapa saja mereka

Hanya satu orang yang sangat kuingat jelas siapa
Dan gadis itu yang mengucapkan kalimat itu

Kala itu kami sedang membicarakan apa pandangan yang satu terhadap yang lain
Dan akhirnya tibalah giliran gadis itu, sementara aku duduk di sebelahnya
Kemudian pemimpin kelompok bertanya:
“Oke… Rossa (sebut saja Rossa) … coba kau deskripsikan Richard dengan satu kata.

Gadis itupun mulai memandangku
Dia menaruh kepalan tangan di dagunya, matanya menyipit, pertanda berpikir
Aku mulai gugup dan menanti apa yang akan dia katakan

Dan dia mulai mengucapkannya… Satu kalimat
Kalimat yang mengguncang duniaku
Kalimat yang membuka gembok yang mengunci hatiku
Kalimat yang mengubah hidupku selamanya

Dia berkata:
“Richard…. hmmmmm…. Richard itu orangnya…. setia.”

Detik saat dia mengucapkan kata “setia”
Detik itulah yang mengguncang sekujur tubuhku, seluruh ruang hatiku

Kau pernah menonton film Armageddon?
Kau ingat saat Harry (Bruce Willis) menekan bom yang meledakkan asteroid itu?
Pada saat itu, ada scene di mana dengan sangat cepat Harry mengenang semua masa lalunya
nah… seperti itu juga sensasi yang kurasakan saat itu

Mendengar kata “setia”
Satu kata itu seakan-akan dengan sangat cepat masuk ke telingaku
Menelusuri hatiku
Menerobos dengan sangat cepat
Melewati relung hati
Dengan sekejap aku mengeksplorasi seluruh isi hatiku, siapa diriku
Sampai akhirnya kata itu tertancap di dasar hatiku dan terpatri di sana
Akupun berubah selamanya…
Aku tak sama lagi…
terima kasih luar biasa kepada gadis itu

Aku mulai mencari-cari apa arti “setia”
Aku mulai penasaran dan kadang terobsesi untuk mempelajari kisah-kisah orang setia
Aku mulai menyadari betapa berharganya kesetiaan
Aku terus berpesan kepada setiap orang… “setialah… setia sampai mati”

Aku bergumul berat dalam kesetiaan:
Di suatu waktu aku mendapati diriku setia di satu tempat
Tapi tidak setia di tempat lain dan aku menjadi batu sandungan
dan itu semua akhirnya mengajarkanku…
bahwasanya “kau tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, kau hanya bisa setia pada satu tuan

Pergumulanku berlanjut:
Suatu masa, ketika aku mengabdi dan setia di tempat itu
Aku mulai menjalani kesetiaan yang salah
Karena lambat laun aku seperti membenci orang yang tidak memiliki kesetiaan sepertiku
Aku mulai memandang rendah mereka yang tidak mampu membuat prioritas dengan benar
Bagiku, kalau kau tidak setia, mengapa kau memilih melayani di sini

Aku pernah tinggi hati dalam perihal kesetiaan
Aku tahu aku benar-benar tulus untuk melayani
Tetapi tetap saja, kalau aku menghakimi kesetiaan orang lain, aku tetaplah orang yang tidak benar
Dan sekali lagi Tuhan mengajarkanku dengan penuh kasih
Dia mendidik aku apa itu setia yang benar

Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus:
“Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?”
Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang,
itu BUKAN URUSANMU. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”
 (Yohanes 21:18-22)

bersambung ke bagian dua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s