The Money (Part II)

The Money (Part II)

Puji Tuhan kini aku sudah berpenghasilan
Aku bekerja di perusahaan migas
Perusahaan yang, katanya, memberikan gaji yang relatif lebih besar dibanding industri lain
Dan nampaknya memang benar

Kini aku merasakan seperti apa berpenghasilan itu
Dan kukatakan padamu… berpenghasilan itu… enak rasanya
Yang dulu segala sesuatu serba terbatas bagiku
Kini nampaknya aku bisa membeli banyak hal yang aku inginkan

Lalu,
Apakah aku sudah berubah?
Apakah aku berhasil diubah oleh uang?

Yang jelas, aku munafik kalau aku berkata aku tidak menyukai uang
Tentu saja aku menyukai uang
Tentu saja tanggal 25 setiap bulan adalah hari yang menyenangkan buatku

Tetapi pada saat yang sama, aku terus berjaga-jaga
Aku tidak mau uang mengendalikan hidupku
Aku berjuang hari demi hari
Jangan sampai aku hidup dalam kemewahan

Sungguh, kukatakan padamu
Uang bisa mengubahmu
Kalau kau tidak kuat
Kalau hatimu tidak kokoh
Uang pasti akan mengalahkanmu, PASTI


“Jangan beli yang macam-macam, Bang! 
Jalanmu masih panjang, Nak”

Pesan mama itulah yang selalu menjadi jangkar buatku
Akupun menyelidiki jalan hidupku
Kutelusuri masa laluku
Dan akhirnya aku sadar
Hidup miskin adalah kesempatan yang sangat patut aku syukuri

Tidak banyak orang di dunia ini berkesempatan mencicipinya
Dan karena mereka belum pernah merasakannya,
mereka tidak akan mengerti hikmat yang hanya dapat ditemui dalam hidup berkekurangan

Hikmat semacam itu… adalah harta yang berharga
Hikmat semacam itu… tidak ternilai dan tidak bisa dibeli
Hikmat semacam itu… tidak bisa dipelajari di sekolah manapun
Hikmat semacam itu… hanya bisa didapatkan dengan merasakannya sendiri

Dan aku merasa sangat diberkati
Karena aku boleh berkesempatan hidup susah
Aku sangat mensyukurinya
Tidak akan kusesali itu

Hidup yang pernah aku alami
Membuat kacamataku semakin jelas
Untuk membedakan mana kebutuhan mana keinginan semata

Hidup yang pernah aku alami
Membuat aku menghargai uang
Dan tidak mau menghabis-habiskannya

Hidup yang pernah aku alami
Membuatku lebih dekat dengan kerja keras
Dan aku merasa kerja keras adalah sesuatu yang keren

Suatu kali, aku dan kakak sedang mendiskusikan perkuliahan adik kami
Adik kami membutuhkan banyak peralatan karena dia kuliah di jurusan arsitek
Akupun mengatakan pada kakak, “yasudah, kita beli aja untuk dia”

Dan kakakku, yang lebih bijak daripadaku berkata
“Jangan, biar aja dia berusaha mencari pinjaman dulu.”
Biar dia tahu berusaha dan gak manja karena abang dan kakaknya udah kerja.”

Aku menjawab kakakku, “tapi nanti dia kesusahan kuliah.”

Dan kakakku menjawab lagi
Dia udah banyak berubah Bang semenjak kita hidup susah.”
Dia jadi lebih dewasa.”
Dia tabah dan ga mengeluh sama keadaan.”
“Gapapa kok Bang, dia pasti bisa berusaha sendiri dulu.”

See?
Hidup seperti ini, mendekatkan kami pada kerja keras

Hidupku yang dulu miskin menyadarkanku, hari demi hari bahwa aku “kaya”
Hidupku yang dahulu miskin membuat aku mengerti siapa orang yang sebenarnya “miskin”

The richest man is not he who has the most,
But he who needs the least

~bersambung~

Advertisements

2 thoughts on “The Money (Part II)

  1. Bekerja keras dan menghargai uang tidak selalu harus dilaksanakan dengan mengisolasi diri sendiri dan culas kepada hati nurani yang rindu berbagi dengan yang lain, dek. Kerja keras, ambisi, dan bahkan mungkin obsesi tidak selalu buruk, dalam banyak kesempatan bahkan itu bagus. Aku pun tak jauh sepertimu, hidup melarat dan berjuang di pasaran bertahun-tahun membantu orang tuaku berjualan, beberapa kali jadi “tukang” di pekerjaan bangunan — dipekerjakan Uda sendiri — demi Rp 25.000,- setelah banting tulang seharian (di masa libur panjang), dan akhirnya bisa berkuliah di ITB dan mulai berkontribusi ke keluarga.

    Uang tidak boleh mengubah kita, benar, sangat setuju! Namun jangan sampai pula ambisi/obsesi lepas dari pengudusan di hadapan Tuhan demi hal-hal kekal yang Dia inginkan untuk kita lakukan. Give your self a break, buddy! 😉

    • Aku setuju denganmu, Bang 🙂

      Wah, luar biasa Bang
      Masa lalu pasti sudah membentukmu jadi seperti skrg Bang

      Benar Bang, memang kerja keras dan menghargai uang ga harus dilakukan dengan isolasi diri dan menutup diri dari hidup yang berbagi.

      Makasih banyak Bang

      Give my self a break… hahahaha… I’m trying Bang… I’m trying B|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s