Jangan Beli Macam-macam, Bang

Jangan beli yang macam-macam, Bang…
Jalan-mu masih panjang, Nak

Di antara begitu banyak kata bijak yang pernah aku dengar dan baca
Pesan dari mama inilah yang paling berpengaruh dalam hidupku
Aku berasal dari keluarga, yang secara ekonomi, tidak seberuntung kawan-kawanku

Dua tahun pertamaku, aku membiayai kuliahku dengan uang tabunganku sendiri
Puji Tuhan, ada beberapa lomba yang pernah aku juarai
sehingga aku punya tabungan yang cukup besar buatku
Dua tahun keduaku, aku dibiayai oleh kakakku yang sudah bekerja
Ayahku sudah tidak bekerja,
mama membuka kios kecil di rumah dengan penghasilan yang terhitung sangat kecil

Orangtuaku tidak pernah mengeluarkan sepeser-pun untuk kuliahku
Kalaupun pernah, mungkin hanya dua kali
Pertama, ketika aku selesai dari kerja praktek di Batam dan singgah di rumah di Medan
Saat aku akan pulang ke Bandung, tentu saja orangtuaku memberi uang bekal
Yang kedua, adalah ketika orangtuaku kembali ke Medan setelah datang ke Bandung untuk wisudaku

Sesungguhnya aku tidak mengharapkan uang itu
Nominal yang diberikanpun sangat kecil untuk terhitung sebagai bekal
Tetapi aku memilih untuk memintanya dari mereka
karena aku tahu bahwa mereka belum pernah merasakan bangganya bisa membiayai kuliah anak

Aku berkata:
“Mak, kasihlah aku uang buat bekal habis lulus.”
Mamaku pun mer-respon “oh iya yah.”

Mamaku tersenyum, wajahnya tampak senang saat itu,
dan ia membuka dompetnya
Aku melihat wajahnya dan senyumannya
Saat itu aku tahu, senyuman itu mengungkapkan rasa bangganya,
Senyuman itu seakan mengatakan
“akhirnya aku bisa memberikan uang untuk anakku
yang selama 4 tahun ini tidak pernah bisa kuberikan.”

Aku terus memandanginya
Mamaku mulai mengambil uangnya
Dan aku melihat alisnya mulai mengerut
Aku menangkap aura kesedihan
Dan mama-pun memberikan uang tersebut
“Segini aja yah Bang.”

Aku hitung berapa yang mama berikan
Dan hatiku seperti tercabik-cabik
Ini sedikit sekali…

Hatiku hancur saat itu
Bukan karena nominalnya yang bahkan tidak lebih dari duapuluh ribu
Tetapi karena akhirnya aku menyadari semiskin apa keluargaku
Akhirnya aku mengetahui seberat apa orangtuaku menjalani hidup selama ini

Saat itu aku benar-benar ingin menangis
Tetapi aku menahannya dan kutunjukkan wajah bahagia
Layaknya anak kecil yang baru menerima uang dari orangtuanya
Aku pun menyimpan uang itu sampai sekarang

Ya… Aku berasal dari keluarga miskin
Aku kesusahan untuk menyesuaikan diri dengan kawan-kawanku di kampus
Terkadang aku harus menolak setiap ajakan jalan-jalan
Tetapi, aku juga tidak mau teman-teman tahu keadaanku
Dan tidak jarang aku menghabiskan uangku bersama mereka
Aku khilaf

Tiap kali uangku habis
Aku meminta kepada kakak
Dan sering sekali aku dimarahi karena uangku habis terlalu cepat
Dan kakak selalu mengatakan
“Ingatlah mama, Bang. Kita orang susah”

Oh…
Kalau kuingat masa-masa itu
Hidup ini susah sekali

Aku yakin kemiskinan itu tidak berasal dari Allah, melainkan dari kesalahan kami sendiri
Tetapi aku bersyukur bahwa Dia mengizinkan kemiskinan itu terjadi
Dan Dia tidak hanya mengizinkannya terjadi, tetapi memampukanku melewatinya

Puji Tuhan
Kini aku sudah berpenghasilan
Semuanya tidak akan sama lagi
Tetapi prinsip itu akan selalu kupegang

Aku akan hidup hemat
Aku tidak akan membeli macam-macam
Aku akan hidup dalam ucapan syukur dan hidup MENCUKUPKAN DIRI

Sebab jalan hidupku masih panjang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s