Menanti Suatu Tanda

Semakin aku mendalami firman Tuhan,
semakin aku menemukan sesuatu yang unik di dalam iman kita

Aku sudah mengetahui hal ini sebelumnya,
dan aku rasa kaupun sudah mengetahuinya
Tetapi semakin aku membaca firman Tuhan,
kebenaran yang sudah kuketahui itu semakin tajam,
dan seolah-olah aku baru pertama kali menerimanya
Tentu saja, hal ini memberikan kekuatan baru

Ini adalah tentang
menanti sebuah tanda, sebuah bukti, dan atau menanti mujizat Tuhan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ini adalah kisah saat Allah pertama kali memanggil Musa. Pada saat itu, Musa yang masih ragu, menjawab Tuhan:
“Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun
dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”

Musa hendak berkata,
“Siapa aku ini?”
Apa tandanya bahwa memang akulah yang harus Kau utus?”
“Apa tandanya bahwa memang inilah jalan hidup yang Kau atur untukku?”

Menurut logika sederhana, kita tentu menunggu tanda itu datang dulu. Dan kalau tanda itu sudah datang, barulah kita menjadi percaya. Tetapi apa yang Tuhan nyatakan dalam iman kita? Inilah jawab Tuhan kepada Musa:
Bukankah Aku akan menyertai engkau?
Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau:
apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir,
maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”

Lihat bukan?
Ada sesuatu yang unik dalam jawaban Allah
Allah menjanjikan tanda yang hanya baru akan datang jika Musa taat dan mau pergi.

Musa harus taat dahulu, barulah Allah akan memberikan tanda
Bagi kebanyakan orang tentu ini tidak bisa diterima
Akan terlalu berisiko karena kita harus meninggalkan kenyamanan kita saat ini,
dan pergi untuk sesuatu yang belum jelas ke mana Tuhan menuntun langkah kita

Mungkin akan ada yang mengatakan
“Itu terlalu berisiko.”
“Itu mungkin bukan suara Tuhan.”
“Doa lebih kuat dan lebih lama lagi supaya tanda dari-Nya semakin jelas.”
“Kamu beriman tapi imanmu buta kalau kau mau pergi hanya karena tanda yang belum jelas seperti itu.”

Well, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa semua itu salah. Hanya saja, jika Abraham terus berpikir seperti itu,  mungkin dia tidak akan meninggalkan Ur-Kasdim. Dan kalau Musa terus berpikir hal yang sama, mungkin dia tidak akan beranjak dan tidak akan ada exodus Bangsa Israel dari tanah Mesir.

Memang benar, pada awal panggilannya, Musa masih ragu. Tuhan sudah menunjukkan padanya banyak mujizat, banyak tanda. Tetapi, nampaknya mujizat dan tanda itu belum cukup bagi Musa. Dia berkata:
“Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus”
(Keluaran 4 : 13)

Musa seolah-olah berkata kepada Tuhan:
“Belum… belum cukup Tuhan.
Tunjukkan tanda dan mujizat lagi baru aku pergi.
Tidak Tuhan itu belum cukup, tanda-Mu belum jelas.
Aku tak akan taat sebelum tanda-Mu cukup bagiku.”

Dan kekerasan hati seperti itu menimbulkan murka Tuhan (ayat 14)

Ini adalah pelajaran pertama
Menanti suatu tanda dan mujizat memang tidak salah
Akan tetapi janganlah kita menjadikan tanda dan mujizat itu sebagai fondasi
yang menentukan keteguhan hati kita dalam pergumulan menemukan Visi Hidup

Kunci yang terutama adalah bagaimana kita memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan
Sehingga kita mengenal suara-Nya
Dan ke mana suara-Nya menunjukkan jalan untuk kita tapaki,
walau mungkin terlalu berisiko, terlalu banyak hal yang akan kita korbankan,
kita harus TAAT pada panggilan-Nya

Dan di dalam proses ketaatan itulah,
Tuhan akan sedikit demi sedikit memperjelas tanda-Nya
Tuhan akan sedikit demi sedikit membangun iman percaya kita

Bersambung ke pelajaran berikutnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s