Rasio vs Visi

Antara rasio dengan visi
Mungkin apa yang kutulis dapat diartikan seolah aku mempertentangkan rasio dengan visi
Tetapi sungguh bukan itu maksudku
Aku hanya ingin mengatakan
“Ada hal yang bisa visi lakukan yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh rasio”

Kira-kira satu tahun yang lalu, aku terkena penyakit hepatitis
Sayangnya, aku adalah orang yang sering terlalu memusingkan suatu masalah
Alhasil penyakit hepatitis ini benar-benar membuatku ketakutan
Sangat ketakutan
Saat itu aku betul-betul memikirkan tentang kematian

Ketika aku mendengar dokter berkata, “oh ini hepatitis
Pikiranku langsung membawaku kepada dua kejadian yang kucurigai menjadi penyebabnya

Yang pertama adalah saat aku SMA
Saat itu, you know-lah bagaimana anak ABG, aku naksir kepada seorang teman
Tetapi saat itu aku sangat-sangat gendut, beratku sampai-sampai 95 kg
Di-drive oleh perasaan itu,
dan kenyataan bahwa jantungku sering terasa tertusuk jarum (aku kira aku jantungan),
aku melakukan diet mati-matian

Bangun pagi-pagi benar, lari pagi di tanjakan, skipping ratusan kali
Makan nasi hanya satu kali sehari, lauk tidak pernah digoreng, selalu direbus
Porsi sangat sedikit
Aku yang tidak pernah makan sayur, memaksa mati-matian untuk menyukai sayur
Di sekolah, bermain bola sampai mandi keringat
Pulang ke rumah, menyendiri di kamar,
Menonton film sambil olahraga (seperti orang gila) dan basah kuyup lagi
Angkat beban, push up, sit up ratusan kali
Oh alangkah “indahnya” masa itu… penuh penderitaan
Sampai kapanpun kawan yang kutaksir itu akan selalu menjadi salah seorang paling berarti
Karena tanpa dia aku pasti akan selalu gendut dan tidak suka sayur
Ahahahahhahahahha


Hasilnya?
Sangat lumayan, dalam waktu 2 bulan aku berhasil membakar 30 kg lemakku
Aku senang dengan hasil itu, tetapi tidak puas
Aku terus dan terus diet
Walau aku sering merasa nyeri di bagian liverku
Saat itu aku emang sudah punya pikiran, aku sedang menghancurkan tubuhku sendiri
“Kalaupun aku kurus sekarang, suatu saat kelak di masa depan nanti,
kondisi tubuhku pasti akan mudah drop
karena secara tidak berhikmat aku mengeksploitasi tubuhku besar-besaran.”
Hanya tinggal menunggu waktu sampai bobroknya tubuhku ini muncul ke permukaan

Tetapi aku masih bersikeras dengan diet itu
Bahkan, teman yang kutaksir bukan lagi menjadi fokus yang kupedulikan
Aku hanya fokus dengan program diet bodoh itu
Dan itu kulakukan terus, sampai akhirnya kuakhiri ketika aku masuk kuliah

Hal kedua adalah saat aku mengerjakan Tugas Akhir
Saat itu, aku bisa minum kopi sampai 5 gelas dalam sehari
Aku tahu kebiasaan itu bukan sekadar tidak baik
Tetapi dapat berakibat fatal bagi tubuh
Tetapi dengan bodohnya aku teruskan

Pagi sampai siang aku paksa tubuhku untuk belajar
Ketika tengah malam tiba, aku menikmati begadang sambil menonton
Aku terus melakukan itu sampai aku wisuda
Dan sampai beberapa bulan setelah itu karena aku sedang mengerjakan proyek dosen
Walau saat itu sama sekali tidak terasa dampaknya
Aku yakin, semua itu, at some point, telah merusak sebagian dari tubuhku
Tinggal tunggu waktunya saja

Dan judgement day pun datang
Bu Dokter, dengan santainya berkata bahwa aku dinyatakan terkena penyakit hepatitis
Aku hanya tertawa sambil meratapi nasib
Mau bagaimana lagi, aku sudah menduga cepat atau lambat penyakit itu pasti datang
Dengan dua hal bodoh yang pernah kulakukan,
Pasti bukan lambung, bukan usus, bukan mata, bukan paru-paru
Mungkin otak, mungkin jantung,
Tetapi yang paling mungkin terkena dampaknya ya memang organ liver

Aku sudah menduga itu
Dan meratapi nasibku
Jauh daripada itu, ketakutan mulai menghantuiku

Tetapi aku tidak semudah itu dikalahkan oleh ketakutan
Aku berkata kepada diriku,
Kau tidak bisa menakuti aku, you know what, knowledge is power
Akan kukalahkan hepatitis ini dengan google-ku

Dengan sombongnya itulah yang kuteriakkan di dalam hatiku
Pengetahuan adalah kekuatan
Google adalah pengetahuan
Google adalah kekuatan

Yap, aku berusaha menjadi dokter dengan menggunakan google
Google adalah sumber pengetahuanku
Pengetahuan yang aku kira bisa mengalahkan ketakutanku
Pengetahuan yang aku kira bisa menyembuhkan dan menyelamatkan aku
Saat itu, aku berusaha mengandalkan kekuatanku sendiri
Tuhan aku belakangi dan Dia pun menunggu saja sambil mengamati aksiku

Akupun membaca, “hepatitis bukanlah penyakit mematikan”
Dalam hati aku langsung tertawa sombong, aku berkata
“Hahahaha… tuh kan, kau lihat kan wahai diriku?
Kita menemukan kunci permasalahan kita, so jangan takut yah diriku”

Lebih jauh lagi, aku tenggelam dalam informasi-informasi pengobatan hepatitis
Aku menelusuri mekanisme timbulnya penyakit ini
Aku cari tahu semua makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi
Saat itu, aku rasa aku sudah menjadi ahli hepatitis

Dan itu membuat aku bangga
Membuat aku, tenang dan tidak takut lagi
Aku menarik nafas lega
Saat itu aku sangat lega karena mengetahui bahwa hepatitis ini hanya sepele
Aku sombong, aku melupakan Tuhanku
Aku mencari solusi dengan kekuatanku sendiri

Akhirnya aku mematikan komputer
Aku ingin merayakan kesuksesan browsing-ku di tempat tidur
Langkah pertama, kedua, ketiga, pikiranku masih penuh dengan optimisme
Benakku masih penuh dengan sorakan sombong kemenangan

Akhirnya aku sampai di kamar
Aku merebahkan diri
Dan sekejap, secepat jentikkan jari
Pikiranku keruh gelap gulita… sangat gelap
Aku langsung berkata dalam hati… “Aku akan mati”

Akupun kaget
Hanya dalam hitungan detik, aku yang awalnya merasa menang
Kini, dengan sekejap mata, menjadi sangat sangat sangat ketakutan

Aku kaget
Ternyata rasioku, intelegensiku hanya mampu membawaku sejauh ini
Rasa aman dan damai yang disediakan oleh pengetahuanku, ternyata tidak tahan lama

Dan kini aku sedang sangat takut
Sungguh aku tidak bisa mengutarakan perasaan takutku, aku sangat takut
Aku terus menerus menyesali diet bodohku dan gelas-gelas kopiku
Aku terus menerus berpikir, bagaimana kalau aku bukan menderita hepatitis A
Bagaimana kalau penyakitku adalah hepatitis B atau C alias kanker hati
Aku terus menerus menekan liverku kalau-kalau terasa nyilu
Benakku terus panik dan berkata
“Gawaaaaatttt, aku pasti hepatitis C, aku kanker hati”

Saat itu
Sebenarnya bersamaan dengan proses recruitment Medco
Dan aku sampai di tahap medical check-up
Saat itu aku berkata kepada Tuhan
“Bapa, lelucon apa lagi ini?”
“Berkali-kali Engkau melarangku masuk ke company yang aku apply,
Tetapi kali ini, tahapan paling jauh yang pernah aku jalani,
ternyata Kau berikan aku penyakit ini,
Bapa… apa maksud semua ini, lucukah ini bagimu Tuhan?
Apa yang mau Engkau lihat dari aku melalui semua ini?”

Aku terus tenggelam dalam ketakutanku
Aku memikirkan bagaimana aku tidak akan diterima di Medco
Aku mencemaskan bagaimana aku menjadi orang yang tidak berguna
Lebih dari itu, aku berpikir kapan saatnya aku akan mati

Aku membayangkan bagaimana orangtuaku akan menangisi kematian anaknya
Aku sungguh-sungguh dalam ketakutan ini
Dan aku menangis, menangisi kejadianku
Menyesali semua kebodohanku
Meratapi kemungkinan hanya akan menjadi beban
Ya, aku menangis

Tetapi nampaknya Tuhan terlalu kasihan padaku
Pertolongan-Nya tiba tepat pada waktunya

To be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s