Made up Story: Menghakimi

Made up Story: Menghakimi

Tengah malam seperti ini
Rasanya tidak ada yang lebih nikmat
Selain minuman hangat
Disertai dengan nice made up story

Seorang dokter datang ke rumah sakit dengan terburu-buru
setelah dihubungi untuk segera melakukan operasi.
Dia menerima telepon, segera mengganti pakaian
dan langsung bergerak menuju ruang operasi.

Mendekati ruangan operasi,
dia bertemu dengan seorang lelaki yang sedang mondar-mandir cemas.
Lelaki itu adalah ayah dari sang anak yang harus segera dioperasi itu.
Melihat sang dokter tiba, lelaki itu membentak sang dokter:
“Mengapa kau lama sekali datang?
Tidakkah kau tahu anakku sedang sekarat?
Tidakkah kau punya rasa tanggungjawab sedikitpun?”

Sang dokter tersenyum dan berkata:
“Maaf, saya tidak sedang di rumah sakit saat itu
dan saya datang secepat yang saya bisa sesaat setelah saya dihubungi untuk itu…
Dan sekarang, saya mohon bapak tenang sehingga saya bisa melakukan tugas saya.”

Sang ayah menjawabnya dengan geram:
“Tenang katamu?
Bagaimana jika anakmu yang sekarang berada di ruang operasi itu saat ini,
bisakah kau tenang?

Jika anakmu mati saat ini, apa yang akan kau lakukan?”

Sang dokter tersenyum lagi dan berkata:
“Alkitab berkata, ‘dari debu kita datang dan kitapun akan kembali menjadi debu’,
terpujilah nama Tuhan.

Dokter tidak bisa memperpanjang hidup, Pak.
Sekarang mohon Bapak tenang dan berdoa untuk anak Anda,
kami akan berusaha melakukan yang terbaik dengan kekuatan dari Tuhan.”

“Memberikan nasehat ketika kita sebenarnya tidak terlalu peduli adalah hal yang mudah,” bisik sang Bapak.

Operasi berlangsung selama beberapa jam.
Akhirnya sang dokter keluar dengan wajah gembira.
“Puji Tuhan, anak Bapak selamat!”
Dan tanpa menunggu tanggapan bapak itu,
sang dokter langsung pergi terburu-buru.
Pesan terakhirnya,
“JIka ada yang ingin Anda tanyakan,
silakan tanya kepada para perawat.”

“Mengapa dia begitu arogan?
Tidakkah dia bisa menunggu beberapa menit saja
supaya saya bisa menanyakan kondisi anak saya?”
Komentar sang Bapak kepada perawat yang datang beberapa menit setelah dokter pergi.

Suster itupun menjawab, sambil menangis,
“Anaknya meninggal kemarin akibat kecelakan,
dia sedang dalam pemakaman anaknya ketika kami menghubunginya untuk operasi anak Anda.
Dan sekarang, setelah dia berhasil menyelamatkan hidup anak Anda, dia segera pergi untuk menyelesaikan pemakaman anaknya.”

See?
Menghakimi
Nampaknya itu adalah sifat alami kita manusia

Kita cenderung memandang orang lain berdasarkan apa yang dia lakukan
Ketika dia melakukan kesalahan, walau niat sebenarnya baik,
Ketika dia melakukan kesalahan, apapun alasannya…
maka kita akan memandang dia bersalah… karena perbuatannya salah

Tetapi kita cenderung memandang diri kita berdasarkan niat kita
Ketika niat kita baik, tetapi kita melakukan kesalahan
Maka kita selalu membenarkan diri… karena kita yakin niat kita baik

Cerita ini memberikan pelajaran bagi kita
Ketika kita tidak tahu menahu mengenai seseorang dan masalah yang dia hadapi
Janganlah menghakimi
Tetapi junjung tinggilah Praduga Tak Bersalah

Praduga tak Bersalah
Aku yakin itu adalah sikap paling baik yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak berpengaruh terlalu besar terhadap suatu masalah.

Banyak kabar jelek yang kita dengar mengenai seseorang
Banyak gosip yang sudah kita hindari tapi tidak bisa terelakkan
akan terdengar juga di telinga kita.
Dan biasanya, secara otomatis kita akan memberi penilaian pribadi akan seseorang yang sedang dibicarakan itu

Orang-orang dunia akan menghakimi
Mereka tidak mengenal orang itu cukup baik
Mereka tidak tahu masalah yang dihadapinya
Tetapi mereka sangat bersemangat menghakimi
dan membicarakan bahkan mengorek-orek kesalahannya

Padahal mereka tidak terlalu dirugikan oleh orang itu
Padahal orang itu juga tidak dirugikan oleh mereka
Mereka hanya penikmat berita yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah
maupun dengan orang yang digosipkan itu

Nah, sikap terbaik yang seharusnya mereka lakukan,
menurutku, adalah Praduga tak Bersalah
#tentu akan berbeda kasusnya untuk hakim, pengacara, dan jaksa

However,
praduga tak bersalah seharusnya menjadi sikap yang mengawali semua sikap
ketika kita sedang bertemu dengan seseorang yang bermasalah
atau seseorang yang sedang atau berpotensi tidak mengenakkan hati kita.

Jangan buru-buru berkomentar
Jangan buru-buru menghakimi
Jangan buru-buru membenci
Jangan buru-buru curiga
Jangan buru-buru mengatakan “cih”
Jangan buru-buru menyalahartikan niat seseorang

Awalilah sikap kita dengan praduga tak bersalah 
Niscaya, hidup ini akan menjadi lebih indah 🙂

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu:
Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu,
padahal ada balok di dalam matamu.
#Matius 7:4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s