Mereka Lapar

Mereka Lapar

Sebagian besar hari ini aku gunakan untuk belajar
Aku ingin segera memahami satu topik baru di bidang yang aku geluti sekarang

Tetapi aku sampai pada titik jenuh
Aku rasa tidak baik juga menyelesaikan hari libur ini dengan belajar
Akhirnya, aku memutuskan untuk menonton barang satu sampai dua jam

Aku memilih-milih film yang belum kutonton
Dan pikiranku langsung tertuju ke “Grave of the Fireflies”

Aku tahu sebaiknya aku tidak menonton film ini sekarang
Film ini terlalu mengharukan untuk ditonton di malam akhir pekan
Tetapi aku tetap menontonnya pula

Dan ternyata benar
Film ini begitu mengharukan
Tetapi aku tidak menyesal menontonnya di malam yang berhujan seperti kali ini
Aku belajar satu hal

Film ini berlatar Perang Dunia ke-2 di Jepang
Adalah dua orang kakak beradik
Anak lelaki, Seita berusia 14 tahun
Dan adik perempuannya Setsuko
Mereka adalah yatim piatu
Ayah mereka hilang di medan pertempuran
Sementara ibu mereka, meninggal karena luka bakar

Awalnya Seita dan Setsuko tinggal di rumah bibinya
Tetapi bibinya semakin lama semakin tidak ikhlas merawat mereka
Akhirnya, Seita memutuskan untuk membawa adiknya pergi
Dan mereka tinggal di semacam gua tempat perlindungan yang sudah ditinggalkan

Awalnya mereka sangat gembira dengan “rumah” baru mereka
Di sini mereka bisa bermain dengan bebas tanpa mendengar gerutu bibi mereka
Di tempat ini mereka bermain bersama
Memasak makanan bersama, dengan sisa persediaan yang mereka bawa
Bahkan mereka sempat mengambil banyak kunang-kunang sebagai lampu mereka

Tetapi kondisi kian lama kian sulit
Mereka mulai kehabisan beras
Seita-pun berusaha menjual semua barang yang masih ada padanya untuk mencari uang
Dia selalu pergi dari pagi hingga sora
Sementara Setsuko menunggu sendirian
Ternyata Setsuko sering kesepian menunggu Seita

Semakin lama, kondisi semakin berat, mereka semakin sering kelaparan
Dan yang paling parah, Setsuko mulai sakit akibat gizi buruk
Dia terkena diare dan kulitnya gatal-gatal hingga luka

Seita makin berusaha keras
Dia juga terpaksa harus mencuri buah dan kentang dari kebun miliki orang lain
Suatu hari dia tertangkap dan dihajar habis-habisan oleh pemiliknya
Setsuko melihat abangnya dihajar di depan matanya sendiri

Akhirnya, Seita bebas dari kantor polisi
Setsuko menunggu di luar dan melihat abangnya babak belur
Merekapun menangis berdua
Dan melihat abangnya menangis, Setsuko berhenti menangis dan bertanya:
“Seita, haruskah aku memanggil dokter?
Apakah yang sudah dia lakukan padamu?”

Mendengar itu, Seita semakin sedih dan dia memeluk adiknya
Kondisi Setsuko kian memburuk
Dia sudah terlalu lemah
Dia membawa adiknya ke dokter tapi dokter acuh tak acuh

Di perjalanan pulang
Mereka melihat seorang penjual es batu
Ketika penjual es itu pergi, Seita mengambil gerusan es batu yang terjatuh ke tanah
Dan dia berikan itu untuk adiknya makan
Seita berusaha menghibur adiknya, dia bertanya
“Setsuko, kau mau makan apa?”
Setsuko menjawab, “Sashimi, jelly”
“Ada lagi?”, tanya Seita
“Ice cream dan juga aku mau fruit drop (permen kesukaan Setsuko).”

Seita berkata
“Fruit drop? Oke
Aku akan mengambil uang ibu kita yang tersisa di bank,
dan membeli semua yang kau inginkan”
Tetapi Setsuko memeluk abangnya
Dan dia berkata dengan lemahnya
“Aku tidak menginginkan apapun, itu semua untuk abang saja.
Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku sendirian.”

Akhirnya, Seita mengambil semua tabungan ibunya yang tersisa di bank
Dia pulang dengan membawa banyak makanan
Sesampainya di tempat persembunyian mereka
Seita melihat adiknya sedang tertidur lemas
Setsuko terbaring sambil mengemut sesuatu yang ternyata adalah kelereng

Seita mengambil itu dari mulut adiknya
Kemudian Setsuko berkata
“Seita, ambillah nasi bola ini untukmu.”
Nasi bola itu adalah batu
Setsuko sudah hampir kehilangan kesadarannya

Seita menjadi cemas, dia menangis, dan segera mengupas semangka untuk adiknya
Setsuko memakannya, dia berkata, “enak. Terima kasih, Seita
Seita-pun keluar untuk menyiapkan nasi
Dan sejak saat itu, Setsuko tidak pernah bangun lagi dari tidurnya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku bersyukur telah menonton film ini
Walaupun aku belum pernah merasakan apa yang tokoh ini rasakan
Tapi dengan menonton ini, aku mulai memahami arti dari kelaparan

Aku pernah merasa sangat lapar
Saat itu aku tidak bisa berpikir sama sekali, semangatku pudar,
kakiku gemetar, badanku lemas, aku tidak bisa tenang
Merasa lapar, dalam tingkat yang tidak biasanya,
bisa kusebut sebagai penderitaan, menurutku pribadi
Sangat tidak menyenangkan

Tetapi nampaknya apa yang dirasakan ribuan bahkan jutaan orang di luar sana,
tidak bisa dibandingkan dengan rasa lapar yang pernah kurasakan itu
Mereka mungkin sedang merasa sangat sangat sangat lapar
Perut mereka kosong
Badan mereka gatal
Kaki mereka gemetaran
Mereka sangat lemah, semangatnya sirna
Mereka mungkin hanya mengisi hari mereka
dengan mimpi-mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan
Dan sebagian dari mereka adalah anak-anak kecil

Apa yang selama ini aku lakukan? Menikmati hidup dengan gaji yang cukup? Makan kenyang dan enak tiap hari?
Padahal di detik yang sama, jutaan orang di luar sana sedang sangat sangat sangat kelaparan.

Seandainya ada hal yang bisa aku lakukan. Memberikan sedekah, okelah Tetapi aku rasa masih ada hal lain yang bisa aku lakukan. Dan aku akan mulai menggumulkannya dengan serius mulai saat ini. Semoga Tuhan menuntun hati dan pikiranku.

Uang yang aku terima ini, tidak boleh aku nikmati sendirian. Mereka sedang sangat sangat sangat kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Betapa tidak berartinya aku jika aku tidak bisa dan tidak mau menolong mereka.

Semoga aku bisa segera menemukan jalan untuk memberikan pertolongan yang berarti. Dan aku berdoa untuk kita semua, untukmu kawan pembaca. Apalah susahnya menyisihkan sebagian uang kita untuk menolong sesama. Berapa persen-nya sih rupanya sumbangan kita, jika dibanding dengan makanan, pakaian, uang kost, dan gadget yang kita punya?

Yang kita butuhkan sekarang hanyalah waktu untuk merenung.
Renungkanlah betapa sebenarnya KITA MAMPU menolong mereka
Asalkan saja KITA MAU menolong
Asalkan saja kita mau MENCARI TAHU siapa saja yang bisa kita tolong.

Silakan teman-teman bergumul untuk yang satu ini
Adapun aku, betapa sampahnya aku, jika aku tidak menolong mereka

Tuhan menyertai kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s