Bukan mampu/tak mampu, tapi mau/tak mau

Bukan mampu/tak mampu, tapi mau/tak mau

Okelah, valid atau tidaknya kalimat ini memang masih debatable
Tetapi menurutku yang penting bukanlah mencari tahu kebenaran statement ini
Melainkan bagaimana kita merenungkannya

Ambillah waktu sejenak
Dan renungkan benar-benar
Perkara menolong, apalagi menolong orang miskin
Bukanlah perkara apakah kita mampu atau tidak mampu
Melainkan perkara apakah kita mau atau tidak mau

Jika ditanyakan apakah kita mampu?
Aku yakin, pastilah kita mampu
Maka dari itu, renungkanlah dulu sungguh-sungguh
Jika perlu, silakan kalkulasi baik-baik

Apakah memberi sedekah akan membuat kita miskin?
Apakah memberi sedekah akan mengurangi porsi makan kita tiap hari?
Silakan hitung baik-baik, apakah memberi sedekah,
At some point, akan mengancam keuangan kita?

Jika jawaban kita adalah TIDAK
Mengapa kita masih menahan-nahan uang kita untuk kita sedekahkan?

Dalam sebulan, kita bisa bolak-balik masuk mall
Mampu membeli makanan mahal
Pakaian mahal, gadget mahal,
Parfum mahal, nonton bioskop,
Cemilan, buah-buahan, pulsa, bensin
O my God, apalagi, silakan tambahkan sendiri
Tapi memberi sedekah bagi peminta-minta di pinggir jalan saja kita enggan

Kita mungkin berkata dalam hati
“Ah, enak aja peminta-minta itu,
ga kerja tapi pendapatannya per hari bisa besar sekali.”

Oke, aku setuju dengan itu
Tetapi aku ingin sejenak kita menarik diri dari pemikiran itu
Dan mari menanyakan diri kita sendiri

Memangnya uang yang ada pada kita adalah uang kita?
Oh tidak, itu bukan uang kita
Itu semata-mata adalah kasih karunia Tuhan
Kalau Tuhan mau, Dia bisa ambil semua uang kita

Jadi kalau kita sadar bahwa uang itu bukan uang kita
Masihkah kita seteguh itu untuk tidak mau memberi kepada peminta-minta?

Dan lagi,
Kalaupun peminta-minta itu membodohi kita,
Itu bukan urusan kita, itu urusan mereka dengan Tuhan
Urusan kita adalah apakah kita mau memberi atau tidak

Dan lagi,
Kalaupun pendapatan per hari peminta-minta bisa besar sekali, walau mereka tidak bekerja
Aku yakin, jika mereka diberi kesempatan balik ke masa lalu
Mereka tetap tidak akan mau menjadi peminta-minta
Walau potensi pendapatanya besar

Lagipula,
Come on, banyak di antara mereka adalah orang tua yang tuna netra
Masihkah kita menggunakan standar kerja keras yang sama kepada mereka?
Masihkah kita hitung-hitungan ketika memberi kepada orang-orang buta seperti mereka?

Dan pertanyaan terakhir,
Kalaupun memang kita tidak mau memberi kepada peminta-minta
Karena alasan nanti mereka tambah malas,
Apakah kita sudah berusaha menolong orang lain selain peminta-minta?

Hati-hati, mari kita uji hati kita
Apakah benar kita mau “memberi dengan hikmat”
Ataukah kita hanya orang-orang pelit
Ataukah kita adalah orang yang baru akan merasa aman jika tabungan banyak

Sekali lagi
Mari kita membaca tulisan di gambar ini
Perkara memberi, perkara menolong kemiskinan
Bukanlah perkara mampu atau tidak mau
Tetapi perkara mau atau tidak mau

Karena itu
Ambillah bagian dalam perjuangan ini, perjuangan menolong orang miskin
Apapun yang bisa kita lakukan
Sekecil apapun yang bisa kita berikan
Asalkan kita berikan itu dengan kasih dan ketulusan
Itu akan menjadi berkat luar biasa bagi mereka

Dan pastinya bagi kita juga

Amin
Mari mengambil bagian
Mari mengasihi dengan memberi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s