Panggilan Hidup : Momen Popeye

Momen Popeye

Berbicara mengenai panggilan hidup
Adalah berbicara mengenai beban hati yang Tuhan tanamkan di dalam setiap kita

Dan berbicara mengenai keterbebanan
Kita awali perbincangan ini dengan sebuah ilustrasi
Aku yakin kita semua masih ingat kisah Popeye si Pelaut
Popeye si Pelaut! Tut! Tut! Tut!

Popeye memiliki seorang pacar bernama Olive dan musuh bernama Brutus
Tiap kali Brutus menganggu, menculik, menyakiti, atau menyerang Olive
Maka pada suatu titik, Popeye akan mencapai batas kesabarannya, dan dia akan berkata:
“Sudah cukup, aku TIDAK TAHAN lagi.”

Kemudian dia membuka kaleng bayam, makanan kesukaannya
Memakannya dan seketika itu dia mendapat kekuatan luar biasa untuk mengalahkan Brutus
Inilah yang kusebut Momen Popeye

Nah, berbicara tentang panggilan hidup,
Apakah Anda sudah menemukan momen Popeye-mu?

Momen di mana ketika kau melihat sesuatu
Dan dari melihat, kau memprosesnya di dalam pikiranmu
Kemudian kau memutuskan untuk berpendapat, “hal itu tidak seharusnya terjadi
Dan itu tidak berhenti di pikiran dan di bibirmu saja

Tetapi hal itu mulai turun dan bersangkar di hatimu
Membuat hatimu tidak tenang dan tidak nyaman
Menjadi suatu beban di hatimu
Hingga di suatu titik, kau mencapai batasmu, dan kau berkata:
“That’s it, aku sudah tidak tahan lagi, aku harus berbuat sesuatu.”

Itulah saat di mana kau membuat suatu lompatan di dalam hidupmu
Itulah saat di mana kau keluar dari ke-aku-an dirimu sendiri, ya, kau keluar dari dirimu
Itulah saat di mana kau tidak peduli apakah ada orang yang mengikutimu atau tidak
Itulah saat di mana kau tidak akan dipusingkan entahkah ada orang yang tahu tindakanmu yang mulia
Itulah saat di mana kau membuat suatu perubahan
Itulah saat di mana kau menjadikan suatu perbedaan
Itulah saat di mana kau berkata pada dirimu sendiri:
Lihatlah, aku hendak membuat sesuatu yang baru

Nah, jangan remehkan ilustrasi ini
Aku benar-benar serius menggunakan ilustrasi ini
Apakah kau pernah mengalami momen Popeye ini?
Apakah kau sudah menemukan sesuatu yang menggelisahkanmu?

Apakah kau gelisah melihat anak-anak terlantar?
Apakah kau gelisah melihat anak-anak muda yang merokok, bermain kartu,
menyia-nyiakan masa mudanya dan menganggap dirinya keren?
Apakah hatimu seperti teriris setiap kali kau mendengar berita bayi yang menderita gizi buruk?
Apakah kau betul-betul berduka melihat sistem pemerintahan yang korup?
Apakah kau “marah rohani” mendengar firman Tuhan yang diselewengkan oleh gereja-gereja kemakmuran?
Apakah ada momen di mana kau berkata dalam dirimu:
Tidak, aku tidak tahan melihat hal itu, aku harus berbuat sesuatu.

Apakah ada hal yang membuat pertanyaan itu muncul di benakmu?
Apabila kau belum mendapatkannya, mintalah!

Apabila ada tetapi kau hanya belum mengambil tindakan, tidak apa-apa
Setidaknya kau sudah tahu di mana hatimu terbeban, itu adalah permulaan yang sangat baik
Sekarang mari kita mencoba menajamkannya
Sedikit demi sedikit kita buang rasa takut kita
Kita mendoakannya dan meminta kepada Tuhan agar Dia membagi kepada kita beban hati-Nya

Tentu saja, ketika kita meminta Tuhan memperjelas panggilan-Nya kepada kita
Itu berarti bahwa Dia akan memperbesar kobaran beban itu di hati kita
Dengan kata lain, makin lama kita akan makin gelisah dengan kondisi yang stagnan itu
Bisa dibilang, hati kita semakin tidak nyaman

Tetapi tidak apa, siapa bilang kita ditebus hanya untuk merasa nyaman, bukan?
Beban hati adalah berkat
Beban hati adalah kompasnya
Dan itu, membawa kita ke arah yang tepat,
Mengarah pada hidup yang radikal
Menjauh dari kehidupan yang sia-sia

Jadi, sudahkah kau membutuhkan bayammu?

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s