I Hate the Most

Aku tidak ingin berpikir mengenai sesuatu hanya karena mainstream melakukan hal yang sama
Sebelum memutuskan sesuatu, kita harus mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda

Aku tidak terlalu suka dengan mainstream
Dan salah satu mainstream hari-hari ini adalah:
Menentang para pengemis dan buruh yang menuntut perbaikan kesejahteraan

Biar kuperjelas di mana aku berdiri. Aku bukannya begitu saja menyetujui kenaikan UMP hingga 3,7 juta. Aku percaya, segala sesuatu, harus melalui proses terlebih dahulu. Tidak semudah itu bagi pemerintah untuk meningkatkan UMP. Peningkatan UMP yang tidak direncanakan dan di-manage dengan baik, justru dapat memperparah keadaan.

Akan tetapi. Aku juga percaya bahwa dalam kondisi idealnya, UMP sebesar 3,7 juta bukanlah hal yang mustahil. Aku yakin, apabila seluruh sistem di negeri ini telah tertata dengan baik, nilai UMP sebesar itu bahkan mungkin akan dilampaui. Singkatnya, aku berpendapat bahwa secara tidak langsung, mereka sebenarnya berhak dengan upah sebesar yang mereka perjuangkan.

Tetapi kali ini aku tidak akan membahas itu lebih jauh
Yang ingin aku soroti adalah bagaimana respon orang-orang mengenai tuntutan itu
Dan jujur, aku sangat kecewa dengan respon yang diberikan oleh mainstream

Tidak lama sebelum ini aku melihat ada seseorang yang membuat status seperti ini:
“IP tuh 3,7 baru minta gaji 3,7…
Orang-orang cem gini baiknya jadi pegawai P******** bagian dicemplungin di storage tank..”

Orang yang membuat status ini menujukan perkataannya bagi para demonstran
Bagaimana reaksiku?

Aku punya satu folder di laptop yang kuberi nama “Sampah”. Setiap kali aku melihat suatu berita tentang perilaku yang sangat mengecewakan, aku akan membuka Snipping Tool, kemudian aku akan meng-crop sebagian dari artikel yang kubaca itu dan akan aku save di folder “Sampah”ku itu. Tujuanku membuat folder ini adalah agar setiap kali aku melihat potongan gambar-gambar yang ada di folder ini, itu akan mengingatkanku betapa aku membenci atitud seperti itu. Dan semoga aku semakin diingatkan kembali bahwa aku tidak boleh menjadi seperti orang-orang yang ada di folder itu. Aku tidak membenci mereka, aku hanya tidak mau melakukan perbuatan sampah yang mereka lakukan. Beberapa yang sudah kulakukan adalah seperti ini:

Sampah

atau seperti ini:

Sampah 1

Dan itu juga yang kulakukan terhadap status orang ini. Aku meng-crop statusnya dan aku simpan di folder “Sampah”-ku. Aku tidak membenci orang yang membuat status itu dan aku tidak mengenalnya. Aku hanya membenci statement yang dia buat. Statement-nya, bagiku layak untuk dianggap sebagai sampah.

Aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin seseorang bisa se-dingin itu membuat status? Apalagi status itu ditujukkannya kepada orang-orang miskin. Hellooo… kau tahu apa isi storage tankStorage tank isinya adalah minyak mentah. Kau serus ingin menenggelamkan seseorang ke dalamnya? Tega sekali dirimu.

Aku tahu bahwa orang ini hanya membuat hiperbola
Dia tidak benar-benar berniat mencemplungkan orang ke storage tank
Tetapi aku percaya bahwa kata-kata canda yang seseorang pakai, 
sebenarnya merupakan apa yang ada dalam perbendaharaan hatinya

Seorang yang hatinya bersih dapat dilihat dari cara dia bercanda. Bahkan dalam candanyapun, seorang berhati bersih tidak akan menggunakan kata-kata yang kasar atau kotor karena hal-hal seperti itu tidak ada dalam perbendaharaan hatinya. Kenyataan bahwa orang ini memakai kiasan “cemplungkan di storage tank” sebagai candaan, menandakan bahwa sesungguhnya dia, ahghggg... aku tidak mau melanjutkannya. Aku tidak akan tinggal diam tanpa menegur jika dia adalah kawanku.

Sayangnya, beberapa orang nampaknya me-like perkatan itu. Dan itu tidak terjadi hanya dalam kasus ini saja. Banyak orang yang nampaknya terlalu dingin menanggapi permintaan para pengemis untuk penghidupan yang lebih layak. Banyak orang yang seakan-akan “membenci dan memusuhi” para pengemis dan tidak sedikit dari mereka yang sangat merendahkan para pengemis itu dengan status-status mereka di facebook. Sekali ada satu orang dengan status yang terlihat “anti pengemis”, maka status itu akan dihiasi dengan banyak sekali jempol dan komentar tambahan yang bunyinya kira-kira seperti ini, “bersihkan/sikat sajalah para pengemis itu“.

Inilah atitud yang sangat aku tidak suka. Aku tidak suka karena sikap seperti itu bukannya membantu memecahkan solusi, malah hanya memanaskan suasana dan membuatnya semakin buruk. Sikap pasif seperti itu hanya mempengaruhi orang-orang lain untuk semakin mendinginkan rasa kasih yang ada di dalam hati mereka. Mereka berpikiran seperti itu seolah-olah mereka sudah sangat rajin memberi sedekah. Jangan sampai kita menjadi seorang yang memberi saja tidak pernah tetapi terlalu banyak berkomentar. Orang-orang itu, dengan mudahnya membuat status seperti itu, karena mereka tidak pernah merasakan apa yang para buruh dan para pengemis itu rasakan.

Kau tahu bagaimana rasanya menjadi orang miskin? Biar kuceritakan sedikit dari potret hidupku. Aku berasal dari keluarga miskin. Suatu hari, di awal-awal masa aku mulai bekerja dan berpenghasilan, aku menelpon kedua orangtuaku. Saat aku berbicara dengan ibuku, aku bertanya, “bagaimana kondisi di rumah, Mak?“. Kemudian ibuku menjawab dan jawabannya sangat mengiris hatiku. Ibuku menjawab, “ya ginilah hidup Bang, sesak nafas, tidak ada uang.

Sesak nafas. Mamaku mengumpamakan hidup miskin seperti nafas yang sesak dan terengah-engah. Perumpamaan itu benar-benar “menjungkirbalikkan” duniaku. Aku semakin mengerti bagaimana hidup miskin itu. Aku semakin memahami betapa menyedihkannya hidup miskin itu. Yakni ketika kita tidak tahu sampai seberapa jauh kita bisa bertahan dengan sisa uang yang ada.

Hidup seperti itu, begitu memilukan. Bagaimana mungkin aku tega menutup mata atas orang-orang yang sedemikian menderita Bagaimana mungkin aku tega memerangi dan merendahkan mereka hanya karena mereka menuntut perbaikan hidup, walaupun tuntutan itu nampaknya kurang bijaksana?

Cobalah kau lihat orang-orang pengidap asma! Betapa menderitanya mereka ketika asma mereka kambuh. Mereka memang bisa bernafas tapi nafas mereka terlalu sedikit dan sangat sesak. Demikian juga hidup buruh miskin dan para pengemis. Mereka memang hidup, tapi hidup mereka sesak. Tidak seperti pengidap asma yang kambuhnya datang dan pergi, orang-orang miskin menderita kesesakan itu EVERYDAY. Mengapa kita tega menambah kesesakan mereka?

Lihatlah bagaimana seorang yang tidak bisa berenang ketika tenggelam. Mereka akan bergerak sekuat tenaga, mereka meraih ke segala arah, mereka memukul-mukul air. Mereka memberontak, mereka tak terkendali, mereka memberikan segala yang mereka bisa supaya tidak tenggelam. Mereka sangat menderita, mereka takut, mereka tidak bisa tenang. Mereka kehabisan akal, mereka hampir-hampir putus asa. Mereka masih bisa bernafas, tetapi nafas mereka kemasukan air, dan sangat-sangat sesak.

Itu jugalah hidup seorang miskin. Mereka memang hidup tTetapi hidup mereka penuh kesesakan. Ruang mereka terbatas. Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan. Tidak banyak ide yang bisa mereka hasilkan. Tidak banyak akses untuk mereka tuju. Mereka hampir-hampir kehabisan akal. Dan mereka mulai bergerak sekuat tenaga, mereka mulai meraih ke segala arah, mereka memberontak, mereka mulai tak terkendali, mereka mulai tidak tenang, mereka mulai mengajukan tuntutan-tuntutan yang tidak masuk akal. Tetapi jangan pandang itu terlalu buruk karena orang tenggelampun akan melakukan hal yang sama.

Mereka hampir tenggelam sementara mereka masih ingin hidup.  Mereka terpaksa melakukan semua itu sebab itulah usaha “terbaik” mereka untuk melanjutkan hidup mereka yang nampaknya tidak punya harapan.

Kepada orang-orang seperti itu jangan kita membenci, janganlah kita merendahkan!
Tetapi hendaknya kita memaklumi dan berusaha dulu memahami kondisi mereka!
Mereka bukan musuh kita loch…

Aku tahu niat baik orang-orang seperti pembuat status itu. Niat mereka adalah memerangi pembodohan karena akupun setuju bahwa mental pengemis di bangsa ini sangat berpotensi menjadi benih kebodohan bangsa. Aku memaklumi usaha baik dari mereka sebab dengan status mereka, mereka hendak mencerdaskan orang-orang agar lebih kritis dalam memberi sedekah kepada para pengemis.

Tetapi lihat ini. Kalau benar kita ingin memerangi pembodohan, kalau memang kita ingin berperang melawan mental pengemis dan pemalas. Maka kita harus mengarahkan peluru kita ke arah yang tepat. Perangilah pembodohan tetapi jangan menyikut, jangan membenci, jangan menghina, jangan memusuhi para pengemisnya. Jangan kita sembarang menembak sehingga serangan kita justru menyakiti saudara-saudara kita yang untuk makan saja mereka sudah susah. Jangan kita asal memukul sehingga pukulan kita malah melukai saudara-saudara kita yang untuk melihat dan berjalan saja sudah tidak bisa.

Jadi kumohon. Kalau benar masih ada rasa belas kasihan di dalam hati kita, maka biarlah rasa belas kasih itu kita pakai untuk menutup mulut kita dari semua kata-kata dan status-status kasar yang memojokkan kaum miskin. Kalau memang kita peduli terhadap bangsa ini, kalau memang kita ingin memerangi mental pengemis, aku yakin niat baik kita itu akan membawa kita kepada hal-hal kreatif yang membawa solusi, bukan justru men-drive kita untuk memproduksi status-status sampah,dingin, dan tanpa belas kasihan. Dan kalau kita peduli, tetapi tidak ada solusi yang bisa kita tawarkan, maka lebih baik kita diam dan tidak usah banyak berkomentar.

Kalau peduli, perbuat sesuatu dan kalau tidak bisa perbuat sesuatu, diam, tidak usah banyak berkomentar

Jadilah seseorang yang membawa kedamaian
Jadilah seseorang yang punya kepedulian
Jadilah seseorang yang mampu mengekang lidah

Sebelum menghakimi seseorang cobalah berpikir seolah-olah kamu adalah dia
Cobalah mengerti dan memahami apa yang dia rasakan

Perangilah pembodohan
Tetapi jangan asal menyerang
Seranglah pembodohan
Tetapi jangan serang orang-orang bodoh
Seranglah kemiskinan
Tetapi jangan pukul orang-orang miskin

Jadilah seorang yang membawa solusi
Jadilah seorang yang berbeda

What we do in life, echoes in eternity
~ Maximus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s