3. Konsep Diri yang Salah

Who am I? (3) _ Konsep Diri yang Salah

Sebelum kita berbicara terlalu jauh tentang mengenal diri, kita harus berangkat dari titik tolak yang benar. Dan tentu saja, titik tolak tempat pertama kali kita melangkah haruslah bermula dari Allah, karena Dia-lah pencipta kita. Dengan demikian, cara kita memandang dan mengenal diri kita harus sesuai dengan apa yang sudah Dia rancangkan di dalam kehidupan kita.

Pengenalan diri, pada hakekatnya tidak boleh terlepas dari teologi dan harus berfokus kepada Allah. Akan tetapi, konsep mengenal diri kini hampir sepenuhnya digantungkan pada psikologi  yang berfokus kepada manusia. Ada banyak psikolog berusaha “menolong” manusia untuk mengenal dirinya dengan cara membuat penggolongan atau tipologi kepribadian yang membagi semua manusia ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Akan tetapi, yang kuyakini adalah pengelompokkan itu tidak menolong sebagaimana yang mereka harapkan dan malah cenderung membawa orang-orang kepada pengenalan yang salah. Tipologi ini memiliki power yang sangat besar untuk mempengaruhi persepsi setiap manusia dalam mengenal dirinya. Sayangnya, persepsi itu kerap kali digiring ke arah yang salah.

Ada tipologi berdasarkan golongan darah. Golongan darah ini berkepribadian seperti ini, golongan darah itu berkepribadian seperti itu. Ada tipologi ekstrovert dan introvert, lengkap dengan detail ciri-ciri dari kedua kelompok tersebut. Ada tipologi berdasarkan postur tubuh. Orang yang gemuk akan berkepribadian seperti ini dan orang yang kurus akan berkepribadian seperti itu. Dan yang mungkin paling familiar di telinga kita yakni tipologi 4 tempramen, sanguinis, koleris, plegmatis, dan tentu saja, yang paling keren, melankolis, uppsss sorry.

Banyak orang mempelajari tipologi-tipologi ini untuk mengenal diri mereka. Mereka tidak sadar bahwa menjadikan itu sebagai dasar konsep diri adalah sebuah kesalahan besar.

Mengapa aku menyebut ini kesalahan besar?
Karena tipologi ini tidak mengarahkan manusia untuk mengenal dirinya seutuhnya, tetapi hanya berusaha “memberi label” kepada manusia itu. Tipologi ini menawarkan pengenalan diri yang semu. Tidak jarang, ketika seseorang secara garis besar merasa dirinya cocok dengan satu tipe tempramen, misalnya melankolis, maka dia akan mengenal dirinya hanya sejauh item-item dari checklist yang mendeskripsikan tempramen melankolis itu. Ironisnya, mereka sudah merasa puas dan aman karena merasa sudah mempunyai label-label yang dianggap sebagai konsep diri yang benar.

Ide awal dari tipologi itu adalah:
Karena aku menyukai seni, pemikir, berfokus pada detail, perfeksionis, perasa, pendendam, maka aku termasuk ke dalam kelompok melankolis.
Akan tetapi, ide awal yang sebenarnya sudah cukup tidak akurat itu kini semakin melenceng menjadi:
Karena dari check list ini aku cenderung bertempramen melankolis, maka untuk seterusnya aku harus tampil sebagai seorang pemikir keras, berkonsentrasi pada detail, aku harus menyukai musik, and so on, and so on.
Ya, karena aku termasuk melankolis, aku harus benar-benar menjadi melankolis.

Apakah engkau menangkap maksudku?
Maksudku adalah orang itu tidak lagi berjalan menuju pengenalan dirinya yang sejati dan malah berjalan menuju seorang melankolis murni. Orang itu tidak lagi berusaha menjadi dirinya sendiri dan malah berusaha menjadi semakin melankolis. Bukannya mengenal dirinya dengan baik dan benar, dia malah berusaha memasang label pada dirinya dan mengenal dirinya dengan label itu. Tidak ketinggalan, orang-orang di sekitarnya malah memperburuk keadaan karena merekapun mulai memasang label melankolis pada orang itu dan mengenal dia bukan sebagai dirinya tetapi sebagai seorang melainkolis. Bukankah kalian sering mendengar, “lu melan kronik dah”, “dia tuh orangnya plegma banget, lihat aja cuek gitu, ga suka gue”, “hati-hati loh, dia itu kolerik, ga cocok sama lu”.

Pemberian label kepada seseorang seperti ini sangatlah berbahaya. Tidak hanya menjauhkan seseorang dari konsep diri yang benar, pemberian label juga bisa menjauhkan seseorang dari orang lain. Terus terang, aku pernah jatuh ke dalam kesalahan ini. Dulu, aku sangat tidak suka dengan orang-orang yang cuek, nyantai, let it flow seakan-akan tidak ada yang dia kejar dalam hidup ini. Aku gerah sekali melihat orang yang tampak tidak punya ambisi sedikitpun. Dan karena semua sikap itu sering dihubungkan dengan plegmatis, aku seringkali buru-buru mem-blacklist orang-orang yang dikenal bertipe plegmatis. Label plegmatis itu membuat mereka tercoreng di mataku. Label-label itu membuatku gagal melihat dan mengenal mereka dengan benar. Label-label itu membuatku gagal mengasihi mereka. Sungguh, aku tidak mau itu terulang lagi.

Bagaimana denganmu?
Apakah kau sedang dalam masalah ini?

Apakah kau sedang berusaha mengenal dirimu tetapi yang kau dapati saat ini adalah kau memasang label-label pada dirimu dan mengenal dirimu hanya sejauh label-label itu?

Apakah kau mendapati dirimu tidak lagi berjalan menuju dirimu tetapi malah berjalan ke arah label-label melankolis, atau koleris, atau introvert, atau apapun itu?

Apakah kau mengenal orang-orang hanya sejauh label-label yang kaupasang dan terpasang pada mereka?

Bukan keinginan hatiku membuat ini terdengar semakin parah. Tetapi masih ada konsep pengenalan diri yang lebih berbahaya dibanding label-label tipologi yang semu itu. Konsep itu berasal dari penelusuran jati diri yang lagi-lagi, berfokus kepada diri sendiri, yang kemudian membuahkan suatu statement, “aku tahu siapa aku” dan “kutahu yang kumau”. Tapi sebelum menangkal semua itu, kita harus tahu konsep diri yang benar, yang berasal dari hikmat Allah, yang tentu saja, tidak pernah terlepas dari kisah penciptaan dunia ini. We’ll get to that later.

~Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s