4. Konsep Diri yang Benar

Starting point dalam konsep pengenalan diri ada dalam kisah penciptaan dunia ini. Seorang teolog berpendapat bahwa setiap manusia harus memiliki konsep diri yang seimbang, yakni antara kerendahan (humility) dan keluhuran (dignity).

Firman Tuhan dalam Kejadian 2 : 7 berkata:
tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu
ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah.

Setiap manusia di dunia pada dasarnya tidak pernah terlepas dari sesuatu yang rendah di dalam dirinya. Kalau Tuhan mau, Tuhan bisa saja menciptakan manusia dari zat yang lebih tinggi nilainya atau setidaknya dari tanah yang lebih tinggi kualitasnya dibanding sekadar debu dari tanah. Tetapi Tuhan tidak melakukan itu. Tuhan menciptakan manusia dari sesuatu yang rendah, yang tidak berharga, sebagai suatu ingat-ingatan agar di dalam setiap orang terdapat kerendahan hati.

Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing,
sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.
~Keluaran 22:21

Walaupun Tuhan telah membebaskan orang Israel dari tanah Mesir, Tuhan tidak mau mereka melupakan hal itu sepenuhnya. Tuhan ingin agar orang Israel ingat bahwa dulu merekapun pernah menjadi seorang asing di negeri orang. Allah membuka lagi ingat-ingatan yang menyakitkan itu supaya orang Israel memiliki kerendahan hati kepada orang-orang asing. Sama dengan itu, Tuhan menciptakan manusia dari debu tanah sebagai ingat-ingatan kepada manusia agar manusia tidak kelewat tinggi dalam menilai dan mengenal dirinya. Dan tentu saja, Allah sendiri tidak akan pernah lupa bahwa Dia menciptakan manusia dari sesuatu yang sangat tidak berharga.

Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.
~Mazmur 104 : 13

Tetapi ini semua adalah suatu paradoks.
Di satu sisi:
Allah menciptakan manusia dari bahan baku yang rendah, yang tidak berharga
tetapi di sisi lain:
Allah sedang menciptakan produk yang mulia, yang paling utama di antara semua ciptaan-Nya.

Dari debu tanah
Allah menciptakan mahakarya-Nya
Allah “menduplikatkan” diri-Nya
Allah membuat pusat dari kasih-Nya
Allah menciptakan wakil-Nya di hadapan dunia, di antara semua ciptaan-Nya

Sebegitu berharganya manusia bagi Allah, Allah menyebut manusia sebagai biji mata-Nya:
Didapati-Nya dia di suatu negeri,
di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara.
Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya
# Ulangan 32 : 10

Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam,
yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku,
mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu
sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya
# Zakaria 2 : 8

Mata ini yang membuat hidup menjadi berwarna. Demikianlah keyakinanku, bahwa kasih Allah kepada manusia membangkitkan sukacita penuh warna di hati-Nya. Mata ini juga yang rentan untuk tersakiti dan kecenderungan manusia saat matanya tersakiti adalah segera melindunginya. Hal ini juga yang kuyakini ada di dalam hati Allah, yakni saat umat-Nya tersakiti, sesungguhnya pada saat yang sama Allah sedang melindunginya, walaupun seringkali manusia itu tidak menyadarinya.

Demikianlah hendaknya kedua hal ini menjadi seimbang, yakni manusia menyadari kerendahan dan keluhuran di dalam dirinya. Janganlah manusia menilai dirinya sebegitu tinggi, janganlah manusia menjadi sombong. Tetapi jangan juga manusia merasa dirinya tidak berharga, apalagi hanya karena dia membandingkan dirinya dengan orang lain.

Hendaknya setiap orang memiliki kerendahan hati tetapi jangan merendahkan karya Allah di dalam hidupnya. Seringkali ketika ada pujian, “wah kamu hebat yah”, tetapi ditanggapi dengan jawaban, “ah, itu beruntung saja”. Jawaban seperti inilah yang kusebut merendahkan karya Allah karena Allah benar-benar memberkati orang itu, tetapi demi menjaga sesuatu yang dia kira sebagai “kerendahan hati”, dia malah menyebut itu sebagai suatu keberuntungan yang jelas-jelas mengabaikan campur tangan Allah.

Akhir-akhir ini aku juga sering melihat beberapa teman berkata, “apalah aku ini, kuah-kuah ikan”. Jika kau pernah memakai kalimat ini, kumohon janganlah mengulanginya lagi. Karena itu bukan kerendahan hati tetapi merendahkan Allah, in my opinian yah. Kau bukan kuah-kuah ikan, kau adalah tanah, tetapi kau sangat berharga di mata-Nya. Janganlah ada lagi kuah-kuah ikan dalam kosakatamu karena Allah adalah Raja segala Raja dan bukan koki ikan. Jangan rendahkan Dia seperti itu yah.

Kita harus sadar benar akan kerendahan dan keluhuran kita. Tetapi pengenalan seperti itu bukanlah tujuan akhirnya. Suatu saat nanti, tidak akan ada lagi bekas-bekas kerendahan dalam tubuh kita karena kita semua, umat Allah, dipersiapkan untuk kemuliaan bersama-Nya yaitu saat Kristus datang kedua kali untuk menjemput orang-orang yang percaya kepada-Nya. Hendaklah kebenaran itu menjadi pengharapan bagi kita agar kita tidak terlena atau terpenjara dengan kondisi kita saat ini.

Konsep diri humility dan dignity bukanlah tujuan akhir dari pengenalan diri. Konsep ini adalah gerbang, fondasi, untuk proyek pengenalan diri yang sesungguhnya. Pertanyaan besarnya, pengenalan diri seperti apa yang disebut sebagai “sesungguhnya” itu?

Sederhana tetapi tidak mudah
Kita tidak dirancang untuk menjadi serupa dengan seseorang yang kita kira sebagai diri kita yang sejati
Kita dirancang untuk menjadi serupa dengan Kristus

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s