5. This is Who I am

Image

Kini bagaimana kita berusaha mengenal diri kita? Untuk mengawali semua ini, aku ingin meminta izin terlebih dahulu kepadamu. Sebagian dari apa yang hendak kubagikan adalah tentang diriku sendiri. Bagiku, seorang pengkhotbah yang baik sepatutnya memberitakan tentang Tuhan jauh lebih banyak dibandingkan dia memberi kesaksian tentang kehidupannya dan itu pula yang selalu kuusahakan tiap kali aku diberi kesempatan untuk berbagi firman, walau mungkin tanpa kusadari dalam beberapa kesempatan aku menyampaikan terlalu banyak tentang hidupku.

Akan tetapi, kali ini, aku rasa akan sangat sulit berbagi pemahaman firman Tuhan tentang “mengenal diri” tanpa memberikan kesaksian tentang bagaimana aku mengenal diriku. Untuk itulah aku meminta izin di awal seperti ini bahwa aku akan, mungkin beberapa kali, mengambil contoh tentang diriku. Semoga Tuhan menyertaiku agar aku tidak memanfaatkan ini sebagai momen curcol atau show off tetapi biarlah contoh dari diriku ini membuat firman yang kita pelajari ini menjadi lebih jelas.

Ok, here we go…

Lalu bagaimana kita hendak mengenal diri kita?
Orang-orang bertanya:
“Siapakah aku ini?”
“Untuk apa aku ada di dunia ini?”
“Apa yang ingin aku lakukan di dunia ini?”
“Apa yang benar-benar aku inginkan?”

Ada orang yang merenung
Ada orang yang mengambil waktu khusus
Ada orang yang bermeditasi dan berkontemplasi
Ada orang yang menarik diri dari kerumunan orang
Untuk menyelami kedalaman hatinya demi dia benar-benar tahu siapa dirinya dan apa yang dia inginkan

Mungkin kamu adalah salah satu dari orang-orang itu
Kau rasa kau perlu menelusuri relung hatimu dan menyelami kedalamannya
Kau selidiki batinmu
Karena kau mengira bahwa jawabannya ada di dalam sana

Izinkan aku menyanggahmu dengan dua hal:
Pertama:
Kau tidak akan menemukan jawabannya apabila kau hanya mencarinya di dalammu

Kau mungkin akan berkata:
Tidak Richard, kau salah…
Aku jauh mengenal diriku setelah mengambil waktu khusus dengan diriku sendiri
Aku merenung, aku menyelami hatiku, aku menyelidiki batinku
Dan kini aku benar-benar mengenal diriku dan tahu apa yang ingin kulakukan dalam hidup
Aku menemukan jawaban yang kubutuhkan

Tetapi beginilah akan kujawab:
Aku tidak mengatakan bahwa perenungan itu tidak penting
Aku tidak mengatakan bahwa menyelami hati itu tidak berfaedah
Aku tidak mengatakan bahwa menyelidiki batin itu sia-sia
Semua itu penting
Tetapi kau tidak akan menemukan jawaban jika kau hanya berhenti sampai di sana

Kalau kau, setelah menelusuri dirimu sendiri, merasa kau mendapatkan jawabannya
Inilah hal kedua yang perlu kusampaikan padamu:
Apa yang kau kira sebagai “jawaban” itu
Apa yang kau sangka sebagai pengenalan diri itu
Baru akan menjadi jawaban…
Baru akan menjadi pengenalan diri yang sejati…
Ketika kau menaklukan pengenalan dirimu sendiri kepada Allah

Apa yang kumaksud dengan penaklukan di sini?
Sederhananya, penaklukan adalah ketika kau berkata seperti ini kepada Allah:
Bapa, aku sudah melakukan bagianku, aku sudah menyelidiki diriku sendiri
Aku rasa aku sudah mendapatkan jawabannya ya Tuhan
Aku rasa aku sudah cukup tahu siapa aku
Aku rasa aku sudah cukup yakin apa yang ingin kulakukan dan kukejar dalam hidup
Dan kini ya Tuhanku, kupersembahkan semua padamu
Jika kau hendak merombaknya habis-habisan, silakan ya Tuhan
Aku menaklukan diriku kepada-Mu

Kita semua perlu menyelidiki hati kita, itu bagian kita
Dengan melakukan itu, kita ibarat sedang menulis sebuah essay
Setelah essay itu penuh dengan penjabaran konsep bagaimana kita mengenal diri kita,
Setelah essay itu penuh dengan list keinginan dan target kita,
Kita menyerahkan essay itu kepada Allah
Pada saat yang sama, kita sedang memberikan otoritas penuh pada Allah
Untuk meng-approve essay itu
Atau untuk menghapusnya hingga bersih dan mengisinya sesuai apa yang Dia mau

Kita harus siap sedia ketika Allah menolak apa yang kita kira kita tahu
Kita harus siap sedia ketika Allah menghapus bersih essay kita
Dan kita harus siap sedia ketika Allah merombak habis-habisan konsep pengenalan diri kita

Dan ketika Tuhan benar-benar merombakknya
Mungkin kita akan mengatakan:

Sia-sia saja aku menulis essay sepanjang itu, toh akhirnya Dia juga yang menulisnya
Seharusnya dari awal aku memberikan padanya kertasku untuk Dia isi

Mungkin kau akan berkata:
Sia-sia saja aku berusaha menyelidiki batinku
Sia-sia saja perenunganku
Sia-sia saja aku merancang semua target-targetku
Sia-sia saja aku membuat daftar panjang bucket list-ku
Sia-sia saja aku berusaha mengenal diriku dengan perenungan yang berfokus pada diriku sendiri
Semua itu akhirnya menjadi sampah
Seharusnya yang dari awal aku lakukan adalah mengenal-Nya dan mengetahui apa yang Dia mau
Dan apa yang Dia mau, itulah yang seharusnya menjadi mauku juga
Dengan begitu essayku tidak akan sia-sia

Sakit?
Sangat
Tetapi itu satu-satunya cara untuk mengenal dirimu seutuhnya

Kau mau merenung tentang siapa dirimu? Silakan
Kau mau merenung tentang apa yang benar-benar rindu kau lakukan? Silakan
Semua itu tidak salah
Sebab yang menentukan benar salahnya adalah siapa fokus dalam perenunganmu

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s