8. Mari Berbicara Lebih Saintifik Sedikit

Melepaskan hal kedua ini tidaklah semudah melepas “bla bla bla kesukaanku”.

Jika hal pertama bersifat materi dan bisa dilihat, maka hal kedua ini tidaklah kasat mata dan hanya bisa dirasakan oleh hati. Mungkin seseorang baru menemukan sesuatu yang sangat dia sukai ketika dia sudah cukup berumur, tetapi hal kedua ini sudah mengiringi jalannya semenjak lahir. Dibandingkan hal pertama atau hal ketiga (yang menurutku paling susah dikorbankan, we’ll get to that later), hal kedua ini lebih sering dijadikan sebagai identitas dari seseorang.

Bagaimana seseorang merasakan hal kedua itu, demikianlah dia cenderung mengenal dirinya
Bagaimana seseorang menampilkan hal kedua itu, demikianlah orang-orang akan mengenalnya
Dan hal kedua itu adalah “sifat dari seseorang

Ada luar biasa banyak hal yang bisa disebut sebagai sifat manusia. Dalam pembicaraan yang lebih intelektual dibanding blog ini, mungkin kita akan menemukan perbedaan yang jelas antara kepribadian, karakter, sifat, tempramen, dan tabiat. Akan tetapi, aku tidak mau menghabiskan waktu untuk membahas definisi dari masing-masing istilah itu. Untuk seterusnya dalam halaman ini, kita akan menyebut semua hal itu sebagai sifat. Pokoknya, segala sesuatu yang memicu seseorang untuk berkata “gua memang orangnya kayak gini” akan kita sebut sebagai sifat.

Ada yang sifatnya pemarah, ada yang sifatnya penyabar
Ada yang ambisius, ada yang nyantainya bikin orang geleng-geleng kepala
Ada yang rajin, ada yang pemalas
Ada yang pendiam, ada yang talkative
Ada yang gengsian, ada yang low profile
Ada yang suka memberi, ada yang suka menerima
Ada yang sukanya mendominasi pembicaraan, ada yang senang hanya dengan menjadi pendengar
Ada yang perhatian, ada yang datang hanya kalau ada perlunya saja
Ada orang yang sifatnya begini
Ada orang yang sifatnya begitu

Gua memang orangnya kayak gini, gua memang sifatnya kayak gini
Pernyataan ini bisa jadi keluar dari seseorang yang merasa benar-benar yakin telah mengenali dirinya sendiri tetapi juga bisa terucap oleh seseorang yang menilai bahwa tidur-tiduran lebih penting dibanding pengenalan diri. Ya, sebagian orang yang mengatakan kalimat itu biasanya adalah pemalas.
Akan tetapi, yang manapun kasusnya, aku yakin mereka yang berkata demikian,
sebenarnya terlalu cepat 1000 tahun untuk mengatakan hal itu 

Mengapa?
Argumen pertamaku adalah apa yang sudah dikemukakan para ahli.
Walau belum ada nilai yang pasti, diyakini bahwa:
Manusia baru memakai se-cuil persen dari seluruh kemampuan otaknya

Aku rasa argumen ini saja sudah cukup memaksa kita mendefinisikan ulang arti pengenalan diri
Jadi siapakah “aku” saat kita berkata “aku memang orangnya seperti ini
Apakah “aku” adalah “aku dengan pemanfaatan otak baru se-cuil persen”          …. definisi 1
Ataukah “aku” adalah “aku dengan kemampuan sebenarnya”                           …. definisi 2

Apakah ada kemungkinan “aku” dalam definisi 1
akan sangat berbeda dengan “aku” dalam definisi 2?

Apakah perbedaan itu juga mencakup perbedaan sifat?
Apakah sifat dipengaruhi oleh cara kerja otak?
Apakah ada perbedaan sifat yang jelas antara orang idiot dan orang pintar?
Apakah ada perbedaan sifat yang jelas antara orang primitif dan orang modern?
Apakah ada perbedaan sifat yang signifikan antara orang terpelajar dengan tidak?
Apakah ada perbedaan sifat dari seseorang sebelum dan sesudah terjadi gangguan di otaknya?

Kalau kau tertarik, kau bisa menyelidikinya sendiri di literatur
Inilah poin yang ingin kutegaskan:
Hampir semua hal yang kita sebut sebagai sifat
Sesunguhnya adalah hasil dari reaksi atau mekanisme fisiologis di dalam tubuh kita
Bahkan cinta “mabuk kepayang” pun sebenarnya hasil dari kerja hormon

Oleh sebab itu
Jangan pernah buru-buru mengatakan “dia cinta sejatiku, aku yakin dia adalah satu-satunya
Jangan pernah buru-buru mengatakan “sifatku memang seperti ini

Adalah bodoh memutuskan untuk menikah dan terikat selamanya dengan seseorang hanya karena perasaan mabuk kepayang yang sebenarnya hanyalah akibat aktivitas hormon yang bekerja di dalam tubuh ini. Sesaat setelah hormon itu mulai tidak aktif (menurut ahli hormon itu bekerja tidak lebih dua tahun), maka pada saat itulah mereka mulai kehilangan ketertarikan yang selama ini memabukkan mereka. Itulah awal dari perpecahan suatu pasangan dan merekapun akhirnya sadar betapa bodohnya mereka mendasarkan ikatan selamanya ini hanya pada apa yang dikira sebagai cinta.

Oleh sebab itu, “cinta” saja tidak cukup untuk memutuskan untuk menikah
Karena ribuan orang yang bercerai di luar sanapun menjadikan “cinta” sebagai alasan mereka menikah

Sama dengan hal itu
Sangat disayangkan ketika kita mengenali diri kita hanya dengan keyakinan semu itu
“Aku memang seperti ini”
“Aku memang sifatnya seperti ini”

Hati-hati!!!
Pengenalan diri yang salah akan sangat berpotensi berujung pada hidup yang sia-sia

Dan bukankah itu bodoh ketika kita menyia-nyiakan hidup kita hanya karena keyakinan semu tentang sifat-sifat pribadi yang sebenarnya adalah hasil dari kerja fisiologis tubuh kita. Dan seakan-akan ingin membuat semua ini semakin menohok, aku ingin mengingatkan bahwa tubuh ini adalah tubuh yang sangat rentan berubah?

Ketika kondisi tubuh kita berubah, reaksi dan mekanisme lain yang terjadi dalam tubuh kita pun berubah.
Hal ini akan memicu perubahan pada aktivitas otak dan mulailah “sifat-sifat kita berubah.
Kita bisa tiba-tiba jadi emosional atau kita bisa jadi happy
Kita bisa berpikir dengan cepat atau kita tidak bisa berpikir sama sekali karena stress
Kita bisa jadi cuek atau kita bisa jadi sangat sensitif
Kita bisa berubah akibat tubuh kita

Lalu, jika demikian, yang manakah “aku” yang benar?
Apakah kita ingin merevisi pengenalan diri kita tiap kali tubuh ini berubah?
Atau jangan-jangan kita malah ingin berkata:
“Aku memang orangnya begini, sifatku memang labil”

Dan kumohon jangan berkata seperti ini:
“Aku rasa aku memang berkepribadian ganda”

Mungkin statement di atas akan membuatmu tertawa, mungkin.
Tapi belum lama ini aku membaca suatu hal yang lebih membuat geleng-geleng.
Orang yang duduk di sampingku sedang membaca koran di rubrik selebritis.
Di sana aku melihat ada artikel berjudul:
Artis sebut saja Mawar, ingin punya kepribadian ganda

Hahahaha… hi girl, be careful what you wish for

Pada akhirnya semua kembali padamu
Kalau aku sih tidak mau membatasi pengenalan diriku hanya pada sifat-sifatku SAAT INI
Aku yang saat ini” mungkin akan SANGAT BERBEDA dari “aku yang kelak, sesuai rencana Allah

Karena itu, daripada terus menerus fokus dengan pengenalan diri saat ini dan puas dengan itu,
Akan jauh lebih bijaksana jika kita mengarahkan pandangan kita untuk mencari tahu “diri kita yang hilang”,
yaitu “diri kita kelak sesuai rencana Allah

Kuharap sharing bebas dengan nuansa sedikit scientific (aseeeeekkkk) ini bisa membuat kita lebih aware dan berjaga. Berjaga-jaga dalam hal cinta dan dalam hal mengenal sifat diri.

Tapi jangan buru-buru membahas hal ketiga yah
Kita belum selesai dengan hal kedua ini
Masih banyak mindset yang perlu kita rombak habis-habisan mengenai SIFAT ini

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s