9. Cari Image Jaga Image

Okelah, mungkin kita akan bersikeras dan mengatakan, “aku ya aku yang saat ini

Tetapi
Jika kita berpendapat demikian, tidakkah kita terlalu membatasi diri?
Jika kita berpikir seperti itu, tidakkah kita mengecilkan diri kita sendiri?
Jika kita berkata begitu,
tidakkah kita sedang menjadi terlalu egois terhadap “dia” yang selama ini terkurung di dalam diri kita dan yang seharusnya sudah akan keluar seandainya saja kita tidak terlalu bodoh untuk berkata “aku memang orangnya kayak gini”?

Jika kita benar-benar ingin mengenal diri kita yang sebenarnya;
Jika kita ingin menjadi “kita yang sebenarnya” menurut rancangan Allah;
Maka salah satu hal yang mutlak harus kita lakukan adalah berhenti mengatakan
Aku memang orangnya kayak gini, sifatku memang seperti ini

Rasul Paulus membahasakan semua ini dengan sangat kuat ketika dia berkata:
Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya,
supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
~ 1 Korintus 9 : 22

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatankepadaku
~ Filipi 4 : 13

Sebagai manusia biasa, Paulus pasti memiliki sifat-sifat tertentu yang mencirikan dirinya. Paulus adalah Paulus, lengkap dengan sifat-sifatnya. Akan tetapi, ketika dia jatuh cinta kepada Kristus dan ketika pandangannya tertuju hanya pada pengabaran Injil, ia siap menjadi segala-galanya dan menanggung segala-galanya. Ia siap melayani Kristus sekalipun itu berarti ia harus menyangkal diri plus sifat-sifatnya.

Sejak semula, Allah telah memberitahu kita tentang siapa-manusia-yang-sesungguhnyaAtau dalam perkataan lain, siapa-manusia-yang-seharusnyaDia berkata:
Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita
~ Kejadian 1 : 26

Dengan demikian, “kita-yang-seharusnya”
Bukanlah “kita-yang-selama-ini-kita-kira-kita-kenal”
Melainkan “kita-dengan-sifat-dan-citra-Allah”

Dan tidak hanya berhenti dalam “sifat-sifat” yang cenderung “tersembunyi di dalam
Tetapi juga dalam “citra” yang cenderung “terpancar ke luar

Sekali lagi, kita-yang-seharusnya adalah kita yang mempunyai sifat Allah dan menampilkan gambar dan rupa AllahArtinya, sifat Allah itu harus ada di dalam diri kita, dan kita dapat merasakannya tetapi bukan kita saja, tetapi orang-orang juga harus bisa menyaksikan gambar dan rupa Allah itu dinyatakan di dalam hidup kita.

Secara sadar atau tidak, kita hidup sambil berusaha membangun image diri kita supaya kita terlihat:
Ke-abang-an, Keibuan
Romantis, Visioner
You can count on me
Polos dan naïf
Ceria selalu, Pemikir
Serba tahu dan tidak mungkin salah
Easy going, Determinatif
Suka olahraga, Pemimpin
Penuh kasih dan ramah
Melankolis, Petualang
Nyantai, Selalu hadir
“lu boleh bercanda sama gua tapi jangan main-main sama gua”

Itu semua, dan masih banyak lagi, adalah image-image yang sedang dibangun oleh banyak orang di dunia ini. Image-image itu berasal dari apa yang orang pikir sebagai sifat-sifat mereka. Image-image itu berasal dari sifat-sifat seseorang yang ingin diekspose ke depan semua orang. Tetapi ada pertanyaan besar yang harus dapat dijawab oleh mereka yang hendak membangun citra diri berdasarkan keinginan dan pemikirannya sendiri:

1) Apa kau cukup yakin bahwa kau sudah mengenal dirimu dan sifatmu?
2) Apakah itu image yang seharusnya kau tampilkan?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Satu hal paling bijak yang bisa kita lakukan saat ini adalah mengakui bahwa kita pernah dan mungkin sedang melakukan hal itu. Kita perlu menyadari bahwa itu merupakan kesalahan dan kesombongan di hadapan Allah sebab kita berusaha mencitrakan diri tidak seperti apa yang Allah inginkan. Kemudian, marilah kita melepaskan image-image itu dari diri kita. Kita tidak ditebus oleh Allah untuk menampilkan image-image itu, melainkan image Allah.

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.
~ Yohanes 3 : 30

Mungkin image yang kita tampilkan itu baik, misalnya penuh kasih dan ramah. Namun, motivasi yang salah akan menodai sesuatu yang pada hakekatnya baik. Satu-satunya motivasi yang benar adalah ini:
“Aku ingin membangun suatu image yang baik
Supaya dunia melihat Dia di dalam aku melalui image yang baik itu
Dan bukan supaya dunia mengenal aku seperti itu.” 

Mengapa kita masih berusaha untuk dikenal sebatas image yang kita bangun? Padahal, kita punya kesempatan untuk dikenal sebagai orang yang seperti Allah”. Dan kalau kita telusuri Alkitab, memiliki citra ilahi bukanlah sekadar kesempatan. Memiliki dan menghidupi citra ilahi merupakan panggilan bagi setiap orang percaya. Ini merupakan TUGAS dan KEWAJIBAN setiap orang yang telah diselamatkan oleh Allah.

Pada awalnya, kita diciptakan memang untuk dikenal sebagai “makhluk yang ke-Allah-an banget” di antara ciptaan-ciptaan-Nya yang lain. Oleh sebab itu, panggilan kita adalah untuk dikenal sebagai “seseorang yang ke-Allah-an banget”, bukan sekadar melan-banget, atau keibuan-banget, atau ceria-banget, atau keabangan-banget, atau banget-banget yang lain.

Apakah itu mustahil? Apakah hidup sebagai seseorang yang ke-Allah-an banget mustahil untuk dihidupi? Apabila, kita mengandalkan kekuatan dan hikmat kita sendiri, tentu saja itu mustahil. Tetapi apabila kita hidup di dalam Kristus dan mengandalkan Dia, tentu saja tidak ada yang mustahil bagi kita. Pauluspun memberikan kesaksian mengenai itu ketika ia berkata:

namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,
melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
~ Galatia 2 : 20

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s