13. Tujuan yang Mengubahkan

Sebagai pembuka, seorang bijak pernah berkata:
If it doesn’t challenge you
It won’t change you

Kalau aku hendak membahasakannya dengan caraku sendiri, maka aku akan mengatakan:
Jika kau tidak berkorban
Maka kau tidak akan berubah

Benar, selalu dibutuhkan pengorbanan untuk mengubah sesuatu
Dan itu berarti bahwa perubahan itu akan selalu menyakitkan

Seperti apa yang kusampaikan di bagian paling awal, aku mohon izin untuk menceritakan diriku
Sungguh aku tidak ingin mencuri kemuliaan Tuhan melalui semua ini

Dulu aku adalah orang yang sangat tidak suka menulis.
Ketika masih di persekutuan mahasiswa dulu, ada seorang Abang yang sangat menginspirasiku.
Aku sangat senang tiap kali abang ini berkhotbah.
Dia selalu membawanya dengan penuh semangat walau terkadang sangat menusuk.
Siapa yang pernah mendengar seorang pembicara berkata: “t** kucing kalian semua”?
Hahahaha, aku pernah, dan kata-kata itu keluar dari beliau.
Tapi tidak apa, justru semua itu membuatku semakin yakin bahwa dia ini bukan orang sembarang.

Hanya satu yang tidak kusukai tiap kali dia menjadi pembicara:
Dia selalu mengajak untuk menulis
Tuturnya, “menulis dapat mengubah dunia”
Dan tiap kali dia mengatakan hal itu, aku selalu berkata dalam hati:
“yaelah, menulis lagi menulis lagi… sudahlah Bang… aku tahu siapa aku
Aku tidak suka dan tidak akan suka menulis… It’s not me…”

Tidak cuman itu, ketika aku menjadi aktivis pelayanan mahasiswa dulu, seorang Abang menegurku:
Chard, sebagai pemimpin kau punya kelemahan, kau ga suka menulis.
Dan tanggapanku tetap sama:
aku bukan tipe penulis, aku akan melakukan bagianku, tetapi aku yakin itu bukan menulis

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Tetapi ternyata semua berubah ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku masih ingat tulisan pertama yang kubuat dua tahun lalu
Tulisan itu kuberi judul, “Rencanakan Hidupmu
Aku tidak begitu ingat detailnya tetapi aku masih ingat apa yang mendorongku melakukannya

Saat itu adalah hari libur semester genap. Dan setiap kali libur panjang, aku punya satu agenda utama yang selalu kulakukan semenjak SMP. Di kala orang lain berlibur, aku tidak berlibur. Aku justru belajar, aku mengumpulkan semua informasi yang kubutuhkan untuk menghadapi semester yang akan datang. Aku akan mencari tahu akan ada praktikum apa saja, ada tugas besar apa saja, pembagian materi UTS-nya bagaimana, cara penilaian guru ini bagaimana, apakah mata pelajaran/mata kuliah ini tipenya hapalan atau hitungan, apakah sering ada kuis, dan lain sebagainya.

Intinya, dengan slot waktu liburan yang terbatas ini, aku harus bisa mendapatkan gambaran sedetail mungkin mengenai semester seperti apa yang akan aku hadapi.
Aku punya prinsip:
Pokoknya dalam liburan panjang ini, semester depan sudah harus ada di genggamanku

Okelah, aku yakin sebagian darimu akan berkata bahwa itu freak. Tetapi dari lubuk hatiku yang terdalam aku benar-benar rindu mengajak teman-temanku untuk lebih bijak dalam merencanakan perkuliahan dan menurutku liburan panjang adalah saat paling tepat untuk merencanakan semua itu.

Aku punya satu kerinduan dan itu untuk kebaikan orang lain
Akan tetapi aku menemukan masalah di sini
Aku tidak mungkin datang ke rumah mereka satu per satu dan mengingatkan mereka
Aku tidak mungkin mengirim sms berjudul “Rencanakan Hidupmu”
Aku tidak mungkin berorasi atau berkhotbah karena itu hari libur
Kalau begitu, bagaimana aku bisa mewujudkan kerinduanku ini?

Lalu aku teringat satu cara, menulis
Benar, satu-satunya cara adalah dengan menulis dan men-tag teman satu per satu
Dan tentu saja, terjadi peperangan batin di dalam diriku
Bukankah aku membenci menulis? Mengapa aku harus capek-capek menulis?

Tetapi inilah respon hatiku:
Ah biarlah, hatiku tidak bisa tenang dengan hanya mendiamkan kerinduan ini.
Aku harus melakukan sesuatu walaupun mungkin sesuatu itu adalah hal yang tidak kusukai.

Tidak ada jalan lain, aku harus menulis
Dan akupun melakukannya

Dan ternyata, tanpa kuantisipasi sebelumnya,
Detik di saat aku mengetik huruf pertama tulisan itu,
Itulah detik yang menjadi titik tolak yang mengubah hidupku
Mulai dari detik itu, sebagian dari sifat dan hal-hal yang kusukai berubah
Mulai dari detik itu, aku bukan lagi diriku yang pernah kukenal
Mulai dari detik itu, aku tidak sama lagi

Benar, tujuan hidupku mengubah duniaku, membuatku tak sama lagi
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku jadinya jika detik itu aku sia-siakan
Aku tahu bahwa diriku tidak suka menulis
Tetapi kerinduan itu membuatku mengorbankan “aku yang lama

Walaupun pengorbanan itu tidak pernah mudah
Walaupun perubahan itu menyakitkan
Tetapi sungguh, detik itu adalah detik yang tidak akan pernah kusesali selama-lamanya

Dan jika aku harus melakukan hal yang seperti itu lagi,
Jika aku harus mengorbankan diriku sekali lagi,
Jika aku harus melakukan sesuatu yang baru untuk orang lain,
Maka rasanya aku ingin berteriak sekuat tenaga: “Jika aku harus melakukannya lagi, maka aku akan melakukannya
Walaupun aku tahu, itu mungkin akan jauh lebih sulit dari sebelumnya

Dan demikianlah, akhirnya aku ada sebagaimana aku ada sekarang
Ketika aku memiliki suatu kerinduan, ada tujuan yang aku kejar
Semakin besar kerinduan itu, semakin jelas tujuanku
Dan apabila tujuan yang jelas itu adalah untuk orang lain
Maka aku memiliki kekuatan yang cukup untuk mengorbankan diriku

Aku bisa berubah
Aku memiliki kesempatan untuk berubah
Tetapi bukan aku saja yang bisa kuubah
Kini aku beroleh kehormatan untuk menjadi agen pembawa perubahan

Kini aku memiliki suatu kesempatan yang berharga
Dan kesempatan itu tidak dimiliki oleh jutaan orang di luar sana yang hidup bagi dirinya sendiri
Dan kesempatan itu adalah:
Dipakai Allah untuk mengubahkan hidup orang lain

Ya, puji Tuhan, beberapa teman mendukung tulisanku dan merasa terberkati bahkan diubahkan
Tidak cuma itu, tulisanku memberikanku kesempatan untuk berteman dengan orang-orang yang sebelumnya belum pernah kukenal sama sekali
Bagaimana mungkin kita bisa saling mendoakan dengan orang yang bahkan belum pernah bertatap muka dengan kita?
Well, itu adalah kesempatan yang kini aku bisa nikmati dan syukuri  

Dan kabar baiknya adalah ini:
Kau juga punya kesempatan yang sama

Milikilah kerinduan untuk kebaikan orang lain
Dan biarlah kerinduan itu menunjukkan arah ke tujuan hidupmu
Biarlah kerinduan itu mengubahmu
Dan bersiaplah untuk menderita, karena kau harus mengorbankan dirimu
Tak apa, seperti kata seorang bijak:
The people with the biggest hearts, always suffer the most

Kesuksesan bukanlah ukuran seberapa banyak uang yang bisa kau peroleh
Melainkan seberapa besar perubahan yang kau ciptakan dalam hidup seseorang

#Bersambung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s