So Stop Complaining!

Nice Made Up Story : So Stop Complaining!

Alkisah ada seorang pemuda yang tinggal di kota
Pemuda ini memiliki nenek yang hidup sendiri di desa

Suatu kali, nenek menelpon ke rumah dan berbicara seolah-olah dia sudah mati
Nenek ini ternyata sedang mengalami fase hidup yang namanya pikun
Terkadang nenek lupa nama dari ibu pemuda tersebut
Dan bahkan terkadang merasa tidak memiliki anak sama sekali

Karena khawatir dengan keadaan neneknya,
sang pemuda memutuskan untuk pergi ke desa dan merawat neneknya
Dan seperti yang dia duga, merawat seseorang yang sudah pikun sangatlah susah

Walaupun pikun, kadang kala nenek tetap bisa berkomunikasi dengan normal
Dan pada makan malam mereka kali ini, nenek berbicara seolah-olah dia tidak pikun sama sekali
Apa yang mereka bicarakan benar-benar mengguncang sang pemuda

N : Kamu kenapa? (melihat pemuda itu yang memain-mainkan makanananya)
P :
Aku tidak habis pikir, Nek. Aku sudah 26 tahun.
Aku sehat, aku normal, aku punya banyak kesempatan.
Kini teman-temanku mulai banyak yang menikah dan memiliki anak.
Dan aku… aku jauh sekali dibanding mereka…

N : Mengapa kau datang ke sini?
P :
Aku tidak tahu.
Aku kira aku bisa mendapatkan suatu pencerahan di sini.
Dan mungkin aku bisa menemukan sesuatu dan mengubah hidupku selamanya.

N : Nak, aku sudah 133 tahun.
P : Ouu, Nek… itu mustahil
N :
Aku menghabiskan seumur hidupku berusaha untuk menemukan sesuatu. Dan kau tahu apa?
Hidupku tidak berjalan sebagaimana yang kuharapkan.
Aku akan segera mati dan kau masih akan hidup.
Jadi berhentilah mengeluh!

Seandainya saja kita mau mengambil waktu sejenak dan merenung
Oh, betapa kita tidak bersyukur dengan umur panjang yang terlampar panjang di hadapan kita
Okelah, umur ada di tangan Tuhan, tapi aku rasa kita bukan orang yang merasa kita akan segera mati

Di luar sana, ada ribuan bahkan jutaan orang yang sedang menyesali hidupnya
Ada orang-orang tua yang menyesal tidak mau meluangkan waktu bagi anaknya semasa muda
Ada orang-orang yang terbaring di rumah sakit sambil menanti kematian menjemput mereka
Dan mereka mengisi detik-detik terakhir dalam hidup mereka dengan menyesal
Menyesal karena mereka telah menyia-nyiakan hidup mereka
Dan mereka kehabisan kesempatan untuk memperbaikinya

Dan kini kita… yang masih bisa berkata “aku akan melakukan ini dan itu, aku akan pergi ke sana dan ke situ”
Mengapa kita menjadi orang yang terlalu banyak mengeluh?

Mengeluh jomblo
Mengeluh gaji kecil
Mengeluh tugas sekolah yang berat
Mengeluh ini
Mengeluh itu

Ingat, jutaan orang di luar sana berharap bisa memiliki kesempatan yang kita miliki
Mereka rela menyerahkan segala-galanya demi mendapatkan kesempatan untuk mengulangi hidup
Tetapi mereka tidak akan bisa lagi mendapatkannya

Dan kita, yang masih punya kesempatan untuk hidup
Mengapa terlalu banyak mengeluh?

Oh… mengapa terlalu banyak mengeluh…
Mengapa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s