14. How the Mighty Fall

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku:
Tuhan, Tuhan bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, 
dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata:
Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
~ Matius 7 : 23

Berbuat sesuatu bagi orang lain adalah sesuatu yang baik
Tetapi terkadang sesuatu yang baik belum tentu benar untuk dilakukan
Dan yang lebih sering terjadi, sesuatu yang baik belum tentu yang terbaik

Izinkan aku, untuk terakhir kalinya, menceritakan sesuatu tentang diriku
Yakni saat Tuhan mempermalukanku habis-habisan
Saat aku melihat Dia mengacuhkan semua hal baik yang kukira kulakukan untuk-Nya
Semoga sisi gelap yang pernah aku alami membukakan sesuatu di benak dan hatimu
Sebab mungkin kau pun pernah mengalaminya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Awalnya aku adalah seorang yang tidak suka menulis
Tetapi sesuatu terjadi di dalam hatiku
Aku harus menulis dan aku memutuskan untuk menulis
Waktupun berlalu dan here I am, I’ve changed, kini aku senang menulis

Tetapi itu bukanlah akhir dari segalanya
Aku semakin menyukai menulis hingga batas yang seharusnya tidak kulampaui
Aku semakin menyukai berbagi firman dan membangun orang lain
Sampai akhirnya itu bukan lagi menjadi satu-satunya alasanku menulis
Ada kalanya aku menulis hanya untuk menjaga waktuku tetap produktif
Ada kalanya aku menulis untuk menjaga otakku terus berjalan bahkan di waktu-waktu yang paling membosankan sekalipun

Menulis bukan lagi menjadi suatu pengorbanan bagiku karena kini aku menyukainya
Menulis malah menjadi alat untukku melayani diriku karena aku memang menikmatinya
Aku seharusnya sudah menduganya dari awal, tetapi aku membiarkan pertahananku melemah
Dan seperti orang yang terlalu polos, aku tak sadar itu adalah gerbang kejatuhanku

Semakin hari aku “semakin harus” menulis
Aku tidak boleh tidak menulis
Aku tidak bisa tidak menulis
Tuhan, apa yang terjadi padaku?

Waktu ini terlalu berharga jika digunakan untuk bermain-main, aku harus menulis
Aku harus membuat sesuatu yang berguna dan membangun
Ada banyak orang di luar sana yang mungkin bisa kubantu dengan tulisanku
Aku tidak boleh berhenti menulis
Dan suara hatiku mulai berkata lagi:
Ada yang salah denganku… Aku seperti terbelenggu… help me!

~~~~~~~~~~
Dan pergolakan batin terjadi dalam diriku:
A : Richard, stop it… stop it… Please… Stop writing… You can’t be like this

B  : Aku ga bisa berhenti, orang jahat saja ga pernah berhenti, kenapa aku harus berhenti?

A : Ya kau benar, tapi tidakkah kau sadar kau seperti orang yang terpenjara sekarang?
      Menulis telah memenjarakanmu.

B  : Tetapi… tetapi aku melakukan semua ini untuk orang lain

A : Ya, mungkin untuk orang lain, tetapi kau sedang tidak melakukannya untuk Allah.
       Remind me again why we started doing it!

B : No no no, you’re getting me wrong, Tuhan yang menyuruhku untuk menulis.

A :
No no no, you’re getting Him wrong
He didn’t ask you to write
He asked you to do SOMETHING FOR HIM
And more importantly… to do something WITH HIM
~~~~~~~~~~

Tetapi aku terlalu keras kepala
Aku melanjutkan kebiasaanku menulis
Dan nampaknya itu membuat Allah harus turun tangan

Suatu ketika aku sedang menulis sesuatu tentang penyangkalan diri (catat: Penyangkalan Diri loch)
Aku menulis tentang menyangkal diri
Aku tahu bagaimana dan kapan harus menyangkal diri
Tetapi kali ini, nampaknya aku hanya tahu sekadar tahu

Saat aku sedang menulis itu… saat aku menulis itu… pas sekali waktunya…
Handphone-ku berdering pertanda sms masuk
Akupun membaca isi sms yang aku belum menyimpan nomor dari pengirimnya itu 
Isinya sederhana, kurang lebih seperti ini:
Richard, besok apa bisa menjadi gitaris untuk ibadah sekolah minggu?

“Astaga
Mengapa harus sekarang???”

SMS itu membuatku keringat dingin dan menelan ludah di kerongkonganku
Sudah kuduga Tuhan akan turun tangan langsung untuk membuatku berhenti menulis
SMS itu membuatku hatiku lemas
Aku tahu benar bahwa Tuhan menyindirku habis-habisan hanya dengan sebuah SMS

Kau mungkin tidak mengeri maksudku
Biar aku jelaskan

Di Jakarta ini, seorang teman mengajakku untuk melayani di sekolah Minggu sebagai gitaris
Awalnya aku ingin menolak, aku tahu bagaimana diriku
Aku bukanlah orang yang dapat dengan mudah bergaul dengan anak kecil
Pelayanan ini akan menjadi luar biasa sulit bagiku
Jika aku ingin melayani di sini, pasti aku menyangkal diriku habis-habisan

Tetapi aku meneguhkan hatiku saat itu, aku ingin melakukan sesuatu yang baru bagi Tuhan
Lagipula, aku tidak sesibuk masa kuliah dulu, aku pasti bisa menyempatkan waktu untuk melayani Sekolah Minggu
Akhirnya aku memutuskan bersedia menjadi pelayan di Sekolah Minggu GII Semanggi

Aku sempat beberapa kali menjadi gitaris
Kuakui itu bukan pengalaman yang buruk, justru membangunku
Aku kagum melihat kakak-kakak sekolah Minggu-nya
Pikirku, hebat sekali mereka rela menghabiskan waktunya untuk menceritakan firman di depan anak-anak bayi itu?

Aku rasa pelayanan Sekolah Minggu tidaklah se-“suram” itu
Walau aku sering mendapati diriku salah tingkah di depan anak-anak yang sangat kecil itu, aku rasa aku bisa bertahan

Tetapi itu semua tidak bertahan lama
Semakin hari aku semakin sering ke lapangan
Aku tidak bisa lagi melayani di Sekolah Minggu
Dan otomatis, adaptasi yang sudah kubangun untuk Sekolah Minggu itu kini mulai melemah
Belum lagi aku sangat menyukai car free day

Dan inilah saatnya SMS itu datang
Aku baru saja sampai di Jakarta hari Rabu
Kamis dan Jumat aku bekerja di kantor seperti biasa
Dan harus berangkat lagi hari Seninnya
Which meantaku sangat sangat butuh refreshing dan itu hanya bisa dilakukan di Sabtu dan Minggu
Dan lagi, aku sangat kangen dengan suasana car free day hari Minggu yang sudah jarang aku temui

Dan di atas semua itu
Aku akui aku belum siap untuk bertemu dengan anak-anak itu lagi
Aku belum siap lagi untuk tersenyum manis di depan mereka dari awal sampai akhir
Adaptasiku sudah runtuh dan aku belum siap membangunnya kembali
Aku belum siap menyangkal diriku lagi… I need some time…

Ya Tuhan…
Seandainya ini adalah Kebaktian Pemuda, aku pasti siap Tuhan
Seandainya SMS-nya tidak dadakan, aku pasti bisa mengumpulkan semangatku Tuhan
Seandainya hari Senin aku tidak ke lapangan, aku pasti bersedia Tuhan

Tuhan, mengapa terlalu mendadak?
Tuhan… aku mau melepas penatku… aku kangen sekali car free day
Please Tuhan, jangan minta ini dariku, please
Aku siap melakukan hal lain tapi kumohon jangan ini

Aku menggumulkan semua itu dalam hati sembari mengetik SMS bahwa aku tidak bisa melayani 
Yap… dengan penuh rasa malu…
Aku mengaku aku gagal menyangkal diriku kali ini

Lalu Tuhan menegurku:
~~~~~~~~~~
Lihat apa yang sedang kau tulis saat ini di laptopmu!
Kau menulis tentang Penyangkalan Diri, that’s right… Penyangkalan Diri
Tetapi apa yang kau lakukan?
Kau sama sekali enggan menyangkal dirimu sendiri
Kau tahu semua itu tetapi kau tidak melakukannya, apa gunanya?

Aku tidak memintamu untuk menulis
Aku tidak memintamu untuk menyangkal diri dalam hal lain
Kali ini, aku cuma memintamu memberikan diri untuk Sekolah Minggu, itu saja
Tetapi kau enggan

Okelah kau menulis banyak hal
Okelah mungkin ada orang-orang yang merasa senang dan terberkati melalui tulisanmu
Tetapi kalau Aku tidak senang dengan itu, kau mau apa?
~~~~~~~~~~

Hatiku hancur sekali
Aku merasa seakan-akan Tuhan melempar semua tulisanku seperti seorang dosen melempar kertas ujian mahasiswanya
Tuhan benar-benar membuatku tertunduk malu dengan diriku sendiri
Aku sendiri muak melihat diriku yang lemah dan munafik ini
Mengapa aku tidak bisa menyangkal diri kali ini?
Mengapa susah sekali?

Hampir-hampir aku terintimidasi dan merasa Bapa pasti membenciku selama ini
Tetapi Roh Kudus dengan manis menghiburku
Justru karena Bapa sangat mengasihiku makanya Dia menegurku, bahkan menyindirku, dengan cara sepedih ini
Justru karena Bapa sangat mengasihiku makanya Dia tidak mau aku melenceng lebih jauh lagi
Justru karena Bapa sangat mengasihiku makanya Dia mau supaya aku kembali melayani UNTUK-NYA dan DENGAN-NYA

Aku menjadi segan, benar segan kepada Allah
Aku merasakan apa yang Daud rasakan ketika Daud melihat Allah membunuh Uza yang hendak mencegah Tabut Allah jatuh
Saat itu, Daud menjadi takut, Dia tidak berani dan tidak jadi membawa Tabut Allah ke kediamannya
Daud menjaga jarak dengan Allah, Daud menjadi segan dengan Allah
Daud ingin mendefinisikan ulang betapa jauhnya dirinya dengan Allah

Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN,
lalu katanya: “Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?”
Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud

~ 2 Samuel 6 : 9 – 10

Dia adalah Allah, aku tidak bisa main-main dengan Dia
Aku ini pelayan
Aku tidak bisa seenaknya menulis dan merasa bahwa aku sedang melakukan itu untuk-Nya
Aku cuma pelayan, kalau Tuanku tidak menyuruhku menulis, aku tidak boleh menulis
Aku akan menulis jika dan hanya jika Tuhan menyuruhku

Benar sekali apa yang Tuhan katakan
Okelah aku menulis, okelah aku melakukan sesuatu untuk orang lain
Tetapi kalau Tuhan tidak menjadi alasan utama dari semua itu
Kalau Tuhan tidak senang dengan semua itu, aku mau apa?
Habislah sudah semua usahaku kalau pada akhirnya Tuhan tidak disenangkan dengan semua itu

Aku harus berubah
Aku belajar untuk melakukan segala sesuatu UNTUK-NYA dan DENGAN-NYA
Next time, mungkin Tuhan akan TIBA-TIBA lagi datang untuk memintaku menyangkal diri
Aku harus belajar menjadi lebih rendah hati

Aku harus belajar lebih lagi untuk menanggalkan egoku
Aku harus siap menyangkal diriku lagi dan lagi tiap kali Allah memintanya

Terus terang, ada hal-hal yang paling aku takut kalau-kalau Tuhan memintanya dariku
Aku paling takut kalau Tuhan memintaku menyangkal diri untuk melakukan itu
Mungkin itu juga yang pemuda yang kaya itu rasakan
Ketika Yesus berkata:
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, 
maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Tetapi sampai kapan aku harus lari kalau Tuhan memintaku menyangkal diri seperti itu
Sampai kapan aku akan menolak kalau tiba-tiba SMS untuk menjadi gitaris di Sekolah Minggu itu datang lagi?

Ya Tuhan, aku ingin sekali melayanimu dengan segala apa yang ada padaku
Tetapi aku akui kadang kala permintaan-Mu begitu sulit kupenuhi
Terkadang aku menolak-Mu
Aku tahu bahwa tiap kali aku menolak-Mu, hatikupun sakit sekali

Tetapi inilah aku Tuhan, yang masih terlalu lemah
Yang masih terlalu mencintai diriku untuk menyerahkan semuanya pada-Mu
Aku mungkin siap memberi uangku pada-Mu, tetapi apa aku siap ketika Kau meminta waktuku?
Aku mungkin siap memberi pikiranku pada-Mu, tetapi apa aku siap jika Kau meminta kesehatanku?
Aku mungkin siap menyangkal diri untuk suatu hal, tetapi apa aku selalu siap jika Kau meminta hal lain?

Tolong aku Tuhan
Ternyata benar aku tidak bisa berjalan sendiri untuk melayani-Mu

Tolong aku Tuhan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bagaimana denganmu Kawan?

  • Bagaimana kalau Tuhan meminta sesuatu darimu secara MENDADAK?
  • Apakah kau pernah melakukan sesuatu, sesuatu yang baik, tetapi Dia tidak menjadi alasan dari semua itu?
  • Pernahkah kau merasa sedang melakukan pelayanan tetapi tidak merasa ada Tuhan di dalamnya?
  • Pernahkah kau merasa bahwa pelayanan itu memenjarakanmu atau hanya menjadi rutinitas?

Ingat, jangan sampai sesuatu yang baik sedang mencegahmu melakukan yang terbaik?

Pernahkah kau mengalami hal yang sama denganku?
Yakni ketika kau merasa sudah melakukan banyak hal baik untuk orang lain
Tetapi Allah tiba-tiba datang dan memintamu menyangkal diri untuk sesuatu yang lain
Dan ternyata kau gagal?
Pernahkah?

Adakah sesuatu yang paling kau takuti kalau-kalau Allah memintanya darimu?

Atau jangan-jangan…
Semua pelayananmu merasa menyenangkan tanpa ada sedikitpun pengorbanan?

Guyz… hati-hati… sangatlah hati-hati dengan kondisi itu
Karena dari awal sampai akhir Alkitab mengajar bahwa tidak mungkin tidak ada pemuliaan tanpa pengorbanan
Hati-hati, bisa jadi pelayanan semacam itu tidak membawamu ke manapun

Apakah kau melakukan segala sesuatu UNTUK-NYA
Apakah kau melakukan segala sesuatu DENGAN-NYA

Sungguh
Kau tidak akan mau suatu saat Tuhan menolak semua hal baik yang pernah kau lakukan
Dan kau hanya bisa mengelus dada dan berkata:
Hufff… how the mighty (something good that you think you do for Him) fall”

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s