Dignity

Belum lama ini aku mendengar kabar bahwa seorang adik “jadian”
Aku sangat mengasihi saudaraku yang satu ini
Dulu kami bersama-sama saat menjadi Pengurus PMK
Aku menjadi teringat bagaimana dulu kami sering berselisih pendapat mengenai perlu tidaknya Ibadah Jumatan PMK untuk tetap diadakan
Hahahaha… good times…

Pada tahun pertamanya, dia bukanlah orang yang aktif di PMK
Tapi demikianlah rencana-Nya, dia menjadi pengurus PMK
Kau tahu, aku sempat sangat kuatir bagaimana aku bisa mengayomi adik yang tampangnya brutal ini
Tapi semua berjalan begitu indah
Aku sangat bersyukur dia ada dalam kepengurusan kami
Aku tahu aku akan selalu bisa mengandalkan dia
Aku sangat mengasihinya sebagai seorang saudara

Dan demikianlah, kini dia, akhirnya, punya pacar kembali

Dan kala itu, aku sedang keluar untuk berjalan-jalan kecil sambil menikmati malam
Aku mengenang kembali masa-masa itu
Dan aku terpikir:
“Hahahaha, puji Tuhan banget yah De kau jadi pengurus.
Coba kalau nggak, ga bakal kau nongol di PMK, ga bakal kau muncul di sekre.
Dan mungkin kau ga akan pernah bertemu wanita yang kini jadi pacarmu”

Aku tersenyum, menikmati suasana malam dan kenangan masa lampau
Aku tak sengaja membiarkan pertahananku melemah, “pikiran itu” muncul lagi
Hatiku menjadi berat, dahiku mengerut, aku menarik nafas panjang
Pikiran itu muncul lagi
“Hufff… ya Tuhan… Kapan aku boleh punya pacar?
Kok sepertinya indah yah punya seseorang
Untuk kuperhatikan dan memperhatikanku
Untuk kunasehati dan menasehatiku
Kapan tiba giliranku?”

Aku melihat sekeliling, sepi, sunyi, senyap, remang, angin sepoi-sepoi
Aku terbawa suasana
Akal sehatku meredup
Dan hatiku berkata:
“Ayo kita buat suasana semakin menjadi melankolis dengan memandang indahnya bulan”

Dan aku setuju dengan apa yang hatiku katakan
Aku menengadahkan wajahku ke langit
Berharap suasana malam akan semakin indah dan melankolis
Sembari, tentu saja, mendengarkan alunan lagu yang mengalir indah di head set-ku

Kemudian sesuatu terjadi…

“Astaga… kenapa lagu ini?”

Saat aku mulai melihat bulan yang ada tepat di atas kepalaku
Pada detik yang sama, lagu yang terputar adalah “O Sacred Head Now Wounded” 

Lagu ini
Membangunkanku
Menghentikan denyut jantungku
Mengguncang tanah yang kupijak
Aku tahu, Tuhan ingin mengatakan sesuatu padaku melalui lagu ini

“Tuhan…. kenapa harus lagu ini?”

Aku bukan tipe orang yang sedikit-sedikit mengatakan “ini suara Tuhan” tetapi aku yakin tidak ada satupun hal yang kebetulan terjadi di dunia ini, termasuk kejadian kali ini. Lagu ini terputar tidak hanya di detik yang  sama saatku mulai menatap bulan. Lagu ini bahkan terputar sampai dua kali, hanya saja lagu kedua adalah versi choir-nya. Ini bukan kebetulan, aku mengeset media player-ku untuk memutar lagu secara acak. Terlalu kecil kemungkinan dua lagu dengan judul yang sama terputar secara berurutan dan kalaupun memang terjadi, mengapa harus di saat seperti ini?
Aku menolak untuk menganggap ini semua kebetulan
Tuhan pasti hendak mengatakan sesuatu padaku

“Tuhan tidak ingin aku larut dalam kegalauan”

Kau mungkin tidak mengerti apa yang kukatakan
Renungkanlah lagu ini dan kau akan mengerti
Aku begitu menyukainya
Lagu ini menjadi perenungan yang mendalam  tiap kali aku mendengarnya

O sacred head now wounded (Oh, Kepala yang suci kini terluka)
with grief and shame weigh down (dengan kesedihan dan rasa malu direndahkan)
Now scornfully surrounded  (Kini dengan cemooh dikelilingi)
with thorns thine only crown (dengan duri yang menjadi mahkota-Mu)

How pale thou art with anguish (Betapa pucat wajah-Mu dengan penderitaan)
with sore abuse and scorn (Dengan rasa sakit, siksaan, dan cemooh)
How does that visage anguish (Betapa wajah-Mu penuh kesedihan)
which once was bright as morn (Padahal sebelumnya bersinar seterang pagi hari)

What Thou, my Lord, has suffered (Apa yang Kau derita ya Allahku)
Was all for sinners gain (Semuanya adalah untuk orang-orang berdosa)
Mine, mine, was the transgression (Punyaku, punyakulah, semua pelanggaran)
but Thine the deadly pain (Tetapi mengapa Kau yang mengalami penderitaan mematikan itu)

Lo, here I fall, My Savior (Lihatlah di sini aku sujud ya Juru Selamatku)
‘Tis I deserve thy place (Akulah yang layak berada di tempat Kau disiksa)
Look on me with thy favor (Lihatlah aku dengan kasih-Mu)
Vouchsafe me to thy grace (Bersedialah memberikanku kasih karunia-Mu)

What language shall I borrow (Bahasa apakah yang harus aku pinjam)
To thank Thee, dearest friend (Untuk berterima kasih pada-Mu, ya Sahabatku)
For this Thy dying sorrow (Engkau menderita dan sekarat dalam kedukaan)
Thy pity without end?
(Engkau mengasihani dengan tiada berakhir)

O make me Thine forever (Oh, jadikanlah aku milik-Mu)
And should I fainting be (Dan aku akan bertekuk lutut menyerah)
Lord let me never, never (Allahku, jangan pernah biarkanku, jangan pernah)
Outlive my love to Thee (Meninggalkan kasihku pada-Mu)

Dan sambil aku memandang bulan yang sendirian di tengah gelapnya langit malam
Lagu ini kurenungkan sekali lagi
Dan suara dari hatiku berkata:
“Arnold, Tuhanmu di salib loch… Tuhanmu sampai mati di salib loch…
Renungkan itu baik-baik…
Tuhanmu rela mati dibunuh, disiksa tanpa kenal rasa kasihan…
Tapi mengapa kau masih mengasihani dirimu sendiri?”

Aku hanya bisa terdiam
Astaga, for God sake, apa yang sudah kulakukan?

Dia menjadi lemah supaya aku bisa kuat
Tetapi dengan kegalauan ini aku membiarkan diriku menjadi lemah

Dia diludahi, Dia ditampar, Dia dicambuk, Dia dihajar, Dia dibunuh
Dia tidak menyayangkan diri-Nya sendiri
Tetapi aku sempat-sempatnya mengasihani diriku sendiri yang tidak punya pacar

Dia memberikan nyawa-Nya untuk aku
Tetapi yang kuminta malahan “kapan aku bisa punya pacar?”
Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih

Dia melepaskan semua kehormatan-Nya di Golgota
Supaya aku beroleh kehormatan sebagai anak Allah
Tetapi dengan kegalauan ini, aku mencoreng citra seorang anak Allah
Itu bukanlah cara seorang terhormat mengisi waktu dalam hidupnya

Tidak, aku harus bangkit
Aku tidak ingin merendahkan arti pengorbanan dan kesakitan yang Dia alami
Aku harus bangkit dan melayani Dia
Aku harus memperlihatkan kepada dunia betapa Allah-ku terhormat

Aku tidak ingin lagi mengasihani diriku sendiri
Seolah-olah kasih yang Dia berikan tidak cukup bagiku

Aku sudah ditebus-Nya
Aku diselamatkan-Nya
Aku dibenarkan-Nya
Aku dikuduskan-Nya
Aku diberikan-Nya kehormatan sebagai anak Allah

Aku harus membawa kehormatan itu kemanapun aku pergi
Aku harus membawa kehormatan itu dalam setiap masalah yang kuhadapi
Aku tidak akan merendahkannya hanya karena perasaan galau atau karena takut tidak bisa mendapatkan wanita yang kucintai

Aku bergumul tentang teman hidup?
Benar, teman hidup adalah karunia yang indah yang disediakan oleh Allah
Mengapa aku harus malu mengakui diriku menggumulkan karunia yang memang Tuhan sediakan?

Aku tidak akan malu mengakui itu
Tetapi camkan satu hal
Aku akan hidup terhormat bahkan ketika aku sangat tergila-gila pada seseorang
Aku akan menggumulkannya dengan kehormatan
Kehormatan sebagai anak Allah

Dignity
And far beyond mere dignity… It’s a dignity of being son of God…
I’m absolutely sure that it’s the bullet point of  being a better man 🙂

Dan untukmu Saudaraku
Jangan pernah mau menanggalkan kehormatanmu sebagai anak Allah
Hanya karena rasa sayangmu kepada seorang gadis
Apalagi karena perasaan galau

Dan untukmu Saudariku
Jangan pernah mau menanggalkan kehormatanmu sebagai anak Allah
Hanya karena rasa sayangmu kepada seorang pria
Apalagi karena perasaan galau

Dan jangan pernah berharap seorang anak Allah untuk menjadi bodoh,
untuk merendahkan dan mempermalukan dirinya,
untuk hidup layaknya orang yang tidak terhormat,
hanya karena kau menginginkan bukti bahwa dia benar-benar sayang padamu

Ingat, kau adalah anak Allah,
Pertama… hiduplah dengan terhormat!
Kedua…
Kalau kau ragu dia adalah anak Allah, jangan biarkan hatimu terbuka bagi dia

Tapi kalau kau yakin dia adalah anak Allah, entah kau akan menerima atau menolaknya,
maka perlakukanlah dia layaknya anak Allah!

Salam ^___^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s