16. Jika Fokusnya Tepat

Ketika aku memiliki tujuan hidup, misalnya menjadi seorang dosen, untuk diriku sendiri
Maka sampai kapanpun aku tidak akan pernah merasa puas
Inilah kebenaran yang terlalu sering diabaikan oleh orang-orang:
Ketika diri kita sendiri yang menjadi fokusnya, maka kita tidak akan pernah puas
Kepuasan hanya akan ada ketika kita melakukan sesuatu untuk pribadi yang lain

Kurang lebih sama dengan itu
Ketika aku memiliki tujuan menjadi dosen dengan fokus utama untuk menolong orang lain,
maka akan tiba waktunya di mana orang yang butuh pertolonganku adalah orang yang nampaknya tidak layak ditolong
Jika demikian, apa yang akan terjadi padaku?

Jika tujuanku adalah untuk orang lain, mungkin aku bisa setia dan bertahan
Tetapi menjadikan orang lain sebagai fokus itu berarti:
Aku harus siap dikecewakan oleh orang-orang yang kutolong setiap hari

Seperti kata Band Dewa, manusia itu tempatnya salah
Manusia itu mengecewakan karena memang demikianlah mereka
Mungkin aku bisa bertahan tetapi hidupku akan penuh dengan kekecewaan
Apa indahnya hidup dengan tujuan hidup seperti itu?

Akan tetapi
Apabila tujuanku menjadi dosen adalah untuk memuliakan Allah
Maka aku tidak akan pernah kehilangan tujuan intiku
Tanah yang kupijak jelas dan tidak tergoyahkan
Karena aku tahu bahwa Dia-lah dasarku melakukan semua ini

Orang-orang yang akan kutolong mungkin akan mengecewakanku
Tetapi aku tak akan kehilangan sukacita karena sukacitaku ada dalam melayani tujuan Allah
Orang-orang yang akan kutolong mungkin akan menolakku
Tetapi itu tak akan menghancurkanku sebab prioritas rohaniku berada di urutan yang tepat

Lagipula
Jika benar kita rindu melakukan sesuatu yang baik demi kebaikan orang lain,
maka seharusnya niat kita adalah benar-benar memberikan yang terbaik, bukan?

Nah, jika kita menjadikan orang lain sebagai fokus dari tujuan hidup kita,
maka kecenderungan kita adalah memberikan sesuatu dengan standar “sepertinya segini sudah baik untuk mereka”
Dan kemungkinan besar itu bukanlah standar dari apa yang disebut TERBAIK

Hello, bukannya tadi kau bilang kau ingin memberikan yang terbaik?

Akan tetapi, ketika melayani Allah adalah tujuan utamanku
Maka kecenderunganku adalah memberikan sesuatu yang benar-benar terbaik dariku

Biar kuberikan satu contoh, aku ingin menjadi dosen, tepatnya di ITB. Anggaplah aku sudah mendapat gelar doktor tetapi somehow ada kendala dalam proses penerimaan dosen di ITB. Karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu, aku melamar ke kampus lain sebagai tenaga pengajar sementara sembari menunggu panggilan untukku dari ITB. Nah, kualitas mahasiswa di kampus yang baru ini nampaknya jauh di bawah ITB. Dan di sini intinya, apabila fokusku adalah untuk kebaikan mahasiswa di kampus itu, aku akan cenderung berpikir, “standar anak-anak ini relatif rendah, maka aku juga akan jauh menurunkan standar kualitasku dalam mendidik, seginipun sudah baik kok buat mereka.”

Sudah menangkap maksudku bukan?
Aku menurunkan standarku
Aku tidak memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan
Pikirku aku ingin mengajar demi kebaikan mereka,
tetapi tindakanku mencerminkan bahwa aku tidak mengerti arti “demi kebaikan mereka”

Hal yang berbeda akan terjadi jika fokusku adalah untuk kemuliaan Allah
Aku akan senantiasa terpacu untuk memberikan yang terbaik kepada mereka
Aku akan melampaui batas-batas diriku
Aku akan terus memutar otak bagaimana caranya supaya walaupun gap antara aku dengan anak-anak di kampus ini jauh, tetapi mereka tetap bisa mendapatkan yang terbaik dariku

Aku akan hidup dalam kesadaran penuh bahwa Allah sedang mengawasiku
Dan Dia siap setiap saat untuk mengingatkanku:
“Son, you promised me remember? Give your second best never!!!”

Tahun ini aku bekerja di perusahaan kecil, dua tahun lagi mungkin aku sudah pindah ke perusahaan besar
Bos yang kulayani, ada yang mengayomi, ada yang selalu membentak
Mahasiswa yang kudidik, angkatan ini sopan, angkatan tahun depan bikin geleng-geleng kepala
Pasien yang kutangani, ada yang mampu membayar, ada yang tidak mampu membayar
Jemaat yang mendengar khotbahku, tahun ini mungkin gereja penuh, tapi bisa jadi tahun depan gereja hanya diisi 5 orang
Orang-orang yang aku tolong, ada yang pantas dan terkadang ada yang tidak pantas ditolong
Mereka semua berubah-ubah

Dan jika mereka adalah fokus tujuan hidupku
Maka apa yang kuanggap “terbaik” juga akan berubah-ubah sesuai standar dan kondisi penerimanya
Aku akan sering menaikkan dan menurunkan standarku
Yang mana itu berarti aku tidak memberikan yang terbaik demi orang lain seperti yang awalnya menjadi sumpahku

Tetapi apabila melayani Allah adalah tujuan utamaku
Kualitas pelayananku tidak akan berubah
Standar performaku tidak akan berubah
Karena Allah tidak pernah berubah

Standarku tentang apa yang “terbaik” untuk orang lain, tidak akan kudasarkan pada kondisi dari orang lain
Tetapi aku akan menggantungkan standar terbaik di hadapan Allah
Sehingga setiap saat tubuh dan jiwaku akan terlatih untuk mengejar apa yang terbaik dan melakukan yang terbaik

Kurasa itulah yang dibutuhkan untuk memiliki mental juara, mental terbaik
Pola pikir itulah membawaku terus naik level menuju kemampuanku yang sebenarnya
Pada akhirnya, Tuhan senang, mereka senang, aku senang, semua senang bukan *___*

Tetapi carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya
Itulah kunci untuk memberikan yang terbaik untuk orang lain
Itulah syarat utama untuk membangun orang lain
Itulah dasar utama dari sebuah tujuan demi kebaikan orang lain

Aku harap kau belum lupa bahwa artikel ini bukanlah tentang tujuan hidup saja melainkan juga tentang pengenalan diri
Oleh sebab itu, aku akan mengulangnya lagi:

Tetapi carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya
Itulah kunci untuk memampukan kita melampaui limit kita setiap hari
Itulah yang diperlukan agar setiap saat kita bisa naik level
Itulah kunci untuk MENGENAL DIRI KITA

Menolong diriku atau menolong orang lain bukanlah tujuan utama dalam hidup ini
Memuliakan Allah, itulah tujuan utama dalam hidup

Give your second best never!
~ Charles Spurgeon

#Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s