Abraham, Ishak, dan Hari Natal

510f84a9a952bbaby-jesus-mary-joseph-by-dewey1

Apa makna Natal yang sebenarnya?
Aku yakin tiap-tiap orang memiliki pemaknaannya masing-masing akan hari ini.
Akan tetapi, bagaimanapun kita memaknainya, definisi Natal itu tidak berubah.

Natal adalah peristiwa indah ketika Allah Bapa mengutus Anak-Nya untuk turun dari sorga dan lahir sebagai manusia yang lemah, yang miskin, dan yang terbatas. Untuk apakah Sang Anak Allah datang ke dunia? Firman Tuhan berkata:

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus,
karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
(Matius 1:21)

Dari definisi ini, kita melayangkan pandang kita ke peristiwa yang lebih lampau dari itu. Yakni ketika Allah meminta Abraham untuk mengorbankan anaknya yang terkasih, Ishak.

Ini adalah permintaan yang luar biasa berat untuk ditaati. Mungkin akan jauh lebih mudah bagi Abraham kalau Allah memintanya mengorbankan dirinya sendiri. Tetapi kali ini, Allah bukan meminta itu, melainkan Allah meminta Abraham menyembelih anaknya sendiri. Dapatkah kau membayangkan perasaan macam apa yang Abraham rasakan? Ishak adalah harta yang paling dikasihi oleh Abraham. Dan Allah meminta Abraham untuk melepaskannya, bahkan mengorbankannya.

Tetapi firman Tuhan memang tidak sembarangan menyebut Abraham sebagai Bapa Orang Beriman. Abraham rela mengorbankan anaknya yang “tunggal”Allah melihat hal itu dan menghentikan Abraham yang hampir menyembelih anaknya. Allah kemudian menyediakan seekor anak domba sebagai ganti Ishak untuk dipersembahkan di atas mezbah. Abraham tidak jadi menyerahkan anaknya dan Allah memuji iman dan ketaatan Abraham.

Itulah Abraham.
Bapa Orang Beriman memang luar biasa
Tetapi jangan lupa
Pusat dari iman itu, yakni Allah sendiri, jauh lebih luar biasa dari Abraham

Allah bukan sembarangan menantang Abraham untuk mengorbankan anaknya. Allah tidak seenaknya meminta sesuatu dari hamba-Nya. Allah bukanlah Allah yang otoriter yang hanya bisa meminta tetapi tak mampu menjadi teladan, sekalipun kalau Ia berhak melakukan semua itu jika Ia menghendakinya. Allah meminta Abraham untuk mengorbankan Ishak, anaknya yang terkasih karena pada suatu saat yang pasti:
Ia akan melepaskan Anak-Nya, yakni Tuhan kita Yesus Kristus, untuk mati di kayu salib.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Alkitab memberikan kesaksian bahwa Ishak tidak jadi mati. Ishak tidak jadi dikorbankan dan sebagai gantinya, Allah menyediakan seekor domba untuk disembelih dan dipersembahkan di hadapan-Nya. Itu adalah peristiwa yang luar biasa.
Tetapi pengorbanan Allah, jauh lebih indah dari itu.
Tidak seperti Ishak, Yesus benar-benar mati.
Tidak seperti Ishak, Yesus sungguh-sungguh mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib.

Tetapi dunia menolak untuk percaya kepada Yesus.
“Mengapa Allah mati?”
“Allah tidak mungkin mempermalukan diri-Nya dengan menjadi manusia dan mati!”
“Kalau Dia mati berarti Dia bukan Allah.”
“Allah tidak boleh mati.”

Itulah yang dunia katakan di dalam kebodohan mereka. Mereka tidak mengenal siapa Allah namun mereka merasa berhak mengatur Allah harus bertindak seperti apa. Mereka tidak pernah mengerti siapa Allah namun mereka menciptakan allah mereka sendiri dan mengatakan “yang namanya Allah ya tidak boleh mati.”

Wajarlah dunia memiliki pikiran seperti itu. Mengapa? Karena dunia ini berpikir bahwa kematian adalah akhir dari segalanyaTetapi Allah tidak berpikir sebagaimana manusia berpikir. Bagi Allah, kematian tidak pernah menjadi akhir.

Bagi semua manusia, bahkan nabi dan raja sekalipun, kematian adalah akhir. Kematian mengakhiri karya-karyanya di bumi ini. Tetapi berbeda dengan Yesus Kristus. Bagi Yesus, kematian justru adalah alat untuk memuliakan Dia.

Mengapa Yesus harus mati?
Karena tidak ada kebangkitan tanpa kematian.

IMG_367746192410223

Yesus harus mati supaya Dia bisa mendemonstrasikan kebangkitan-Nya dari alam maut. Dan dengan jalan itulah Dia membuktikan bahwa Dia lebih besar dari kematian. Dengan jalan itu Dia menyatakan bahwa Dia bukan sekadar manusia, nabi, raja, atau pendiri-pendiri agama-agama dunia. Dengan jalan kematian itulah, Dia menyatakan Diri-Nya sebagai Allah.

Wahai dunia!
Allah mau turun ke dunia, menderita sengsara sebagai manusia karena Ia ingin merasakan kepedihan yang kau rasakan. Ia ingin menjadi teladan bagi kita. Dan Ia sungguh-sungguh menjadi teladan yang sejati karena Dia, yang adalah Tuhan, mau turun langsung ke bumi untuk menunjukkan kasih-Nya kepada umat ciptaan-Nya.

Dan lebih dari itu
Dia rela mati di kayu salib untuk menanggung semua dosa kita.
Dia menerima hukuman atas dosa di dalam tubuh-Nya sendiri.
Dia menderita aniaya luar biasa.
Dia tidak lagi dianggap sebagai manusia.
Dia diperlakukan lebih buruk daripada hewan.
Dia diludahi, dipukul, dihajar, dicambuk, dipaku, ditusuk.

Mengapa?
Supaya setiap orang yang percaya pada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

Dia mau menanggung semua itu, supaya kita beroleh KEPASTIAN
Kita, yang percaya kepada-Nya, beroleh kepastian untuk hidup kekal bersama-Nya di sorga

Mengapa kita beroleh kepastian? Karena semua hukuman SUDAH LUNAS Dia bayar. Dan pengorbanan-Nya, jauh melebihi semua ibadah yang dilakukan semua manusia dikumpul menjadi satu. Itulah kepastian, yakni ketika Allah yang membayarnya dengan Darah-Nya sendiri.

Tetapi Dia tidak berakhir dengan kematian. Dia bangkit. Dia mengalahkan kematian, tidak seperti siapapun manusia yang pernah, yang ada, dan yang akan ada. Dia naik ke sorga, menerima kembali tahta yang sempat ditinggalkan-Nya. Dan Dia menanti sambil sabar mengajak kita sekalian, untuk kembali kepada-Nya.

Allah sudah menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa kepada kita.
Mengapa kita menolak untuk percaya?
Mengapa kita menolak untuk percaya?
Apakah kita tidak percaya bahwa Allah bisa mencintai dengan seindah itu?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
10390902_10153074242032262_3930575122595612294_n

Itulah makna Natal bagiku.
Natal bukanlah tentang Santa Claus
Natal bukanlah tentang pohon, kado, atau mistletoe
Natal bukanlah hanya tentang kedamaian

Lebih dari itu
Natal adalah Allah turun mencari manusia jauh sebelum manusia mau mencari Allah
Natal adalah Allah berkorban bagi manusia jauh sebelum manusia mau berkorban bagi Allah

Selamat Natal bagi kita semua.
Semoga pesan Natal yang terutama benar-benar terpatri di dalam setiap sanubari kita.
10516699_897438860270671_2144289803702507070_n

Amin
Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s