17. Tu-ju-an bukan Tu-an

a

Dengan memiliki tujuan hidup untuk memuliakan Allah, I know who I am in this world. Aku bukan hamba dari tujuanku sendiri. Tujuanku bukanlah tuanku, Allah-lah Tuan yang harus kulayani. Aku adalah hamba Allah.

Identitasku menjadi semakin jelas  –> aku adalah hamba Allah
Tujuan hidupku menjadi jelas         –> melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah
Misiku menjadi jelas
–> menjadi dokter, dosen, pendeta, atau apapun sehingga kredit dan penghormatan akan diberikan kepada Allah

Aku tahu siapa diriku dan apa yang harus kulakukan…

Mungkin saat ini kau sedang sangat yakin bahwa Tuhan memanggilmu untuk sesuatu. Mungkin kau yakin bahwa “suara Tuhan” memastikanmu untuk menjadi dosen misalnya. Baiklah, aku tidak ingin mendebat keyakinanmu. Tetapi aku ingin mengingatkan kita semua:
“Mungkin Tuhan benar-benar memanggilmu menjadi dosen dan mungkin suatu saat nanti kau benar-benar menjadi dosen. Tetapi, bukankah Tuhan belum mengatakan bahwa engkau akan mengakhiri karirmu sebagai dosen? Bisa saja, kalau Tuhan mau, Ia bisa memintamu berhenti sebagai dosen dan beralih menjadi misionaris untuk diutus ke Afrika.”

Bagaimana? Tentu saja Tuhan berhak melakukan itu. Oleh sebab itu, hubungan yang akrab dan pengenalan akan Allah jauh lebih penting dibanding apa yang kita yakini sebagai tujuan hidup kita.

Dalam sejarah manusia, Tuhan jarang sekali membukakan rancangan-Nya secara gamblang. Tuhan memberikan petunjuk satu langkah demi satu langkah. Tuhan harus melakukan itu karena Tuhan tahu kecenderungan hati manusia yang tidak suka diatur. Jika Tuhan menunjukkan semua rencana-Nya serta jalan-jalan yang harus ditapaki oleh masing-masing orang, maka kebutuhan orang itu untuk “terus menerus berkomunikasi” dengan Allah menjadi semakin kecil.

Alhasil, orang itu akan menjadi terlalu fokus dengan tujuan hidupnya dan malah mengacuhkan Sang Pemberi Tujuan itu. Orang itu berjalan jauh, berjalan terlalu jauh, berjalan keterusan sambil mengira bahwa dia berada di jalan yang tepat padahal Tuhan baru membukakan segelintir saja dari rancangan-Nya kepada orang itu. Orang itu menjadi tersesat dan menganggap Allah enggan memberi petunjuk padahal orang itulah yang bersalah karena tidak pernah lagi ingin bertanya pada-Nya.

Oleh sebab itu, milikilah suatu cita-cita. Tetapi, pastikan cita-cita itu tetap fleksibel karena Tuhan berhak untuk menginterupsinya. Milikilah keinginan untuk menjadi dokter, misalnya. Tetapi, berjaga-jagalah dan jadilah siap jika Tuhan memotong di tengah jalan dan memintamu menjadi pendeta.

Sekali lagi
Kita adalah hamba Allah.
Cinta kepada Allah harus berada di atas cinta kepada tujuan hidup.

Hosea adalah nabi Allah. Aku rasa menikahi seorang pelacur bahkan tidak pernah terlintas di benaknya. Tetapi sesuatu terjadi, Tuhan berkata padanya:
“Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal,
karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.”
~ Hosea 1 : 2

Hosea menikahi seorang sundal bukan untuk mempertobatkan wanita itu. Wanita itu dinikahinya memang karena memang ia ditugaskan untuk menikahi seorang pelacur. Lebih dari itu, anak-anak Hosea memang “harus” menjadi anak-anak sundal. Mustahil Hosea merencanakan semua ini pada mulanya. Tetapi itulah tujuan Allah dalam hidupnya. Dan Hosea taat menjalankan perintah itu karena dia tahu satu hal:
Dia adalah hamba Allah dan bukan hamba tujuan hidupnya.

Maria adalah gadis muda yang saleh. Aku cukup yakin dia sudah punya tujuan dan rencana hidup yang jelas bersama Yusuf, tunangannya. Tetapi, ayolah, ini adalah hari Natal, kau pasti belum lupa, Tuhan TIBA-TIBA datang dalam hidupnya
dan membuat rencana hidup Maria berubah habis-habisan. Dan apa kata Maria mengenai itu?
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
~ Lukas 1 : 38

William Wilberforce awalnya adalah pengusaha sekaligus politikus yang kaya raya. Dia adalah salah satu orang yang getol memperdagangkan manusia sebagai budak. Sesuatu terjadi dalam kehidupannya, Tuhan melawatnya dan dia bertobat. Tidak hanya itu, dia merasa cukup yakin bahwa dia terpanggil untuk menjadi pendeta. Astaga, hal ini saja sudah terdengar to good to be true. Tetapi, seandainya dia tetap bersikeras untuk menjadi pendeta, mungkin saja perdagangan manusia masih ada sampai sekarang. Seandainya dia tidak berpikir “aku ini hamba Allah, bukan hamba tujuan hidupku”, mungkin aku dan kamu adalah seorang budak sekarang ini.

Benar, seorang pendeta menasehati dia untuk tetap berada di jalur politik. Dan demikianlah akhirnya, melalui jalur inilah dia bisa melakukan sesuatu yang mengubahkan. Bukan saja mengubah hidupnya tetapi juga mengubah seluruh dunia. Berkat orang ini, perdagangan manusia dihapuskan.

Menemukan tujuan hidup, merumuskan rencana hidup, adalah sesuatu yang baik.
Tetapi yang melebihi semua itu adalah memiliki cinta sejati kepada Allah.
Dan bukti dari cinta sejati adalah menjadi vulnerable (rentan) di hadapan Dia yang kita cintai.

Cinta eros yang sejati dikukuhkan dalam hubungan badan suami istri. Dan hubungan suami istri, di mana kedua insan telanjang di hadapan satu sama lain, adalah momen di mana masing-masing pihak berada pada keadaan yang paling vulnerable di hadapan pihak yang lain. Hubungan ini menggambarkan apa yang seharusnya terjadi dalam hidup yang penuh oleh cinta sejati kepada Allah. Kita harus hidup telanjang, benar-benar terbuka, dan vulnerable di hadapan Allah. Dan wujud dari kerentanan itu adalah mengizinkan Tuhan untuk mengintervensi hidup kita, termasuk dalam hal menetapkan apa hal yang akan menjadi tujuan hidup kita. Itulah yang membuktikan bahwa cinta yang kita punya untuk Allah adalah cinta sejati.

To love is to be vulnerable
~ C.S. Lewis

Jadi, bagaimana kita akan menarik benang merah dari semua ini?
Dulu kita belajar bahwa cinta sejati mampu menumbangkan “bla bla bla kesukaanku
Kita juga telah belajar bahwa cinta sejati mengalahkan “sifatku memang kayak gini
Dan kini kita belajar bahwa cinta sejati harus berada di atas “aku tahu ini tujuan hidupku

Oleh sebab itu, marilah kita mulai menarik kesimpulan dari semua ini

#Bersambung

Advertisements