Are you Watching Closely?

State of Mind : Are you Watching Closely?

#Gambar ini diambil pada tanggal 27 Desember 2013 di suatu kebun dekat rumahku

Aku tinggal di daerah yang mungkin bisa dikategorikan sebagai pedesaan. Berbeda sekali dengan tempat tinggalku di Bandung atau Jakarta, gereja hanya berjarak mungkin 10 meter dari rumahku. Selain itu, aku bisa menemukan sungai di belakang rumah, sawah, dan kebun yang ditanami dengan jagung, singkong, sawit, kelapa, pisang, cokelat, dan lain sebagainya. Hawa di daerah ini? Hehehehe, dingin Bung. ūüôā

Setiap pagi dalam liburanku kali ini, aku berjalan-jalan ke sekitar rumah. Selain untuk olahraga dan menikmati udara segar yang sudah jarang kuhirup, jalan-jalan pagi tentu saja bertujuan untuk memburu sesuatu yang kusebut, “harta karun yang tersembunyi”. Benar, aku pergi untuk berburu momen.

Dan puji Tuhan, I got one this morning

Aku masuk ke daerah kebun
Aku mengambil beberapa gambar di sana
Kemudian muncullah dua ekor kupu-kupu

Reaksi pertamaku saat melihat kupu-kupu adalah reaksi yang mungkin akan dilakukan oleh sebagian besar orang di dunia, mengabaikannya. Tetapi kemudian aku berhenti dan memutar arah karena aku berpikir:
“Coba kau ingat, kapan terakhir kali kau melihat kupu-kupu?”

Astaga, setelah kungat-ingat lagi, ternyata aku sudah sangat lama tidak melihat kupu-kupu. Dan melihat gencarnya pembangunan, terutama di sektor perumahan seperti saat ini, bukan tidak mungkin aku tak akan pernah lagi melihat kupu-kupu barang seekor pun.

Akhirnya, aku memutuskan untuk memotret kupu-kupu itu. Dan setelah aku melihat lebih dekat, akhirnya aku sadar bahwa kupu-kupu memiliki sayap yang indah. Selama ini aku mengira kupu-kupu ya hanya sebegitu doang. Paling-paling sayapnya hanya satu warna saja, tidak istimewa. Tetapi pengalaman ini memberiku pelajaran:

“Seandainya saja aku mau melihat lebih dekat,
pasti aku bisa menemukan keindahan pada kupu-kupu
yang selama ini tak terlihat olehku.”

Keindahan itu ada di sana
Keindahan itu selalu ada di sana
Keindahan itu tidak bersembunyi, dia hanya tersembunyi
Tersembunyi akibat keenggananku untuk memandang lebih dekat dan mengenal lebih dalam

Sama halnya dalam hubungan kita dengan sesama
Terkadang sangat mudah bagi kita untuk tidak menyukai orang lain
Sayangnya, ketika kita tidak menyukai orang lain, respon pertama kita adalah menjauh darinya

Dan ketika kita mulai menjauh, sebenarnya kita sedang merugikan diri sendiri karena setidaknya dua hal. Hal pertama tentu saja adalah kita gagal mengasihi. Tuhan Yesus berkata bahwa jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita dan berbuat baik hanya kepada mereka yang berbuat baik pada kita, maka sebenarnya kita tidak ada bedanya dari dunia ini. Kekuatan untuk mengasihi memang tidak datang dengan sendirinya, itu datangnya dari anugerah Allah. Tetapi bukan berarti praktek mengasihi adalah sesuatu yang otomatis terjadi. Tidak. Mengasihi itu tidak otomatis, tidak spontan. Mengasihi itu dilatih, diusahakan, diupayakan, dan disengaja. Marilah kita, terutama di tahun baru yang akan segera datang, belajar lebih lagi untuk bisa mengasihi.

Hal kedua adalah kita gagal mendapatkan pelajaran yang berharga dan gagal menangkap keindahan dari orang tersebut. Orang bijak tahu bahwa akan selalu ada pesan yang bisa dia pelajari dari orang lain. Dan ketika kita memutuskan untuk menjauhi seseorang hanya karena kita tidak menyukainya, maka kita tidak melakukan sesuatu yang orang bijak akan lakukan.

Praduga tak bersalah adalah kebiasaan baik.¬†Praduga tak bersalah membuat kita lebih tenang karena semakin sedikit hal negatif yang mengeruhkan pikiran kita.¬†Praduga tak bersalah bisa menjadi satu-satunya kunci untuk mempertahankan suatu hubungan. Praduga tak bersalah sesungguhnya adalah praktek kasih yang Paulus maksud ketika dia berkata, “kasih itu percaya akan segala sesuatu.”

Tetapi sayangnya, kebiasaan itu semakin lama semakin pudar di masa-masa ini. Marilah kita memulainya dari diri kita masing-masing sehingga kita memiliki praduga tak bersalah. Sambil tentu saja meminta hikmat dari Allah untuk bisa melihat hal baik di dalam segala sesuatu.

^____^

Wooww, ini adalah pengalaman yang berharga. Aku tidak saja tersadarkan akan keindahan kupu-kupu. Aku bahkan bisa mengabadikan momen yang mungkin tak akan pernah menghampiriku lagi ini. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Para penjelajah nusantara dan duniapun mungkin akan lalai akan harta karun yang satu ini. Dan aku bersyukur, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Bagaimana denganmu?
Jangan sia-siakan kesempatan untuk menikmati keindahan yang mungkin hanya datang sekali dalam hidupmu!

I don’t like that man. I must get to know him better.
# Abraham Lincoln

Jalan-jalan lagi yuxzzz

Happiness is a state of mind

Advertisements

One thought on “Are you Watching Closely?

  1. Terima kasih untuk sharingnya…saya membaca ini kebetulan saja di saat yang sangat tepat dan tulisan anda sangat menyentuh hati. Saya juga berpikir jika saya otomatis menjauhi orang yang saya tidak sukai dengan begitu saya membuat diri saya sendiri jatuh pada “self-righteousness” Thank you for your insightful gift!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s