Resolusi 212

Resolusi 212

Sebagian, sebenarnya sebagian besar dari diriku, berharap gambar ini hanya hoax
Sungguh aku tidak ingin percaya bahwa kejadian ini benar-benar terjadi
Gambar ini, at some point, membuatku merasa gagal sebagai manusia
“Ya ampun, kok bisa yah.”

Sampai saat ini, aku tetap berharap ini adalah gambar hoax. Akan tetapi, hoax atau tidak, gambar ini menjadi wake up call yang terlanjur membangunkanku dan memaksaku memutuskan hal berikutnya untuk menjadi resolusi tahun depan. Aku tahu, resolusi yang satu ini akan susah dan tinggi kemungkinan untuk tidak melakukannya secara disiplin.

Dilatar belakangi oleh kejadian minggu lalu saat aku dan kakak sedang berada di dalam angkot untuk menuju rumah. Di angkot itu, ada seorang bapak yang merokok. Ya, biasalah. Melihat hal itu, hatiku sudah tidak tenang dan gemas. Sayangnya, aku terlalu lemah untuk mengonversi perasaan itu menjadi sebuah aksi menegur. Aku menyerah. Sampai akhirnya, kakakku sekali lagi membuatku bangga memiliki kakak seperti dia. Benar, kakak menegur orang itu. Astaga, kakak yang adalah perempuan saja berani menegur orang itu sementara aku hanya duduk di pojok sambil menyaksikan aksi heroik kakakku. Gagal to the max.

Peristiwa di angkot itu terus membekas hingga saat ini
Akan tetapi, efeknya dalam hatiku kian lama kian redup
Aku butuh alarm tambahan untuk benar-benar menyulut “api” di dalam hatiku

Hingga akhirnya, gambar ini sampai di depan batang hidungku
Api yang hampir redup itu kemudian seperti disiram bensin
Apa itu kembali membara di hatiku

Sudah cukup, gambar ini dan peristiwa di angkot itu saja sudah cukup untuk membuatku terbangun
Aku tidak boleh membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi di hadapanku tanpa aku berbuat apa-apa
Kini aku tahu apa yang harus aku lakukan
“Orang-orang macam ini ga boleh dibiarkan enak-enakan sementara orang lain tersiksa.”

Aku harus menegur
Aku harus berani menegur
Mungkin aku akan dibenci dan bukan tidak mungkin aku akan disakiti
Tapi aku rasa itu layak untuk sesuatu yang disebut “membela kebenaran”

Percuma aku menikmati status sosial dan akademik seperti sekarang ini,
Percuma aku mengalami begitu banyak pengalaman yang membangun,
Percuma aku dibina di lingkungan dan bersama rekan-rekan yang luar biasa,
jika aku terus menerus berdiam diri melihat kejadian semacam ini

Jika terhadap “kejahatan kecil” seperti ini saja aku diam, bagaimana dengan “kejahatan besar”?

Percuma jadi “orang benar” kalau tiap kali bertemu “orang salah” selalu diam
Tugasnya “orang benar” ya menyatakan kebenaran dan meluruskan apa yang salah, bukankah begitu?

Tentu saja ini tidak boleh berakhir hanya sebagai wacana atau sebagai sesuatu yang ditulis di blog
Aku harus berani menegur
Aku tahu ini akan sulit dan sensitif
Tapi… ya tetapi…
Tetapi aku bisa membayangkan what kind of amazing feeling yang akan aku rasakan tiap kali aku berhasil melakukannya
And i’m sure it’s totally worth it

Okelah, jadi kesimpulan untuk semua ini adalah:
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing
~ Edmun Burke

Ini resolusiku
Apa resolusimu?

Advertisements

2 thoughts on “Resolusi 212

  1. Wah ada di blogmu ternyata foto ini, haha…
    Saya ingat ketika didalam angkot ada pria merokok, saya masuk, dan saya perhatikan ada pria ada wanita, dan tidak ada seorangpun menegur, walau kelihatan yang perempuan menunjukkan wajah cemberut terganggu asap rokok. Dengan senyuman saya menegur si Pria tidak tahu diri tersebut, “Pak, puntennya, tiasa dipareman roko na, heungap Pak. Hatur nuhun Pak.” (Permisi Pak, bisa dimatikan rokoknya, pengap, makasih Pak). Dan dengan terkejut si Bapak langsung mematikan rokoknya, walaupun tidak mengucapkan kata meminta maaf, karena sebenarnya menurut saya dia tahu bahwa asap rokoknya membuat mual penumpang angkot. Saya tetap dengan wajah senormal mungkin menatap jalan, walaupun ujung mata melihat bahwa penumpang-penumpang lain menatap wajah saya dengan ekspresi keheranan. Kalo saya mau keras, bisa saya foto si Bapak yang merokok tersebut, dan menuduhnya dengan pasal sanksi bagi yang merokok didalam angkutan umum, bis umum dengan denda rupiah yang lumayan mencekik lehernya.
    Bukan satu dua kali saya menegur orang didalam kendaraan umum, biasanya mereka menurut, walau dengan ekspresi yang berbeda-beda. Tetap konsisten, jangan pernah terintimidasi oleh perasaan sendiri. “Silahkan merokok, asal asapnya ditelan juga jangan dikeluarkan buat orang lain, Mau?” :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s