18. Penutup

This is who I am : Penutup

Aku telah disalibkan bersama Kristus; namun aku hidup,
tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,
melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
(Galatia 2 : 20)

Kini kita telah sampai di bagian akhir dari perjalanan singkat kita. Mungkin apa yang kita pelajari bersama belum sepenuhnya menjawab semua pertanyaan tentang siapa manusia dan untuk apa manusia ada. Aku rasa memang demikianlah sejarah manusia bekerja, manusia akan selalu menyisakan hal-hal yang misterius. Aku sendiri belum merasa menemukan atau memiliki semua jawabannya, tetapi aku bersyukur telah mengenal diriku jauh lebih dalam dengan menyusuri jalan-jalan setapak seperti yang aku uraikan dalam halaman-halaman ini.

Siapakah aku sebenarnya?
Untuk apa aku ada di dunia ini?
Pada akhirnya, kau harus menemukan jawaban itu sendiri

Aku tidak tahu jawaban atas pertanyaanmu
Tetapi aku tahu beberapa hal
Kau bukanlah budak dari apa yang kau sukai dalam hidup
Kau bukanlah seonggok daging dengan sepaket sifat-sifat yang kau miliki sejak kecil
Kau bukanlah alat dari tujuan hidupmu

Begitu banyak manusia di dunia ini hidup dengan cara yang tidak seharusnya mereka hidupi
Mereka salah mengenal diri mereka
Mereka memilih identitas yang salah untuk dikejar
Mereka ingin dikenal sebagai sosok yang pada akhirnya sia-sia

Mereka mengenal diri mereka sebagai “penggemar berat ini”. Mereka membatasi pengenalan dirinya hanya sejauh “orang-orang yang memang sifatnya begini”. Mereka merasa puas memperkenalkan diri kepada dunia sebagai “orang dengan cita-cita ini atau orang yang bekerja sebagai itu”. Mereka mengatakan, “this is who I am” sambil merasa dirinya begitu hebat ketika mengatakan itu padahal sebenarnya mereka sedang merendahkan nilai dari diri mereka sendiri.

Tidak
Siapa kita sebenarnya, jauh melampaui semua itu
You are an ambassadors for Christ (2 Korintus 5 : 20)
You are a temple of God (1 Korintus 3 : 16)
You are the salt of the earth (Matius 5 : 13)

Dan seperti orang gila aku ingin berteriak:
I am the light of the world

Dan kau juga
Kau, iya kau, kau adalah terang dunia

“Lelaki idaman semua wanita, bisa ini itu”
“Perpustakaan berjalan”
“Wanita cantik sangat”
“Batak tulen”
“Aktivis mahasiswa”
“Orang alim”

“Alkitab berjalan”
Atau identitas dan embel-embel lain
Itu semua tidak berarti dibanding identitas sebagai terang dunia
Tetapi mengapa masih ada yang mau menukarkannya hanya untuk identitas yang fana?

Dalam kitab Kejadian, Musa mencatat bahwa Allah menciptakan manusia sebagai “gambar dan rupa Allah”. Musa menggunakan istilah “gambar dan rupa” dipengaruhi oleh latar belakang zamannya saat itu. Musa dibesarkan di Mesir di mana dia bisa melihat banyak sekali patung. Pada zaman Musa, seorang raja memerintah untuk wilayah yang sangat luas. Berbeda dengan saat ini, saat itu tidak ada teknologi komunikasi dan informasi. Bagaimana seorang raja bisa tetap “hadir” dan tidak kehilangan respect dari rakyatnya yang ada di wilayah yang sangat jauh sementara raja itu tidak bisa selalu hadir secara badani di sana? Jawabannya adalah dengan mendirikan patung-patung tersebut.

Pada zaman itu, patung bukan berfungsi hanya sebagai hiasan semata. Lebih dari itu, patung adalah lambang kehadiran dari raja itu sendiri. Raja “memberikan otoritas” pada gambar dan rupa mereka itu. Ketika rakyat melihat semua patung itu, mereka memandang raja mereka. Mereka menjadi tahu siapa orang yang berkuasa di daerah itu dan mereka tahu kepada siapa mereka harus setia.

Nah, lihatkan apa yang bisa diperbuat oleh patung-patung itu? Walaupun hanya benda mati, patung-patung itu dengan baik mewakili sosok sang raja. Keberadaan patung itu memberikan dampak kepada orang-orang. Melihat patung sama dengan melihat sang raja sendiri. Lalu, jika benda mati saja bisa melakukan itu, kita sebagai manusia, dan lebih lagi, sebagai orang Kristen harus bisa melakukan yang jauh lebih besar dari semua itu. Keberadaan kita sebagai wakil Allah harus dirasakan oleh orang-orang. Apakah ketika orang-orang melihat kita, mereka melihat Allah? Aku bergumul berat untuk pertanyaan yang satu itu.

Sebagai penutup
Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah
Allah menciptakan kita untuk menjadi wakil-Nya di dunia yang sudah kacau balau ini
Allah menciptakan kita untuk menerangi dunia yang kian menggelap ini
Jangan berusaha menjadi sosok yang lain selain “terang dunia”

Orang-orang yang tersesat harus tahu bahwa hadirat Allah tersedia juga buat mereka
Itulah sebabnya Allah menempatkan kita di mana kita berada saat ini
Itulah alasan mengapa Allah mengizinkan kita masih bisa bernafas
Kita harus hadir sebagai Kristus di hadapan semua orang

Susah bukan?
Oh tentu saja susahnya minta ampun
Aku sesungguhnya tak layak mengatakan ini seolah-olah aku paling tahu
Tetapi memang demikian seharusnya
Kita harus hadir sebagai Kristus di hadapan semua orang

Dan karena itu susah, mengapa tidak segera saja kita berusaha untuk mengejar itu?
Mengapa kita masih memegang erat identitas yang kita pegang saat ini?
Lepaskan itu sekarang!
Dan mulailah mengejar apa yang sudah kita lupakan selama ini!
Mulailah kita “mengejar matahari”
Mulailah kita meraih kembali identitas kita yang terhilang
Wakil Allah
Terang Dunia

Tuhan Yesus memberkatimu

*Pesan Penulis:
Ini adalah akhir dari 18 judul “Gambar Diri”
Jika Tuhan menghendaki, semoga kita bisa belajar kembali mengenai Gambar Diri ini
Semoga semua ini bisa menjadi berkat bagi kita semua
Dan semoga Roh Kudus yang selalu menyertai hidup kita
Semoga nilai diri kita hanya kita gantungkan pada penilaian-Nya
Bukan pada penilaian kita sendiri
Bukan juga pada penilaian orang lain

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s