What Makes You A Coward

Bryce  : Juli, can I talk to you? It was wrong, what Garrett said. I know it.
Juli     : Did you know it was wrong when he said it?
Bryce  : Yeah. I wanted to punch him. But we were in the library.
Juli     : So instead you just agreed with him and laughed. (penekanan kutambahkan)
Bryce  : Yeah
Juli     : Then that makes you a coward.

Dikutip dari: Flipped
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Membicarakan orang lain di belakang, adalah satu hal yang sangat sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kita bekerja. Dalam pekerjaan, kita bekerja di dalam tim yang terdiri dari lebih dari satu orang. Orang-orang di dalam tim itu tentu saja tidak berdiri sendiri, mereka berinteraksi dengan pihak lain.

Dan seperti yang sudah kita pahami selama ini, pikiran orang-orang sungguh luar biasa beraneka ragam. Tidak jarang kita bertemu, bahkan bekerjasama, dengan seseorang yang betul-betul berbeda dalam hal pemikiran dengan kita. Apa yang membuat kita sangat panik, mungkin menjadi satu hal yang sangat biasa bagi dia dan sebaliknya, apa yang begitu membuat dia marah, bisa jadi tidak berpengaruh apa-apa di hati kita.

Dan hal itu yang seringkali kutemui dalam pekerjaanku. Akan selalu ada orang-orang yang tidak terima, bahkan cenderung tidak menyukai orang yang lain. Dan jika kau berada di dekat orang yang seperti ini, hampir dipastikan kau akan, dan mungkin mau tidak mau harus mendengarkan semua keluh kesahnya.

“Kenapa sih dia begini.”
“Kok bisa sih orang kayak gitu jadi manager.”
“Aneh banget orang itu, jadi bos kok ga tegas.”
Dan lain sebagainya

Di satu sisi, mungkin keluh kesahnya wajar, masuk akal, dan manusiawi. Tetapi itu semua, apapun alasannya, tetap saja merupakan tindakan membicarakan orang lain di belakang orang itu. Dan itu bukanlah tindakan yang bijaksana.

Kini pertanyaan besarnya, jika hal itu terjadi padamu, jika kau harus mendengarkan celotehan dan keluh kesah dari seseorang tentang orang lain yang juga kau kenal, apa yang akan kau lakukan?

Aku pernah gagal di masa lalu. Aku meladeni keluh kesahnya dan malah jatuh ke dalam dosa menggosip. Semua itu kulakukan, sadar tidak sadar karena aku ingin bisa diterima oleh rekan yang berkeluh kesah ini. Tetapi Tuhan menegurku dan sejak saat itu aku hidup dalam kesadaran penuh bahwa aku tidak boleh lagi menggosip.

Sayangnya, aku masih jauh dari sempurna. Jika dibandingkan dengan penggalan film di atas, aku masihlah seorang pengecut. Aku memang sudah tidak lagi menggosip (sesungguhnya aku masih terus belajar) tetapi jika ada orang yang datang padaku untuk menceritakan orang lain di belakang, aku hanya bisa mendengar dia, mungkin mengangguk beberapa kali dan tertawa. Aku tidak menggosip, tetapi sayangnya, apa yang kulakukan tetap saja mendukung orang itu untuk menceritakan kejelekan orang lain.

Ah, aku masihlah pengecut

Tetapi tidak akan kubiarkan perenungan malam ini berlalu begitu saja
Mulai dari detik iniaku harus naik level
Aku harus hidup di dalam kesadaran penuh bahwa aku tidak boleh mengulang hal itu
Aku tidak boleh meladeni segala bentuk gosip dan obrolan “di belakang”
Aku tidak boleh lagi mendengar, mengangguk, dan tertawa dalam menanggapi semua itu

Jika aku tidak sanggup menghentikan gosip itu
Lebih baik aku pergi dari hadapan si penggosip

Ah, aku tahu ini tidak akan mudah
Oh Tuhan, pimpinlah langkahku
Sebab ku tak dapat jalan sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s